System Thinking dalam Membentuk Intelektual Muslim di Era Informasi

Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, buah karya Al-Imam Al-Ghazali, dikisahkan terdapat seekor makhluk yang datang ke suatu desa yang berisi orang-orang buta. Masing-masing dari mereka memegang salah satu bagian dari makhluk tersebut dan mendeskripsikan kepada yang lain tentang seperti apa bentuk dan nama makhluk yang sedang mereka terka ini. Ada yang mengatakan bahwa makhluk tersebut adalah ular karena bentuknya yang panjang dan bisa meliuk-liuk sejenis ular piton. Ada juga yang mengatakan bahwa itu bukan makhluk hidup, tapi hanyalah sebuah karpet karena bentuknya yang lebar, tebal, dan bisa digulung. Namun ada juga yang cukup percaya diri dan mengatakan bahwa jawaban mereka semua adalah salah, dan menjawab bahwa itu adalah sebuah tiang bangunan karena ukurannya besar dan tinggi, seukuran dengan tiang bangunan pada umumnya. Tetapi realitanya mereka semua mengemukakan jawaban yang salah karena makhluk yang sebenarnya mereka raba adalah gajah. Persepsi bahwa makhluk tersebut adalah ular, muncul karena yang dipegang adalah bagian belalai. Persepsi karpet muncul karena yang dipegang adalah telinga, sedangkan persepsi tiang bangunan muncul karena yang dipegang adalah kaki gajah. Kesalahan persepsi timbul karena mereka hanya mengenali suatu objek hanya dari satu bagian saja, dengan kata lain tidak mempelajari suatu objek secara menyeluruh.

Berkaca pada cerita di atas, dalam kehidupan sehari-hari kita pun terbiasa untuk melihat suatu masalah berdasarkan bagian-bagian tertentu, dan bukan memahaminya sebagai suatu cakupan yang sifatnya menyeluruh atau yang dikenal sebagai sistem. Kita cenderung melihat suatu masalah, mencerna informasi, dan pada akhirnya merasa cocok dengan pendapat tertentu yang mirip dengan atribut maupun kepentingan yang kita miliki. Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan pada Journal of Economic Literature tahun 2017, fenomena ini disebut sebagai information avoidance, yaitu fenomena yang menggambarkan bagaimana orang-orang memilih realitas mereka sendiri, yaitu dengan sengaja menghindari informasi yang mengancam kebahagiaan dan kesejahteraan mereka. Sebagai contoh, beberapa orang akan memilih untuk tidak melihat kandungan kolesterol maupun kalori dalam makanan favoritnya dan tetap menyantapnya, atau contoh lain, beberapa orang hanya akan memilih sumber berita atau judul artikel tertentu yang mereka pikir sesuai dengan ideologi politiknya.

Kecenderungan untuk menghindari informasi tentu berbahaya, karena membuat kita tidak mampu lagi melihat suatu masalah secara sistem atau menyeluruh, namun hanya melihat dari bagian-bagian tertentu yang hanya kita sukai, dianggap menarik dan cocok dengan atribut-atribut subjektif. Sedangkan di dalam Q.S Al-Baqarah (2) ayat 216, Allah SWT berfirman yang artinya:

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Ayat tersebut merupakan peringatan kepada kita, untuk berhati-hati dalam menyukai atau membenci suatu hal. Selain itu, dalam ayat tersebut kita juga diingatkan bahwa kita manusia sebenarnya memiliki pengetahuan yang tidak seberapa karena ada hal-hal yang kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Oleh karena itu disinilah pentingnya kita untuk terus belajar, mencari informasi dengan pikiran yang terbuka sehingga kita mampu menerima kebenaran tanpa harus memilih-milih yang disukai serta tidak menolak kebenaran yang disampaikan kepada kita. Di dalam Hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda yang artinya:

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa bentuk sombong terhadap kebenaran (al haq) yaitu dengan tidak menerimanya. Setiap orang yang menolak kebenaran maka dia telah sombong karena disebabkan oleh penolakannya tersebut.  Maka wajib bagi kita untuk mau menerima kebenaran, yaitu kebenaran yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Tentang kesombongan dalam menerima kebenaran telah dijelaskan di dalam Q.S Az-Zumar (39) ayat 59, dimana Allah SWT berfirman yang artinya:

”(Bukankah demikian) sebenarnya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan kamu adalah termasuk orang-orang yang kafir.”

