,

Ciptakan Skuter Ajaib, Mahasiswa Teknik Industri UII Sabet Juara 1 di UNS

Perkembangan teknologi yang kian hari semakin canggih memotivasi mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) untuk terus berinovasi dalam memberikan karya terbaik bagi Indonesia. Salah satunya tampak dari raihan presatasi mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII di kancah internasional. Tim dari UII yaitu Tim Al-faraby yang terdiri dari Reno Dias Anggara (Teknik Industri 2015), Muhammad Iqbal Sabit (Teknik Industri 2015) dan Adinda Khairunnisa (Teknik Industri 2016) berhasil membawa nama baik UII pada ajang DESCOMFIRST 2018.

Design Competition for Industrial System dan Environment (DESCOMFIRST) 2018 merupakan acara tahunan se- Asia Tenggara yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Industri Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS). Tahun ini, DESCOMFIRST 2018 mengusung tema “Manual Tools for Processing of Agricultural Technology”. Pada babak final, 15 tim yang lolos seleksi berkas proposal diharuskan untuk mempresentasikan hasil dari idenya pada Sabtu, (5/5) di Hotel Sunan Solo. Selain juga menunjukkan hasil karyanya berupa prototype pada kegiatan pameran yang diselenggarakan pada Minggu, (6/05) di Solo Paragon Mall.

Hasil karya mahasiswa UII yang dinamai Go-win berhasil menjadi Juara 1 pada DESCOMFIRST 2018. Go-win merupakan alat yang berupa skuter yang dapat digunakan untuk melakukan pembibitan tanaman pada bidang Agroteknologi. Go-win memiliki kemampuan menggali tanah, menaruh bibit dan mengatur jarak tanam. “Biasanya dalam menanam bibit baru, diperlukan 3 alat yang akan digunakan untuk menggali tanah, menaruh bibit dan alat yang digunakan mengatur jarak tanam. Tapi, kita berhasil menciptakan alat yang mampu digunakan untuk 3 pekerjaan itu sekaligus. Jadi setiap bagian skuter punya perannya masing-masing,” Jelas Iqbal.

Iqbal melanjutkan, Tim Al-faraby mempersiapkan Go-win sejak November 2017. Selama proses persiapan, Tim Al-faraby menyerahkan sepenuhnya kepada vendor untuk pembuatan Go-win yang juga dibantu oleh Jurasan Teknik Mesin UII dalam pembuatan prototypenya. “Kalau untuk prototype kita menyerahkan sepenuhnya ke vendor dan juga dapat bantuan dari Jurusan Teknik Mesin. Kami fokus untuk presentasi,” lanjutnya.

Kedepannya, pada tahun 2019 Tim Al-faraby berencana untuk memproduksi Go-win dan melalukan sosialisasi kepada para petani di desa-desa sehingga akan memudahkan pekerjaan mereka. “Karna Protoypenya ini udah hampir 90% layak untuk digunakan, jadi kami berencana untuk memproduksi tahun depan sehingga para petani bisa secepatnya menggunakannya,” tutupnya. (NI/RS)

FTI UII resmi bekerjasama dengan PT. Inti Ganda Perdana

Fakultas Teknologi Industri UII dan PT. Inti Ganda Perdana (IGP) menandatangai Mou tentang kerjasama magang mahasiswa (9/04/2018). Pendatanganan Mou ini merupakan inisiasi dari 2 prodi, Teknik Industri dan Teknik Mesin FTI UII yang sampai hari ini sudah memasuki tahun ke 3 pelaksanaan program magang. Penandatangan MoU ini merupakan upaya untuk mempererat kerjasama dalam bidang permagangan mahasiswa. PT. Inti Ganda Perdana merupakan anak perusahaan Astra Oto-Parts dibawah naungan Astra Internasional.

Bentuk kerja sama yang dilakukan, merupakan sarana bagi mahasiswa Teknik Industri dan Teknik Mesin FTI UII dalam menerapkan ilmu yang telah diperoleh mahasiswa semasa duduk di bangku kuliah. “Dengan adanya kerja sama ini semoga mahasiswa siap terjun ke dunia industry ketika telah selesai menempuh studi di FTI UII,” ungkap Imam Djati

Prodi Teknik industri UII pada Tahun ajaran 2017-2018 telah mengirimkan 5 mahasiswa magang di PT. IGP. Program magang ini berlangsung selama 6 bulan, di perusahaan mahasiswa akan di berikan project yang telah di tentukan oleh perusahaan.

PT. IGP selama ini concern terhadap pengembangan (improvement), ini merupakan kerjasama yang keskian dengan akademisi, FTI UII dipilih menjadi salah satu partner dalam program magang ini karena mempunyai frame yang sama dengan perusahaan kami. Kami berfikir bahwa dengan adanya mahasiswa magang, dimana secara fikiran mereka masih fresh dan biasanya anak-anak muda mempunyai pemikiran yang inovatif, ini coba kami tangkap kami arahkan dan nantinya ide-ide kreatifnya bisa di implementasikan di perusahaan. Magang bagi mahasiswa juga mempunya manfaat selain pengalaman kerja, mereka setiap minggu akan di evaluasi oleh mentor dan akan masuk ke database jaringan astra group. Ujar Ienez Prameswari, Sebagai Human Development PT. IGP

 

Periodisasi program magang adalah 6 bulan terhitung pada awal semester. Hal ini untuk memudahkan mahasiswa untuk mengelola proses akademiknya di kampus

Tiap pertengahan semester kami akan melakukan sosialisasi melalui website, sosial media yang di miliki prodi untuk menyebarkan informasi. sebulan kemudian setelah mendapatkan informasi kebutuhan dari PT. IGP akan kami umumkan melalui jalur yang sama untuk di lakukan pendaftaran. h-30 kami akan melakukan seleksi, bagi yang di terima akan diberikan pembekalan terkait dengan topik yang akan di kerjakan di perusahaan dan mahasiswa akan di antarkan dan diserahkan ke PT. IGP, ujar Sugarindra, pengelola program magang prodi Teknik Industri

Program magang ini mempunyai banyak manfaat bagi perusahaan, mahasiswa dan Kampus, sehingga program ini terus akan di kembangkan baik pola magang dan link kerjasama dengan perusahaan.

