Tingkatkan Efisiensi Produksi Batik Tulis, Mahasiswa UII Kenalkan Alat Canting Pantograf

Batik sebagai warisan budaya luhur bangsa Indonesia, telah diakui sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh badan PBB, UNESCO. Meskipun demikian, minat untuk mengembangkan dan melestarikan tradisi membatik, khususnya batik tulis dinilai masih kurang. Hal ini salah satunya disebabkan oleh proses pembuatan batik tulis sendiri yang memang rumit, membutuhkan waktu yang panjang, dan keahlian khusus. Oleh karenanya, pengrajin biasanya membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk menyelesaikan sebuah produk batik tulis. Padahal di sisi lain, permintaan pasar terhadap batik tulis cenderung tinggi sehingga pengrajin cenderung kewalahan dalam memenuhinya.

Namun nampaknya realitas tersebut justru memancing munculnya ide inovatif dari sekelompok mahasiswa Teknik Industri UII. Mereka menemukan cara untuk meningkatkan efisiensi produksi batik tulis tanpa meninggalkan tradisi pembuatan batik yang telah berlangsung turun temurun. Caranya adalah dengan menciptakan sebuah alat bernama Canting Pantograf yang memadukan teknologi modern dengan tradisi penggunaan canting dalam membuat batik tulis. Dengan teknologi yang diterapkan, alat ini mampu meningkatkan efisiensi produksi batik tulis sehingga dalam waktu yang lebih cepat mampu menghasilkan produk batik yang berkualitas.

Disampaikan oleh Rizqi Ramadhani, salah seorang mahasiswa UII pencetus alat ini bahwa ide untuk menciptakan canting pantograf berawal dari kepedulian mereka terhadap kelangsungan industri batik tradisional yang ada di Yogyakarta. “Membatik dengan canting tradisional membutuhkan keahlian dan waktu yang lama. Sementara, regenerasi pengrajin tradisi batik tulis ini semakin menyusut”, keluhnya. Di sisi lain, persaingan industri dengan derasnya produk batik murah impor juga semakin mendesak industri batik tulis tradisional. Dari sinilah, ia bersama dua rekannya, yakni Nabila Noor Qisthani dan Adhe Rizky Anugerah semakin tergerak untuk menciptakan alat ini.

Cara kerja dari alat canting pantograf sebenarnya mengadopsi cara kerja pantograf yang banyak dipakai untuk menyalin peta. Caranya yaitu dengan menyalin pola batik yang telah digambar sebagai model kemudian memproyeksikannya secara cermat ke dalam gambar lain yang lebih besar. Alat canting di ujung pantograf berfungsi layaknya bulpen yang melukis dan menuangkan malam panas di atas kain yang ingin digambar. Pemanasan malam tak lagi menggunakan arang namun memakai teknologi pemanas dengan arus listrik yang bisa diatur secara otomatis. “Gambar batik yang dilukiskan canting pantograf bisa sangat akurat mendekati modelnya karena ada skala tertentu yang kami gunakan”, terang Rizky.

Menurutnya dengan memanfaatkan canting pantograf, dapat diraih efisiensi waktu, tenaga, dan sumber daya sehingga mendorong peningkatan produksi yang berujung pada berkembangnya industri batik tulis tradisional. Salah satu nilai efisiensi terbesar diraih karena pengrajin dapat langsung membatik tanpa harus menggambar lagi motif batik secara berulang-ulang. “Berdasarkan studi komparasi yang kami lakukan, canting pantograf dapat memangkas proses dan waktu produksi batik tulis secara signifikan”, tambahnya.

Pihaknya pernah membandingkan secara langsung penggunaan alat ini dengan canting tradisional di mana diperoleh hasil dalam waktu 1 jam, canting pantograf mampu memproduksi batik tulis 3 kali lebih banyak. Dengan penguasaan alat, konsistensi dan kontinuitas ketika melukis batik juga dapat terjaga.

Dalam melakukan pengembangan dan uji coba alat, Rizky dan rekan-rekannya mengaku banyak mendapat masukan dari para pelaku industri batik tulis tradisional yang ditemuinya di sekitar Yogya. “Alhamdulillah respon teman-teman pengrajin sangat positif. Kami juga telah mensosialisasikan alat ini ke beberapa sekolah di wilayah Sleman”, ucapnya. Mereka berharap kontribusi ini dapat membantu pengembangan industri batik tradisional di tanah air.

dimuat di portal UII