Dengan mempelajari system thinking, seharusnya kita tidak menjadi bagian dari fenomena information avoidance. Karena tentu kita menyadari bahwa ketidakmampuan untuk mendapatkan gambaran masalah secara menyeluruh atau big picture, akan berimbas pada baik atau buruknya keputusan yang diambil. Maka tentu saja, untuk mendapatkan big picture dari suatu masalah, dibutuhkan upaya untuk mencari kejelasan atau yang disebut juga sebagai tabayyun. Istilah tabayyun berasal dari akar kata bahasa arab yaitu: tabayyanayatabayyanutabayyunan, yang berarti mencari kejelasan hakekat atau kebenaran suatu fakta maupun informasi dengan teliti, seksama dan hati-hati.

Di era informasi ini banyak frame maupun caption yang dibuat oleh khalayak untuk menampilkan bagian tertentu dari suatu berita, yang turut mengaburkan esensi dari informasi yang sesungguhnya. Hal tersebut membuat masyarakat hanya melihat suatu fenomena atau masalah hanya dari satu sisi saja, dengan tujuan penggiringan opini, menyenangkan pada penghindar informasi, menyebar fitnah, maupun untuk mencari popularitas. Maka inilah yang membuat informasi yang diberikan, terkadang bukan berdasarkan nilai “keshahihan” nya, namun dari banyaknya like dan seberapa panasnya informasi tersebut. Oleh karena itu disinilah peran kita sebagai intelektual muslim untuk ber-tabayyun sehingga dapat memahami fakta, informasi, maupun fenomena secara benar, menyeluruh, dan teliti. Tentang tabayyun, Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 6 yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara yang tidak diingini dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menjadikan kamu menyesali apa yang kamu telah lakukan.”

Proses tabayyun dikatakan berhasil apabila mampu mengungkap fakta yang terjamin akurasinya, dan didasarkan atas analisis yang jernih tanpa adanya intervensi atribut-atribut subjektif. Dengan membiasakan sikap tabayyun inilah akan menghasilkan suatu pola pikir yang jernih yang membuat kita berhati-hati dan teliti dalam menerima kabar atau berita. Melalui kejernihan berpikir inilah kemudian akan terbangun sikap kearifan dan kesadaran bahwa dibutuhkan ilmu atau pengetahuan sebelum mengambil tindakan. Dalam Q.S. Al-Isra’ (17) ayat 36, Allah SWT berfirman tentang pentingnya memiliki pengetahuan atau ilmu sebagai landasan sebelum bertindak:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

Ayat tersebut merupakan pengingat bagi kita, bahwa setiap tindakan yang akan kita lakukan haruslah dilandasi dengan pengetahuan, dan bukan sekedar asal ikut-ikutan yang dapat menjerumuskan kita kepada sikap taqlid buta. Di dalam Al-Qur’an, kita pun diperintahkan untuk bertanya kepada ahli ilmu (‘ulama) jika kita tidak memiliki pengetahuan tentang suatu hal. Allah SWT berfirman dalam Q.S An-Nahl (16) ayat 43 dan 44 yang artinya:

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,”

Kita bisa tarik kesimpulan bahwa untuk memahami suatu masalah atau sistem diperlukan usaha tabayyun yang diiringi dengan pengetahuan sebagai landasannya. Namun sebagai intelektual muslim, juga perlu kita sadari bahwa kebenaran maupun fakta ilmiah yang kita temukan melalui proses tabayyun, sifatnya tidak mutlak melainkan relatif, yang berarti tidak menutup kemungkinan adanya temuan orang lain yang lebih baik. Sesungguhnya kebenaran yang mutlak hanyalah milik Allah SWT. Maka, perlu kita sadari bahwa sebaik-baiknya cara berpikir manusia tetap ada batasnya, karena terkadang tidak semua masalah atau fenomena dapat dipahami dan diselesaikan dengan logika manusia. Sehingga, jalan keluarnya adalah mengembalikan semua urusan kepada Sang Pemilik alam semesta, Allah Subhaanahu Wa Ta’aala, yang berfirman dalam surat Al-Hajj (22) ayat 70 yang artinya:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfudz). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.”

Oleh karena itu sebagai intelektual muslim, baik pemahaman, kemampuan berpikir, dan ilmu pengetahuan yang Allah SWT berikan kepada kita, hendaknya menjadikan kita semakin rendah hati, bertaqwa, berhati-hati dalam bertindak, dan men-taddaburi ayat-ayat qauliyah maupun kauniyah, serta membuat kita semakin bersemangat untuk mencari ilmu pengetahuan dan mengimplementasikannya untuk kesejahteraan manusia dan seluruh alam sebagai bentuk rahmatan lil ‘alamin.