Kuliah Umum Productivity Improvement Kerjasama dengan PT. Inti Ganda Perdana

Prodi Teknik Industri FTI UII menyelenggarakan kuliah umum yang pada kali ini bekerjasama dengan PT Inti Ganda Perdana (PT IGP). Kuliah umum diberikan kepada mahasiswa dengan menghadirkan praktisi akan memberikan wawasan yang lebih luas kepada mahasiswa.

Productivity Improvement merupakan salah satu topik yang menjadi keunggulan Prodi Teknik Industri UII, ujar Yuli Agusti Rochmam, ST., MT. di sela bincang-bincang dengan tim dari PT. Inti Ganda Perdana. Untuk itu kami berkolaborasi dengan dunia industry untuk bisa mendapatkan contoh riil penerapan productivity improvement di industry.

Acara yang dilaksanakan di Ruang Audio Visual FTI UII (09/04/18) ini dihadiri dosen dan mahasiswa teknik industri dan teknik mesin FTI UII. Hadir dari PT. IGP adalah Bapak Kingwan Head of Dept. Learning Center PT. IGP.

Productivity improvement, merupakan hal yang sangat penting dari dunis industry dalam menghadapi persaingan. Dimana perusahaan harus berlomba-lomba untuk meningkatkan produktifitasnya dengan cara memperbaiki proses dari hulu ke hilir. Di IGP kami mempunyai learning center yang bertujuan untuk mengkaji dan meneliti proses produksi. Keyword agar bisa bertahan adalah improvement ujar beliau pada saat menyampaikan kuliah umumnya.

Pada Kuliah umum ini di barengi dengan penandatanganan MoU antar kedua belah pihak (Baca Pendandatanganan Mou kerjasama FTI UII dan PT. IGP)

Silaturahmi Teknik Industri UII dengan Orang Tua Mahasiswa

Program studi (prodi) Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (UII) adakan silaturahmi bersama para orangtua atau wali mahasiswa angkatan 2017 di Gedung Olahraga Ki Bagoes Hadikoesoemo pada Sabtu (10/02). Acara ini merupakan sesi paralel dari rangkaian acara “Temu Orang Tua dan Wali Angkatan 2017” yang diselenggarakan oleh FTI UII. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala prodi Teknik Industri UII, Yuli Agusti Rochman, S.T., M.Eng., beserta dosen pengajar di Teknik Industri UII.

Diawal pemaparannya, Yuli menjelaskan tentang profil lulusan Teknik Industri UII, visi-misi Teknik Industri UII, struktur pimpinan prodi, dan dosen-dosen yang mengajar di Teknik Industri. Selanjutnya Yuli menyampaikan bagaimana alur perkuliahan, kurikulum di Teknik Industri UII, batas waktu studi, evaluasi kuliah serta kegiatan ektrakurikuler yang bisa diikuti oleh para mahasiswa.

Selain itu, Yuli juga menuturkan program-program unggulan yang dimiliki oleh prodi Teknik Industri. Pertama, program kerjasama magang. “Setelah mengikuti program magang, perusahaan akan mengeluarkan surat keterangan magang, yang mana itu sangat berguna ketika nanti melamar ke perusahaan-perusahaan”, ujarnya.

Kedua, kerjasama dengan beberapa universitas di Taiwan untuk melanjutkan studi S2 atau S3. Sehingga bila ada mahasiswa yang berminat untuk melanjutkan studinya, selama kualifikasi yang dibutuhkan terpenuhi, maka bisa bisa menggunakan jalur kerjasama tersebut, untuk melanjutkan studinya dengan beasiswa. Ada pula beberapa mahasiswa yang di Saxion University, Belanda mengikuti program kerjasama dual degree, serta lainnya.

“Kami mengucapkan terima kasih, karena telah memberikan kepercayaan, menitipkan putra-putri bapak ibu sekalian untuk menempuh pendidikan di UII, khususnya di Teknik Industri UII”, tutupnya.

Setelah sesi pemaparan, dilanjutkan dengan dialog bersama wali mahasiswa dengan pimpinan prodi. Lalu masing-masing orang tua atau wali mahasiswa yang hadir bertemu dengan Dosen Pembimbing Akademik (DPA) putra-putri mereka.

Salah satu orang tua mahasiswa, Humam Mahmudi, menanggapi kegiatan ini dengan positif, Ia sangat antusias mengikuti forum silaturahmi tersebut. “Dengan adanya acara seperti ini, kami bisa bertemu langsung dengan dosen dan wali mahasiswa lain, yang tadinya tidak kenal bisa saling mengenal, dan juga menambah jaringan”, tuturnya

Humam yang ternyata merupakan alumni dari Teknik Industri UII angkatan pertama ’92, berpesan kepada adik-adik yang sedang menempuh kuliah di TI UII, “perlunya untuk bisa mensinergikan ilmu yang didapat dengan kemampuan me-manage orang dengan berorganisasi, kemudian juga meningkatkan kemampuan berbahasa asing”, serunya.