 

Andrie Pasca Hendradewa

Dosen Teknik Industri

Mahasiswa Teknik Industri UII Presentasikan Penelitiannya di Macau

Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) yang terdiri dari Mukhlas Dwi Putra, program studi Teknik Industri dan Nur Arifan dari program studi Manajemen mengikuti ajang konferensi internasional, 4th International Conference on Industrial and Business Engineering (ICIBE 2018) di Macau pada 24-26 Oktober 2018.

ICIBE 2018 merupakan konferensi yang bertujuan untuk mempertemukan para peneliti, ilmuwan, insinyur, maupun mahasiswa sarjana untuk bertukar dan berbagi pengalaman, ide-ide baru, dan hasil penelitian tentang semua aspek Teknik Industri dan Bisnis, serta mendiskusikan tantangan praktis yang dihadapi dan solusi yang diadopsi.

Dalam konferensi tersebut, Mukhlas dan Rifan membawakan paper dengan judul Waste Minimization Using Value Stream Analysis Tool (VALSAT) to Increase Company Productivity. Disampaikan oleh Mukhlas, penelitian ini dilakukan di salah satu UKM Gudeg yang ada di Yogyakarta. “Banyaknya UKM-UKM Gudeg yang tersebar di Jogja tentunya menjadi tantangan tersendiri untuk UKM tersebut agar bisa bersaing”, paparnya.

Ia menambahkan, di tempat penelitian tersebut dilakukan analisis waste (pemborosan) apa saja yang terjadi dengan menggunakan metode VALSAT, setelah diketahui kemudian mana yang akan di prioritaskan untuk diselesaikan, setelah itu barulah di berikan rekomendasi-rekomendasi kepada pemilik UKM Gudeg yang bersangkutan. “Tujuan akhirnya agar produktivitas dari UKM Gudeg yang diteiti tersebut bisa meningkat”, tandasnya.

Sementara itu Rifan mengungkapkan konferensi yang rutin diadakan setiap tahunnya ini diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari Profesor, praktisi hingga mahasiswa dari berbagai negara seperti, Jerman, Rusia, Swedia, Korea Selatan, USA, Malaysia, Filipina, Peru, Indonesia dan masih banyak lagi. “Selain kami yang dari UII, dari Indonesia sendiri juga ada perwakilan dari UI dan juga UNDIP”, tuturnya.

“Semoga para mahasiswa UII lainnya bisa termotivasi untuk mengikuti kegiatan-kegiatan serupa, selain menambah pengetahuan dan pengalaman tentunya juga membangun jaringan dengan akademisi serta praktisi yang hadir dalam konferensi”, pungkas mereka.

Teknik Industri UII Gelar Sharing Oppurtunity Kerja Bersama Alumni

Teknik Industri (TI) Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Sharing Oppurtunity Kerja bersama alumni pada Rabu (12/09) di Gedung K.H. Mas Mansur UII. Kegiatan yang dimoderatori oleh Yuli Agusti Rochman, S.T., M.Eng., ini menghadirkan dua pembicara yaitu Hasan Taufik, S.T., alumni Teknik Industri UII angkatan ‘98 dan Ribut Santoso, S.E.Sy.

Yuli mengungkapkan bahwasanya program studi (Prodi) TI UII sangat mendukung untuk menghubungkan para calon alumni dengan alumni. Dengan berbagai macam kesibukan, bisnis maupun aktivitas yang lain yang itu boleh jadi berkontribusi kepada alumni maupun prodi. “Semakin banyak alumni yang datang dan semakin banyak prodi bisa berkontribusi kepada alumni maupun kepada calon alumni maka akan semakin meningkatkan kualitas dari program studi” tandasnya.

Dalam pemaparannya Hasan yang merupakan Direktur Utama PT. Sahabat Retail Nusantara (Anshor Retail) menjelaskan, perusahaan ini statusnya adalah milik pimpinan pusat gerakan pemuda anshor. “Kita ingin bagaimana agar perusahaan ini bisa mengaktualisasikan diri dalam kebutuhan sehari-hari, khususnya bagi warga NU” ujarnya.

Lebih lanjut Hasan menambahkan, hingga saat ini perusahaan memiliki 50 cabang di kabupaten/kota yang tersebar di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah serta DI Yogyakarta. Targetnya sampai dengan Desember atau Januari 2019 memiliki 119 cabang di Pulau Jawa. Hasan menawarkan kepada para peserta yang merupakan Mahasiswa Teknik Industri UII yang telah menyelesaikan sidang pendadaran maupun yang telah diwisuda, untuk ikut berkontribusi.

Harapan saya setelah keluar dari ruangan ini kalian bisa mengambil kesimpulan, posisi apa yang diinginkan, pekerjaan yang seperti apa dan bagaimana targetnya” tutupnya.

Mahasiswa Magang Batch 6 PT. Yamaha Indonesia TI UII Resmi di Sidang

Sebanyak 14 mahasiswa magang batch 6 PT. Yamaha Indonesia (YI), Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (UII) resmi di sidang pada Senin (10/09) di Gedung K.H. Mas Mansur UII. Program magang ini merupakan kerjasama antara UII dan PT. Yamaha Indonesia, yang mana program studi Teknik Industri UII bertindak sebagai pelaksana dari kerjasama tersebut.

Hal yang menarik dalam sidang pendadaran ini adalah masing-masing mahasiswa yang telah menyelesaikan magang dan skripsinya, selain di uji oleh dosen pembimbing dan juga satu dosen penguji dari jurusan, juga di uji oleh perwakilan PT. YI sendiri, yakni Samsudin Dede Sunarya, CBM, selaku Vice President PT. YI, lalu Kalkausar Chalid, S.H., M.M., selalu Manajer HRD PT. YI, serta Andy, S.S.T. dan Zainurip, S.T., selaku mentor mahasiswa magang selama 6 bulan di PT. YI.

Menurut Kalkausar, teman-teman mahasiswa magang yang sudah terjun langsung di lapangan lebih mengetahui permasalahan-permasalahan yang dihadapi, sehingga hal tersebut bisa lebih memudahkan dalam penyusunan skripsi dan usulan-usulan yang diberikan semoga bisa di implementasikan segera.

“Alhamdulillah teman-teman magang batch 6 ini baik-baik dan sudah bisa merasakan dunia kerja, mudah-mudahan kedepannya bisa terus dipertahankan”, tandasnya.

Sementara itu, disampaikan Inamul Erik Lazzuardi yang merupakan salah satu mahasiswa magang batch 6, dengan adanya penguji dari dosen dan lapangan, diharapkan bisa mendapat hasil yang lebih optimal. “Dari sisi teori bisa di uji oleh pihak dosen penguji, sedangkan dari kelayakan usulan yang diberikan bisa lebih dimatangkan lagi oleh pihak penguji lapangan”, tuturnya.

Proses sidang pendadaran mahasiswa magang batch 6 di PT. YI diakhiri dengan foto bersama dengan Dekan FTI UII,  Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., perwakilan PT. YI, perwakilan dosen penguji dan para mahasiswa magang batch 6 PT. YI.

,

Ciptakan Skuter Ajaib, Mahasiswa Teknik Industri UII Sabet Juara 1 di UNS

Perkembangan teknologi yang kian hari semakin canggih memotivasi mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) untuk terus berinovasi dalam memberikan karya terbaik bagi Indonesia. Salah satunya tampak dari raihan presatasi mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII di kancah internasional. Tim dari UII yaitu Tim Al-faraby yang terdiri dari Reno Dias Anggara (Teknik Industri 2015), Muhammad Iqbal Sabit (Teknik Industri 2015) dan Adinda Khairunnisa (Teknik Industri 2016) berhasil membawa nama baik UII pada ajang DESCOMFIRST 2018.

Design Competition for Industrial System dan Environment (DESCOMFIRST) 2018 merupakan acara tahunan se- Asia Tenggara yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Industri Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS). Tahun ini, DESCOMFIRST 2018 mengusung tema “Manual Tools for Processing of Agricultural Technology”. Pada babak final, 15 tim yang lolos seleksi berkas proposal diharuskan untuk mempresentasikan hasil dari idenya pada Sabtu, (5/5) di Hotel Sunan Solo. Selain juga menunjukkan hasil karyanya berupa prototype pada kegiatan pameran yang diselenggarakan pada Minggu, (6/05) di Solo Paragon Mall.

Hasil karya mahasiswa UII yang dinamai Go-win berhasil menjadi Juara 1 pada DESCOMFIRST 2018. Go-win merupakan alat yang berupa skuter yang dapat digunakan untuk melakukan pembibitan tanaman pada bidang Agroteknologi. Go-win memiliki kemampuan menggali tanah, menaruh bibit dan mengatur jarak tanam. “Biasanya dalam menanam bibit baru, diperlukan 3 alat yang akan digunakan untuk menggali tanah, menaruh bibit dan alat yang digunakan mengatur jarak tanam. Tapi, kita berhasil menciptakan alat yang mampu digunakan untuk 3 pekerjaan itu sekaligus. Jadi setiap bagian skuter punya perannya masing-masing,” Jelas Iqbal.