Teknik Industri UII Terima Kunjungan Universitas Tridinarti Palembang

Teknik Industri Universitas Tridinarti Palembang (UTP) lakukan studi banding ke Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (UII) pada Kamis (08/02) di Gedung K.H. Mas Mansur FTI UII. Para peserta studi banding yang terdiri dari mahasiswa, tour leader dan dosen pendamping dari UTP, berjumlah 35 orang.

Kunjungan yang dilakukan terbagi menjadi dua sesi. Sesi yang pertama yaitu pemaparan tentang Teknik Industri UII oleh Yuli Agusti Rochman, S.T., M.Eng., selaku Kepala Prodi Teknik Industri UII dan sesi yang kedua yaitu kunjungan ke laboratorium-laboratorium yang ada di Teknik Industri UII, seperti Lab. Desain Sistem Kerja dan Ergonomi (DSKE), Lab. Inovasi dan Pengembangan Organisasi, Lab. Sistem Manufaktur (Siman), serta lainnya.

Mahmud Basuki, S.T., M.T., yang merupakan salah seorang dosen Teknik Industri UTP menjelaskan, bahwasanya studi banding yang dilakukan dalam rangka Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mahasiswa Teknik Industri UTP. Selain itu Mahmud sendiri ternyata merupakan alumni dari program Master Teknik Industri UII.

Dalam pemaparannya, Yuli menjelaskan tentang bagaimana profil lulusan Teknik Industri UII, Visi-Misi Teknik Industri UII, lalu sharing tentang program kerjasama magang, serta bagaimana menjalin relasi dengan para Alumni dari Teknik Industri UII.

Sementara itu, pada saat sesi kunjugnan lab, para peserta studi banding mendapat penjelasan dari asisten di tiap-tiap lab yang dikunjungi, mulai dari pengenalan software apa saja yang digunakan serta alat-alat yang ada di tiap lab-lab tersebu

Salah satu peserta studi banding, Deni Amirwansyah mengungkapkan bahwa dirinya sangat antusias dengan adanya kegiatan studi banding ini, “Peralatan di Teknik Industri UII ini sangat lengkap, sistem pengajarannya juga bagus”, ujarnya. Dari adanya kunjungan ini, ia pun tertarik untuk melanjutkan studi S2 ke Teknik Industri UII.

“Dengan adanya studi banding ini, harapannya mampu menambah wawasan, pengembangan diri, serta apa yang telah didapatkan disini bisa diterapkan di Universitas Tridinarti Palembang”, ujar Mahmud. Setelah dari UII, para peserta studi banding akan melanjutkan kunjungan ke PT. Madu Baru, Yogyakarta.

MENGAJAR SEBAGAI “LADANG AMAL”; SEBUAH AUTO KRITIK

Mengajar adalah salah satu tugas pokok dosen di samping penelitian, pengabdian masyarakat, dan dakwah Islamiyah. Sebagai dosen yang beragama Islam, mengajar bagi kita bukan hanya menjadi mata pencaharian tapi juga merupakan suatu ibadah. Pertanyaan yang kemudian muncul, bagaimana caranya agar mengajar tidak hanya sekedar menjadi “ladang uang”, namun juga bisa menjadi “ladang amal” untuk kita?

Keutamaan mengajar
Beruntunglah orang-orang yang berilmu. Allah SWT meninggikan derajatnya di atas manusia rata-rata. Sebuah nikmat yang tidak bisa dimiliki oleh semua orang. Oleh sebab itu, wajar jika orang yang berilmu dituntut tanggung jawab lebih karena ilmu yang dimiliki. Di satu pihak ilmu adalah nikmat untuknya, di pihak lain ilmu adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

“…. niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat….” (Q.S. Al-Mujadilah : 11).

Menyampaikan ilmu dan menyebarluaskannya kepada orang lain hukumnya wajib. Allah SWT berfirman:

“…. Dan Kami turunkan kepadamu az-Zikr (al-Quran) agar kamu terangkan kepada para manusia apa yang akan diturunkan kepada mereka, dan agar mereka berpikir.” (Q.S. An-Nahl : 44)

Ada banyak keutamaan orang yang berilmu dan mengajarkan ilmu yang disebutkan dalam Al Quran dan Al Hadits. Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Keutamaan seorang yang berilmu atau ahli ibadah adalah sebagaimana keutamaanku atas orang yang terendah dari kalian.”

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang soleh.” (HR. Muslim)

“Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima, maka engkau akan celaka.” (HR. Baihaqi)

Re-orientasi niat mengajar
Mencermati nash-nash tentang keutamaan mengajarkan ilmu, sebagai dosen harusnya kita menumbuhkan kesadaran dalam memperbanyak bekal amal shaleh. Re-orientasi niat mengajar adalah salah satu cara untuk itu. Jika selama ini mengajar kita lakukan untuk menggugurkan kewajiban, maka niat itu sekarang harus kita perbaiki, mengajar adalah proses mengolah “ladang amal”. Karena kebahagiaan hanya dapat diraih dengan amal kebaikan dan menyebarkan manfaat kepada orang lain.
Sebagaimana kita pahami, ilmu adalah investasi yang abadi. Rasulullah SAW telah menggambarkan, ilmu tidak pernah berkurang saat dibagi, bahkan bisa melimpah dengan berkahnya. Ilmu tidak akan habis atau hilang walau dibagi semuanya kepada orang lain. Pahala ilmu tidak akan terhenti meski pemiliknya meninggal dunia.

Adab dalam mengajar
Calon mahasiswa di awal perkuliahan biasanya mendapatkan materi adab dalam belajar, idealnya calon dosen atau dosen pemula juga mendapatkan materi adab dalam mengajar. Sayangnya, dalam kegiatan pra-jabatan dosen lebih menekankan pada materi metode mengajar daripada adab mengajar. Metode dengan adab mengajar dua hal yang berbeda. Adab mengajar untuk menghadirkan jiwa dosen dalam sebuah kelas, sedangkan metode adalah cara mengajar.
Mengadopsi adab mengajar K.H. Hasyim Asyari yang ditulis oleh Ilham Kadir, berikut ini beberapa adab yang perlu kita perhatikan dalam rangka menjadikan kegiatan mengajar sebagai proses mengolah “ladang amal”:
1. Berniat mendidik dan menyebarkan ilmu pengetahuan
2. Menghindarkan ketidakikhlasan dan mengejar keduniawian
3. Hendaknya selalu melakukan muhasabah (instropeksi diri)
4. Menggunakan metode yang mudah dipahami
5. Membangkitkan antusias mahasiswa dan memotivasinya
6. Memberikan latihan-latihan yang sifatnya membantu
7. Selalu memperhatikan kemampuan mahasiswa
8. Tidak terlalu mengorbitkan salah seorang mahasiswa dan menafikan yang lainnya
9. Mengarahkan minat mahasiswa
10. Bersikap terbuka dan lapang dada terhadap mahasiswa
11. Membantu memecahkan masalah dan kesulitan mahasiswa
12. Bila ada mahasiswa yang berhalangan hendaknya mencari hal ikhwal kepada teman-temannya
13. Tunjukkan sikap arif dan penyayang kepada mahasiswa
14. Selalu rendah hati, tawadhu

Mengajar dengan jiwa
Ada mahfudzat yang berbunyi: Ath-thariqah ahammu minal madah (metode lebih penting dari materi ajar/kurikulum), al-mudarris ahammu min ath-thariqah (pengajar lebih penting dari metode), wa ruhul mudarris ahammdu min mudarris (jiwa pengajar lebih bermakna dari pengajar). Ini sesuai dengan pendapat Sir Pency Nunn, guru besar pendidikan di University of London yang mengatakan bahwa baik buruknya suatu pendidikan tergantung kebaikan, kebijakan, dan kecerdasan pengajar.
Menurut Adian Husaini, jiwa pengajar adalah kunci kemajuan pendidikan sekaligus kemajuan bangsa. Jiwa yang sehat adalah jiwa yang bersih dari penyakit syirik, dengki, riya’, nifak, sombong, cinta dunia, gila jabatan, penakut, lemah semangat, dan sebagainya.

Meningkatkan pengetahuan
Setiap muslim mempunyai dua kewajiban yang berkaitan dengan ilmu, yaitu belajar dan mengajar. Mengajarkan ilmu itu wajib, demikian juga mencari ilmu juga wajib. Hal ini tentu saja berlaku bagi kita sebagai dosen. Memperbanyak modal ilmu adalah kewajiban kita. Seluas ilmu yang kita miliki sebentang itu pula manfaat ilmu yang dapat kita tebar.
Ada sebuah ungkapan yang berbunyi, faqidu asy-syai la yu’thi (orang yang tidak memiliki sesuatu tidak mungkin bisa memberikan sesuatu). Oleh karena itu, meningkatkan pengetahuan harus selalu kita lakukan agar kita bisa memberi lebih banyak manfaat.

Kembangkan kemampuan menulis dan publikasi
Para salafus shaleh dan ulama-ulama kita adalah generasi yang sangat produktif dalam membuat tulisan. Ribuan kitab yang menjadi rujukan umat Islam dalam hal tafsir, fiqih, aqidah, ahlak, serta ilmu pengetahuan alam, merupakan buah karya dari tradisi ilmu yang dimiliki oleh ulama-ulama kita di masa lalu dan hingga kini menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan modern. Dengan teladan ini seharusnya kita sebagai dosen lebih produktif dalam melahirkan tulisan-tulisan yang bermanfaat.
Fathul Wahid mengatakan, slogan “publish or perish” (publikasi atau mati mendadak) sangat terkenal di kalangan akademisi Amerika. Menurutnya, publikasi memegang peranan sangat penting dalam tradisi keilmuan. Dengan publikasi itu, hasil-hasil penelitian dapat disampaikan kepada audien yang lebih luas, dan akan membuka pintu kemanfaatan yang lebih lebar.