Iqbal melanjutkan, Tim Al-faraby mempersiapkan Go-win sejak November 2017. Selama proses persiapan, Tim Al-faraby menyerahkan sepenuhnya kepada vendor untuk pembuatan Go-win yang juga dibantu oleh Jurasan Teknik Mesin UII dalam pembuatan prototypenya. “Kalau untuk prototype kita menyerahkan sepenuhnya ke vendor dan juga dapat bantuan dari Jurusan Teknik Mesin. Kami fokus untuk presentasi,” lanjutnya.

Kedepannya, pada tahun 2019 Tim Al-faraby berencana untuk memproduksi Go-win dan melalukan sosialisasi kepada para petani di desa-desa sehingga akan memudahkan pekerjaan mereka. “Karna Protoypenya ini udah hampir 90% layak untuk digunakan, jadi kami berencana untuk memproduksi tahun depan sehingga para petani bisa secepatnya menggunakannya,” tutupnya. (NI/RS)

FTI UII resmi bekerjasama dengan PT. Inti Ganda Perdana

Fakultas Teknologi Industri UII dan PT. Inti Ganda Perdana (IGP) menandatangai Mou tentang kerjasama magang mahasiswa (9/04/2018). Pendatanganan Mou ini merupakan inisiasi dari 2 prodi, Teknik Industri dan Teknik Mesin FTI UII yang sampai hari ini sudah memasuki tahun ke 3 pelaksanaan program magang. Penandatangan MoU ini merupakan upaya untuk mempererat kerjasama dalam bidang permagangan mahasiswa. PT. Inti Ganda Perdana merupakan anak perusahaan Astra Oto-Parts dibawah naungan Astra Internasional.

Bentuk kerja sama yang dilakukan, merupakan sarana bagi mahasiswa Teknik Industri dan Teknik Mesin FTI UII dalam menerapkan ilmu yang telah diperoleh mahasiswa semasa duduk di bangku kuliah. “Dengan adanya kerja sama ini semoga mahasiswa siap terjun ke dunia industry ketika telah selesai menempuh studi di FTI UII,” ungkap Imam Djati

Prodi Teknik industri UII pada Tahun ajaran 2017-2018 telah mengirimkan 5 mahasiswa magang di PT. IGP. Program magang ini berlangsung selama 6 bulan, di perusahaan mahasiswa akan di berikan project yang telah di tentukan oleh perusahaan.

PT. IGP selama ini concern terhadap pengembangan (improvement), ini merupakan kerjasama yang keskian dengan akademisi, FTI UII dipilih menjadi salah satu partner dalam program magang ini karena mempunyai frame yang sama dengan perusahaan kami. Kami berfikir bahwa dengan adanya mahasiswa magang, dimana secara fikiran mereka masih fresh dan biasanya anak-anak muda mempunyai pemikiran yang inovatif, ini coba kami tangkap kami arahkan dan nantinya ide-ide kreatifnya bisa di implementasikan di perusahaan. Magang bagi mahasiswa juga mempunya manfaat selain pengalaman kerja, mereka setiap minggu akan di evaluasi oleh mentor dan akan masuk ke database jaringan astra group. Ujar Ienez Prameswari, Sebagai Human Development PT. IGP

 

Periodisasi program magang adalah 6 bulan terhitung pada awal semester. Hal ini untuk memudahkan mahasiswa untuk mengelola proses akademiknya di kampus

Tiap pertengahan semester kami akan melakukan sosialisasi melalui website, sosial media yang di miliki prodi untuk menyebarkan informasi. sebulan kemudian setelah mendapatkan informasi kebutuhan dari PT. IGP akan kami umumkan melalui jalur yang sama untuk di lakukan pendaftaran. h-30 kami akan melakukan seleksi, bagi yang di terima akan diberikan pembekalan terkait dengan topik yang akan di kerjakan di perusahaan dan mahasiswa akan di antarkan dan diserahkan ke PT. IGP, ujar Sugarindra, pengelola program magang prodi Teknik Industri

Program magang ini mempunyai banyak manfaat bagi perusahaan, mahasiswa dan Kampus, sehingga program ini terus akan di kembangkan baik pola magang dan link kerjasama dengan perusahaan.