Mahasiswa sebagai partnership
Dalam usaha memperbanyak modal ilmu, sebaiknya mahasiswa kita libatkan. Mahasiswa hendaknya tidak lagi menjadi obyek namun dijadikan subyek dalam kegiatan perkuliahan, sehingga proses transfer ilmu pengetahuan bisa terjadi dalam dua arah. Dengan kata lain, mahasiswa adalah partnership kita dalam meningkatkan pengetahuan. Caranya adalah dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menyampaikan topik yang telah mereka pelajari terlebih dahulu sebelum kita memberikan materi kuliah. Berdasarkan pengalaman, ada banyak pengetahuan baru yang bisa diperoleh dari apa yang disampaikan mahasiswa, yang tidak penulis dapatkan sebelumnya. Memberikan pujian dan nilai yang baik kepada mereka adalah bentuk-bentuk penghargaan yang bisa kita berikan. Biasanya mahasiswa akan lebih antusias dan termotivasi untuk belajar. Tentu saja belajar mandiri tetap harus selalu dilakukan oleh setiap dosen.
Sekali lagi kita ingat, setiap kita wajib menjadi pengajar atau pembelajar atau keduanya. Allah berfirman dalam Al Quran Surah Ali Imran ayat 79:

“…. Hendaknya kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”

Wallahu a’lam bishawab

 

Penulis:

Qurtubi, ST., MT.
Dosen Teknik Industri

Universitas Muhammadiah Palembang, Studi Banding ke Teknik Industri UII

Program Studi Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (UII) menerima kunjungan studi banding dari Teknik Industri Universitas Muhammadiah Palembang (UMP) di Gedung K.H. Mas Mansur UII pada Rabu (07/02). Para peseta kunjungan yang berjumlah 62 orang terdiri dari mahasiswa dan dosen Teknik Industri UMP. Dalam kunjungan ini turut hadir dosen dan laboran Teknik Industri UII.

Pada kunjungan ini terdapat dua sesi yakni, sesi pemaparan materi tentang Teknik Indsutri (TI) UII oleh Kepala prodi TI UII, Yuli Agusti Rochman, S.T., M.Eng., kemudian dilanjutkan dengan sesi kunjungan ke laboratorium-laboratorium yang ada di TI UII seperti Lab. Sistem Manufaktur (Siman), Lab. Desain Sistem Kerja dan Ergonomi (DSKE), Lab. Inovasi dan Pengembangan Organisasi, serta lainnya.

Dalam pemaparannya, Yuli menjelaskan tentang bagaimana profil lulusan Teknik Industri UII dirumuskan untuk mencapai Visi-Misi Teknik Industri UII yang telah di tetapkan, lalu sharing tentang program kerjasama magang, serta bagaimana menjalin relasi dengan para Alumni dari Teknik Industri UII. “Profi dan ciri Teknik Industri UII sendiri terletak pada bagaimana productivity improvement ”, tuturnya.

Usai sesi pemaparan materi, kemudian dilanjutkan dengan pemberian cinderamata. Pada saat sesi kunjungan lab, para peserta studi banding mendapat penjelasan dari asisten di tiap-tiap lab yang dikunjungi, mulai dari pengenalan software apa saja yang digunakan serta alat-alat yang ada di tiap lab-lab tersebut.

Para peserta kunjungan yang hadir terlihat sangat antusias mengikuti jalannya rangkaian acara yang berlangsung

ANALISA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM PERSPEKTIF ILMIAH DAN ISLAM

Ujian atau masalah merupakan sesuatu yang kita hadapi setiap hari. Allah SWT menghendaki keadaan manusia berbeda-beda sebagai sebuah ujian. Ujian kesulitan, ujian kehilangan, kekurangan, musibah, penyakit, kemiskinan adalah masalah biasa yang dihadapi oleh manusia selama hidup di dunia ini. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang meminta kepada Allah untuk hidup susah, namun berhatikanlah firman Allah berikut ini,

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” [QS. Al-Ankabut : 2-3]

Melalui ayat ini, Allah menjelaskan bahwa setiap orang yang beriman pasti akan diberi ujian ataupun masalah, dan ketika dihadapkan pada sebuah masalah, manusia akan dihadapkan pada proses pengambilan keputusan terkait dengan pemecahan masalah tersebut. Sikap seseorang dalam menghadapi sebuah permasalahan tentu saja berbeda-beda, proses seseorang dalam pengambilan keputusan pun juga bermacam-macam.

Pengambilan keputusan dapat diartikan sebagai suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari banyak alternatif dengan cara yang dianggap paling efisien sesuai dengan situasi. Ada banyak pendekatan yang dapat dilakukan untuk menilai mana alternatif terbaik. Beberapa orang menggunakan pendekatan qualitatif dalam proses pengambilan keputusan. Pendekatan ini bisanya dilakukan dengan focus group discussion, expert judgement, berdasarkan pengalaman pribadi, atau bahkan hanya dengan berdasarkan insting pribadi. Jika masalah yang dihadapi tidak terlalu rumit, atau orang yang berada dalam proses pengambilan keputusan tersebut dirasa sudah cukup ilmu dalam melakukan pertimbangan pemecahan masalah, maka pendekatan ini bisa dilakukan karena dirasa lebih cepat dan mudah. Akan tetapi jika masalah yang dihadapi lebih kompleks, dan orang-orang yang berada pada proses pengambilan keputusan masih memerlukan banyak informasi, maka pendekatan quantitatif dapat dilakukan. Pendekatan quantitatf ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data yang mendukung proses pengambilan keputusan dan data-data tersebut kemudian dianalisa dengan cara yang sistematis dengan menggunakan sebuah metode pengambilan keputusan. Menurut teori popular analisa keputusan, ada banyak metode yang dapat digunakan antara lain SAW, TOPSIS, AHP, dan ANP. Metode-metode tersebut biasanya dikaitkan dengan teknik Multiple Criteria Decision Making (MCDM) atau pengambilan keputusan dengan melibatkan banyak kriteria. Kriteria merupakan parameter yang digunakan sebagai landasan dalam membandingkan alternatif dalam pengambilan keputusan. Sebagai contoh, masalah yang kita hadapi adalah memilih jodoh. Misalnya kita sudah memiliki alternatif A, B, dan C yang bisa kita pilih sebagai orang yang akan dinikahi. Dalam proses pengambilan keputusan ini, kita membandingkan ketiganya berdasarkan kriteria agama, pendidikan, perkerjaan, dan fisik. Jika menggunakan pendekatan qualitatif, kita dapat bertanya dengan orang yang dirasa lebih berpengalaman (expert judgement), atau kita bisa mengambil keputusan berdasarkan pengalaman atau insting tanpa melakukan perhitungan apapun. Namun jika menggunakan pendekatan quantitatif misalnya dengan AHP, maka kita harus melakukan analisa yang cukup panjang. Pertama harus membuat kuesioner terkait dengan penilaian terhadap kriteria dan alternatif menggunakan perbandingan berpasangan (pairwise comparison), kemudian meminta beberapa orang yang mengenal ketiga orang tersebut untuk melakukan penilaian, kemudian melakukan perhitungan berdasarkan hasil kuesioner hingga didapatkan rangking dari tiga alternatif tersebut. Sehingga dengan hasil tersebut membantu kita dalam menentukan mana kira-kira jodoh terbaik.