Kuliah Umum Productivity Improvement Kerjasama dengan PT. Inti Ganda Perdana

Prodi Teknik Industri FTI UII menyelenggarakan kuliah umum yang pada kali ini bekerjasama dengan PT Inti Ganda Perdana (PT IGP). Kuliah umum diberikan kepada mahasiswa dengan menghadirkan praktisi akan memberikan wawasan yang lebih luas kepada mahasiswa.

Productivity Improvement merupakan salah satu topik yang menjadi keunggulan Prodi Teknik Industri UII, ujar Yuli Agusti Rochmam, ST., MT. di sela bincang-bincang dengan tim dari PT. Inti Ganda Perdana. Untuk itu kami berkolaborasi dengan dunia industry untuk bisa mendapatkan contoh riil penerapan productivity improvement di industry.

Acara yang dilaksanakan di Ruang Audio Visual FTI UII (09/04/18) ini dihadiri dosen dan mahasiswa teknik industri dan teknik mesin FTI UII. Hadir dari PT. IGP adalah Bapak Kingwan Head of Dept. Learning Center PT. IGP.

Productivity improvement, merupakan hal yang sangat penting dari dunis industry dalam menghadapi persaingan. Dimana perusahaan harus berlomba-lomba untuk meningkatkan produktifitasnya dengan cara memperbaiki proses dari hulu ke hilir. Di IGP kami mempunyai learning center yang bertujuan untuk mengkaji dan meneliti proses produksi. Keyword agar bisa bertahan adalah improvement ujar beliau pada saat menyampaikan kuliah umumnya.

Pada Kuliah umum ini di barengi dengan penandatanganan MoU antar kedua belah pihak (Baca Pendandatanganan Mou kerjasama FTI UII dan PT. IGP)

Silaturahmi Teknik Industri UII dengan Orang Tua Mahasiswa

Program studi (prodi) Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (UII) adakan silaturahmi bersama para orangtua atau wali mahasiswa angkatan 2017 di Gedung Olahraga Ki Bagoes Hadikoesoemo pada Sabtu (10/02). Acara ini merupakan sesi paralel dari rangkaian acara “Temu Orang Tua dan Wali Angkatan 2017” yang diselenggarakan oleh FTI UII. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala prodi Teknik Industri UII, Yuli Agusti Rochman, S.T., M.Eng., beserta dosen pengajar di Teknik Industri UII.

Diawal pemaparannya, Yuli menjelaskan tentang profil lulusan Teknik Industri UII, visi-misi Teknik Industri UII, struktur pimpinan prodi, dan dosen-dosen yang mengajar di Teknik Industri. Selanjutnya Yuli menyampaikan bagaimana alur perkuliahan, kurikulum di Teknik Industri UII, batas waktu studi, evaluasi kuliah serta kegiatan ektrakurikuler yang bisa diikuti oleh para mahasiswa.

Selain itu, Yuli juga menuturkan program-program unggulan yang dimiliki oleh prodi Teknik Industri. Pertama, program kerjasama magang. “Setelah mengikuti program magang, perusahaan akan mengeluarkan surat keterangan magang, yang mana itu sangat berguna ketika nanti melamar ke perusahaan-perusahaan”, ujarnya.

Kedua, kerjasama dengan beberapa universitas di Taiwan untuk melanjutkan studi S2 atau S3. Sehingga bila ada mahasiswa yang berminat untuk melanjutkan studinya, selama kualifikasi yang dibutuhkan terpenuhi, maka bisa bisa menggunakan jalur kerjasama tersebut, untuk melanjutkan studinya dengan beasiswa. Ada pula beberapa mahasiswa yang di Saxion University, Belanda mengikuti program kerjasama dual degree, serta lainnya.

“Kami mengucapkan terima kasih, karena telah memberikan kepercayaan, menitipkan putra-putri bapak ibu sekalian untuk menempuh pendidikan di UII, khususnya di Teknik Industri UII”, tutupnya.

Setelah sesi pemaparan, dilanjutkan dengan dialog bersama wali mahasiswa dengan pimpinan prodi. Lalu masing-masing orang tua atau wali mahasiswa yang hadir bertemu dengan Dosen Pembimbing Akademik (DPA) putra-putri mereka.

Salah satu orang tua mahasiswa, Humam Mahmudi, menanggapi kegiatan ini dengan positif, Ia sangat antusias mengikuti forum silaturahmi tersebut. “Dengan adanya acara seperti ini, kami bisa bertemu langsung dengan dosen dan wali mahasiswa lain, yang tadinya tidak kenal bisa saling mengenal, dan juga menambah jaringan”, tuturnya

Humam yang ternyata merupakan alumni dari Teknik Industri UII angkatan pertama ’92, berpesan kepada adik-adik yang sedang menempuh kuliah di TI UII, “perlunya untuk bisa mensinergikan ilmu yang didapat dengan kemampuan me-manage orang dengan berorganisasi, kemudian juga meningkatkan kemampuan berbahasa asing”, serunya.

Teknik Industri UII Terima Kunjungan Universitas Tridinarti Palembang

Teknik Industri Universitas Tridinarti Palembang (UTP) lakukan studi banding ke Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (UII) pada Kamis (08/02) di Gedung K.H. Mas Mansur FTI UII. Para peserta studi banding yang terdiri dari mahasiswa, tour leader dan dosen pendamping dari UTP, berjumlah 35 orang.

Kunjungan yang dilakukan terbagi menjadi dua sesi. Sesi yang pertama yaitu pemaparan tentang Teknik Industri UII oleh Yuli Agusti Rochman, S.T., M.Eng., selaku Kepala Prodi Teknik Industri UII dan sesi yang kedua yaitu kunjungan ke laboratorium-laboratorium yang ada di Teknik Industri UII, seperti Lab. Desain Sistem Kerja dan Ergonomi (DSKE), Lab. Inovasi dan Pengembangan Organisasi, Lab. Sistem Manufaktur (Siman), serta lainnya.

Mahmud Basuki, S.T., M.T., yang merupakan salah seorang dosen Teknik Industri UTP menjelaskan, bahwasanya studi banding yang dilakukan dalam rangka Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mahasiswa Teknik Industri UTP. Selain itu Mahmud sendiri ternyata merupakan alumni dari program Master Teknik Industri UII.

Dalam pemaparannya, Yuli menjelaskan tentang bagaimana profil lulusan Teknik Industri UII, Visi-Misi Teknik Industri UII, lalu sharing tentang program kerjasama magang, serta bagaimana menjalin relasi dengan para Alumni dari Teknik Industri UII.

Sementara itu, pada saat sesi kunjugnan lab, para peserta studi banding mendapat penjelasan dari asisten di tiap-tiap lab yang dikunjungi, mulai dari pengenalan software apa saja yang digunakan serta alat-alat yang ada di tiap lab-lab tersebu

Salah satu peserta studi banding, Deni Amirwansyah mengungkapkan bahwa dirinya sangat antusias dengan adanya kegiatan studi banding ini, “Peralatan di Teknik Industri UII ini sangat lengkap, sistem pengajarannya juga bagus”, ujarnya. Dari adanya kunjungan ini, ia pun tertarik untuk melanjutkan studi S2 ke Teknik Industri UII.

“Dengan adanya studi banding ini, harapannya mampu menambah wawasan, pengembangan diri, serta apa yang telah didapatkan disini bisa diterapkan di Universitas Tridinarti Palembang”, ujar Mahmud. Setelah dari UII, para peserta studi banding akan melanjutkan kunjungan ke PT. Madu Baru, Yogyakarta.

MENGAJAR SEBAGAI “LADANG AMAL”; SEBUAH AUTO KRITIK

Mengajar adalah salah satu tugas pokok dosen di samping penelitian, pengabdian masyarakat, dan dakwah Islamiyah. Sebagai dosen yang beragama Islam, mengajar bagi kita bukan hanya menjadi mata pencaharian tapi juga merupakan suatu ibadah. Pertanyaan yang kemudian muncul, bagaimana caranya agar mengajar tidak hanya sekedar menjadi “ladang uang”, namun juga bisa menjadi “ladang amal” untuk kita?

Keutamaan mengajar
Beruntunglah orang-orang yang berilmu. Allah SWT meninggikan derajatnya di atas manusia rata-rata. Sebuah nikmat yang tidak bisa dimiliki oleh semua orang. Oleh sebab itu, wajar jika orang yang berilmu dituntut tanggung jawab lebih karena ilmu yang dimiliki. Di satu pihak ilmu adalah nikmat untuknya, di pihak lain ilmu adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

“…. niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat….” (Q.S. Al-Mujadilah : 11).