Cara pengambilan keputusan yang telah dibahas sebelumnya, merupakan pendekatan yang biasa dilakukan dalam perpektif ilmiah. Kemudian bagaimana proses pengambilan keputusan dalam perspektif Islam? Pendekatan qualitatif maupun quantitatif semuanya dilakukan dengan pendekatan ilmiah yang melibatkan penilaian manusia (human judgement). Kita sebagai umat Islam, berdasarkan QS. Al-Ankabut: 2-3 yang telah disebutkan diatas, meyakini bahwa setiap masalah yang ada adalah datang dari Allah, dalam mencari solusi pemecahannya pun seharusnya kita juga melibatkan Allah. Tidak ada salahnya menggunakan human judgment dalam pengambilan keputusan, tapi kita tetap harus yakin bahwa Allah-lah sebaik-baiknya pemberi keputusan.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” [QS. Al-Baqarah : 216]

Jelas disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 216 tersebut, bahwa Allah-lah sebaik-baiknya tempat kembali ketika kita dihadapkan pada sebuah masalah dan pada sebuah proses pengambilan keputusan. Tidak jarang dari kita kemudian melakukan sholat Istikharah untuk melibatkan Allah dalam setiap pencarian solusi setiap masalah kita. Nabi Muhammad SAW, bersabda

” Jika Salah seorang  diantara kalian berniat dalam suatu urusan maka lakukanlah Shalat Sunah dua Raka’at yang bukan Shalat Wajib, kemudian bedoalah meminta kepada Alloh” [HR. AL – Bukhari]

Dengan melakukan sholat istikharah, diharapkan dapat menghindarkan kita dari sifat subjekti dan mementingkan hawa nafsu. Dengan shalat istikharah juga dapat menghilangkan keragu-raguan dan memunculkan kemantapan hati dalam memilih alternatif terbaik.

Jika dalam perspektif ilmiah dikenal istilah focus group discussion sebagai salah satu cara dalam mengambil keputusan terhadap suatu masalah, istilah ini dalam Islam disebut sebagai musyawarah. Di dalam musyawah pun tetap harus melibatkan Allah. Keputusan yang diambil tentu merupakan keputusan bersama bukan karena kepentingan sepihak dan tentu saja berlandaskan pada nilai-nilai kebenaran yang tercantum baik dalam Al-Qur’an maupun Sunnah Rasul. Islam mengatur bahwa dalam musyawah perlu memegang prinsip adil, amanah, istiqamah, dan jujur. Adil berarti tidak berat sebelah atau tidak hanya memperhatikan kepentingan suatu pihak, amanah berarti ketika keputusan telah diambil maka kita memiliki tanggung jawab dalam pelaksanaan keputusan tersebut dikemudian hari, istiqamah berarti memiliki keteguhan hati untuk dapat melaksanakan keputusan tersebut sesuai dengan syariat Islam, sedangkan prinsip yang terakhir berarti kita harus selalu bersikap jujur termasuk dalam proses pengambilan keputusan maupun melaksanakan hasil keputusan. Dalam QS. Ali Imran: I59 Allah berfirman,

“Maka disebabkan rahmat dari Allah swt-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, dan apabila kamu telah membulatkan tekad maka berdakwahlah kepada Allah swt, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” [QS. Ali Imran: I59]

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa dalam pengambilan keputusan tentu akan terjadi banyak perbedaan pendapat, dan kita diperintahkan untuk tetap berlaku lemah lembut terhadap pihak yang berselisih pendapat dengan kita. Dalam bermusyawarah pun kita diperintahkan untuk bertekad bulat untuk melaksanakannya sesuai dengan syariat sebagai bentuk taqwa kepada Allah, dan ketika telah dicapai kesepakan makan kita harus harus bertanggung jawab terhadap keputusan tersebut.

Dari penjelasan yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik sebagai solusi dari setiap permasalahan yang kita hadapi. Kita dapat melakukan pengambilan keputusan dengan pendekatan apapun. Tidak salah jika kita menggunakan human judgement dalam proses pemilihan keputusan karena terdapat ilmu yang mengatur hal tersebut, namun yang terpenting adalah bahwa kita harus selalu melibatkan Allah dalam setiap usaha pencarian solusi kita. Sebagai seorang muslim kita meyakini bahwa setiap masalah datang dari Allah, dan harusnya kepada-Nya lah kita mengembalikan segala keputusan. Sebaik-baiknya metode yang kita gunakan, sebaik-baiknya analisa data yang kita lakukan, sudah pasti bahwa Allah lah yang lebih mengetahui mana yang terbaik untuk kita.

 

Penulis

Annisa Uswatun Khasanah, ST., M.Sc.

Dosen Teknik Industri UII

Interest pada Ekonomika Industri dalam Perspektif Islam

Ilmu ekonomi adalah cabang ilmu yang mempelajari bagaimana manusia atau masyarakat menggunakan sumber daya yang terbatas dalam rangka memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas dalam bentuk konsumsi produk dan jasa baik saat ini maupun dimasa mendatang (future consumption). Ekonomi teknik atau ekonomika teknik adalah mata kuliah yang mempelajari pengambilan keputusan dengan menggunakan teknik-teknik dalam ilmu ekonomi untuk menilai alternatif-alternatif dalam dunia rekayasa (engineering). Dalam ekonomika teknik, seorang pengambil keputusan perlu mengembangkan beberapa pilihan dengan memperhatikan optimasi efektifitas biaya yang timbul dari pilihan tersebut. Teknik-teknik yang dimaksud adalah:

  1. Net Present Value (NPV), yaitu estimasi neto nilai arus kas selama umur proyek/ umur ekonomis yang dikonversi ke nilai sekarang.
  2. Payback Period, yaitu periode yang dibutuhkan untuk mengembalikan seluruh nilai investasi .
  3. Return on Investment (ROI) atau dalam istilah lain juga dikenal sebagai Rate of Return (ROR), yaitu indikator pengukuran kinerja investasi. ROI adalah rasio yang membandingkan pendapatan dari investasi terhadap nilai investasi itu sendiri.
  4. Internal Rate of Return (IRR) atau sering juga disebut sebagai Economic Rate of Return (ERR), yaitu nilai diskonto (i) ketika NPV bernilai nol.
  5. Benefit Cost Rasio (B/C Ratio), yaitu rasio yang membandingkan nilai manfaat dengan biaya yang dikeluarkan.

Teknik penilaian di atas, memandang interest (i) sebagai variabel yang memegang peran penting dalam mempertimbangkan alternatif-alternatif keputusan. Interest atau bunga dalam bahasa Indonesia, terlahir melalui konsep nilai waktu dari uang atau Time Value of Money (TVM). Uang sering kali didefinisikan sebagai sesuatu yang disepakati oleh masyarakat sebagai alat tukar menggantikan sistem barter yang lebih dahulu dikenal sebelumnya. Konsep TVM memandang bahwa nilai uang merupakan fungsi dari waktu. Artinya, nilai uang pada saat ini (t) akan lebih berharga daripada nilai uang dimasa mendatang (t+n). Hal tersebut menyebabkan ketika uang digunakan untuk memenuhi sebuah kebutuhan, akan ada kesempatan yang hilang daripada sekedar disimpan. Sebagai tambahan, uang merupakan sumber daya yang terbatas, maka pemilik uang harus berhati-hati dalam menggunakannya. Oleh karena itu, ketika mengalokasikan uangnya untuk keperluan tertentu, seseorang atau sebuah organisasi perlu yakin bahwa dimasa mendatang dirinya akan mendapatkan uang dengan nilai yang lebih besar dari sekarang. Dari pemahaman tersebut maka lahirlah adagium bahwa bunga (i) merupakan harga dari uang. Inilah yang menjadi argumen rasional dari berlakunya bunga di tingkat strategis, operasional dan taktis pada sistem perekonomian global.

Bagaimana pandangan Islam mengenai TMV? Sebagian pihak yang membolehkan bunga dalam skema investasi bersandar pada dalil-dalil mengenai hutang dan kemalangan ketika hutang tidak dibayar/ terbayar saat manusia meninggal dunia.

  1. “Terbunuh di jalan Allah menghapuskan seluruhnya kecuali hutang” HR Muslim.
  2. “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam didatangkan kepada beliau jenazah, maka beliau berkata, “Apakah dia memiliki hutang?”. Mereka mengatakan, “Tidak”. Maka Nabipun menyolatkannya. Lalu didatangkan janazah yang lain, maka Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam berkata, “Apakah ia memiliki hutang?”, mereka mengatakan, “Iya”, Nabi berkata, “Sholatkanlah saudara kalian”. Abu Qotadah berkata, “Aku yang menanggung hutangnya wahai Rasulullah”. Maka Nabipun menyolatkannya” HR Bukhari

Hadits-hadits tersebut mengimplikasikan adanya berharganya nilai uang saat ini (jika hutang berbentuk uang). Singkatnya, hal itulah yang membuktikan adanya konsep TMV dalam Islam. Namun, argumen ini memiliki kelemahan yaitu kenyataan bahwa hutang berbeda dengan investasi. Investasi merupakan penyertaan modal dalam sebuah usaha bersama. Investor akan mendapatkan sebagian/ seluruh keuntungan ketika usaha tersebut berhasil dan akan menanggung sebagian/ seluruh kerugian ketika usaha tersebut gagal. Sedangkan hutang adalah sejumlah uang atau barang yang harus dikembalikan dengan jumlah yang sama dalam waktu yang telah ditentukan sebelumnya.

Selain itu, Allah telah jelas melarang praktik muamalah apapun yang mengandung unsur riba. “Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat) bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah [2]: 275). Apabila dipandang dan dipahami bahwa bunga (i) adalah bentuk tambahan dari kegiatan investasi yang harus didapatkan seorang investor, maka interest merupakan salah satu bentuk riba.

Dalam ekonomika dikenal juga sebuah konsep tentang inflasi. Inflasi adalah kondisi dimana harga barang/ jasa mengalami kenaikan dari waktu ke waktu. Suatu saat di Madinah terjadi kenaikan harga yang meresahkan, sahabat meminta Rasulullah SAW untuk menetapkan harga. Kemudian Rasulullah SAW bersabda ”Sesungguhnya Allahlah yang menentukan harga, yang menahan dan melapangkan dan memberi rezeki. Sangat aku harapkan bahwa kelak aku menemui Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntutku tentang kezaliman dalam darah maupun harta.” HR Abu Daud & Tirmidzi. Dengan demikian, Islam juga mengakui adanya TMV yang secara alamiah terjadi akibat inflasi, sesuatu yang juga terjadi dimasa Rasulullah SAW.

Dengan demikian, interest pada ekonomika teknik dalam perspektif Islam tidak boleh dipandang sebagai tambahan nilai yang harus didapatkan ketika membuat keputusan investasi. Karena hal itu menjadikan keputusan investasi menjadi ribawi. Interest harus dipandang sebagai besaran yang perlu diwaspadai karena ancaman inflasi yang akan menurunkan nilai investasi yang dilakukan.

Wallahu a’lam bishowab

 

Penulis
Joko Sulistio, ST., M.Sc

Dosen Teknik Industri UII

EXPO DPTI, Ajang Inovasi Mahasiswa Teknik Industri UII

EXPO DPTI

Di tengah perkembangan industri dunia yang begitu cepat dan masif menuju revolusi industri 4.0, desain produk menjadi komponen pembaharuan zaman yang begitu vital. Berangkat dari hal tersbut laboratorium Sistem Manufaktur (Siman) Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (UII) selenggarakan Product Design Exposition Big Project Dasar Perancangan Teknik Industri (DPTI) 2017. Kegiatan yang diselenggarakan pada 28-29 Desember 2017 di Hall Gedung KH. Mas Mansur UII membawa jargon “heal the world through product design innovation”.

Terdapat enam cabang kategori yang dilombakan pada Expo DPTI 2017, yakni crime prevention, disability equipment, safety equipment, medical equipment, farm tool dan agricultural technology. Sebanyak 94 tim ikut serta pada expo pada tahun ini dengan 94 desain produk berbeda yang ditampilkan, yang kesemuanya merupakan produk mahasiswa baru teknik industri UII.

Danang selaku koordinator asisten Lab. Siman TI UII menuturkan, expo ini merupakan salah satu acara tahunan yang diselenggarakan setiap akhir semester setelah para praktikan 2017 selesai melaksanakan praktikum mata kuliah DPTI, kemudian diberikan big project. “Output dari big project tersebut lalu dipamerkan pada expo hari ini, sebagai suatu kebanggaan terhadap hasil kerja keras mereka,” ujarnya.

Lebih lanjut Danang menjelaskan mengapa cabang kategori tersebut yang dilombakan, karena isu-isu yang terkait memang sedang membutuhkan inovasi, seperti medical equipment. “Mungkin sudah banyak alat-alat kesehatan, namun alat seperti apa sih yang bisa di inovasikan lagi dari alat yang sudah ada tersebut,” tuturnya. Selain itu, output dari big project ini diharapkan juga bisa di ikut sertakan pada lomba-lomba berkaitan.

Terdapat beragam desain produk yang ditampilkan, salah satunya yaitu Artefact “Automatic-Fit Baby Carrier” yang merupakan gendongan bayi yang dirancang untuk para ibu yang memiliki keterbatasan fisik (difabel) khususnya pada bagian tangan yang dapat meerkat sempurna secara otomatis menyesuaikan dengan bentuk tubuh bayi dan ibu tanpa mengurangi ruang dan keluwesan gerak. Artefact menggunakan system auto-fit dengan cara kerja wind chart.

Desain produk lain yang tidak kalah menarik yaitu Helga “High Computerized Blind Glasses”. Sebuah kacamata bantu untuk penyandang tunanetra yang memiliki fitur kamera 200 MP dengan resolusi 8K surrounding pada layar. Fungsinya adalah untuk membantu para tunanetra melakukan aktivitas sehari-hari.

Kepala Lab. Siman TI UII, Muchamad Sugarindra menilai dari ajang seperti ini dapat terlihat bahwasanya setiap mahasiswa itu memiliki potensi. Poinnya adalah bagaimana kita memberikan challenge kepada mahasiwa dengan cara seperti ini. “Terbukti ternyata banyak kreativitas yang muncul. Istilahnya itu memaksa mereka untuk berkreasi,” ungkapnya.

Selain itu, Sugarindra menjelaskan, dari produk-produk yang ditampilkan ternyata banyak yang cukup inovatif. “Lumayan untuk mahasiswa semester satu, meskipun belum memperhatikan konsep desain secara utuh, namun bagaimana menuangkan ide kedalam gambar itu merupakan salah satu tujuan yang diberikan dalam mata kuliah DPTI ini,” tandasnya.

Bahkan ada ide yang berangkat dari kompetisi ini diikutkan di ajang Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM),” imbuh Sugarindra. Jalannya kegiatan Product Design Exposition Big Project diakhiri dengan pengumuman para pemenang expo DPTI 2017. (MDP/RS)