Menyampaikan ilmu dan menyebarluaskannya kepada orang lain hukumnya wajib. Allah SWT berfirman:

“…. Dan Kami turunkan kepadamu az-Zikr (al-Quran) agar kamu terangkan kepada para manusia apa yang akan diturunkan kepada mereka, dan agar mereka berpikir.” (Q.S. An-Nahl : 44)

Ada banyak keutamaan orang yang berilmu dan mengajarkan ilmu yang disebutkan dalam Al Quran dan Al Hadits. Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Keutamaan seorang yang berilmu atau ahli ibadah adalah sebagaimana keutamaanku atas orang yang terendah dari kalian.”

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang soleh.” (HR. Muslim)

“Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima, maka engkau akan celaka.” (HR. Baihaqi)

Re-orientasi niat mengajar
Mencermati nash-nash tentang keutamaan mengajarkan ilmu, sebagai dosen harusnya kita menumbuhkan kesadaran dalam memperbanyak bekal amal shaleh. Re-orientasi niat mengajar adalah salah satu cara untuk itu. Jika selama ini mengajar kita lakukan untuk menggugurkan kewajiban, maka niat itu sekarang harus kita perbaiki, mengajar adalah proses mengolah “ladang amal”. Karena kebahagiaan hanya dapat diraih dengan amal kebaikan dan menyebarkan manfaat kepada orang lain.
Sebagaimana kita pahami, ilmu adalah investasi yang abadi. Rasulullah SAW telah menggambarkan, ilmu tidak pernah berkurang saat dibagi, bahkan bisa melimpah dengan berkahnya. Ilmu tidak akan habis atau hilang walau dibagi semuanya kepada orang lain. Pahala ilmu tidak akan terhenti meski pemiliknya meninggal dunia.

Adab dalam mengajar
Calon mahasiswa di awal perkuliahan biasanya mendapatkan materi adab dalam belajar, idealnya calon dosen atau dosen pemula juga mendapatkan materi adab dalam mengajar. Sayangnya, dalam kegiatan pra-jabatan dosen lebih menekankan pada materi metode mengajar daripada adab mengajar. Metode dengan adab mengajar dua hal yang berbeda. Adab mengajar untuk menghadirkan jiwa dosen dalam sebuah kelas, sedangkan metode adalah cara mengajar.
Mengadopsi adab mengajar K.H. Hasyim Asyari yang ditulis oleh Ilham Kadir, berikut ini beberapa adab yang perlu kita perhatikan dalam rangka menjadikan kegiatan mengajar sebagai proses mengolah “ladang amal”:
1. Berniat mendidik dan menyebarkan ilmu pengetahuan
2. Menghindarkan ketidakikhlasan dan mengejar keduniawian
3. Hendaknya selalu melakukan muhasabah (instropeksi diri)
4. Menggunakan metode yang mudah dipahami
5. Membangkitkan antusias mahasiswa dan memotivasinya
6. Memberikan latihan-latihan yang sifatnya membantu
7. Selalu memperhatikan kemampuan mahasiswa
8. Tidak terlalu mengorbitkan salah seorang mahasiswa dan menafikan yang lainnya
9. Mengarahkan minat mahasiswa
10. Bersikap terbuka dan lapang dada terhadap mahasiswa
11. Membantu memecahkan masalah dan kesulitan mahasiswa
12. Bila ada mahasiswa yang berhalangan hendaknya mencari hal ikhwal kepada teman-temannya
13. Tunjukkan sikap arif dan penyayang kepada mahasiswa
14. Selalu rendah hati, tawadhu

Mengajar dengan jiwa
Ada mahfudzat yang berbunyi: Ath-thariqah ahammu minal madah (metode lebih penting dari materi ajar/kurikulum), al-mudarris ahammu min ath-thariqah (pengajar lebih penting dari metode), wa ruhul mudarris ahammdu min mudarris (jiwa pengajar lebih bermakna dari pengajar). Ini sesuai dengan pendapat Sir Pency Nunn, guru besar pendidikan di University of London yang mengatakan bahwa baik buruknya suatu pendidikan tergantung kebaikan, kebijakan, dan kecerdasan pengajar.
Menurut Adian Husaini, jiwa pengajar adalah kunci kemajuan pendidikan sekaligus kemajuan bangsa. Jiwa yang sehat adalah jiwa yang bersih dari penyakit syirik, dengki, riya’, nifak, sombong, cinta dunia, gila jabatan, penakut, lemah semangat, dan sebagainya.

Meningkatkan pengetahuan
Setiap muslim mempunyai dua kewajiban yang berkaitan dengan ilmu, yaitu belajar dan mengajar. Mengajarkan ilmu itu wajib, demikian juga mencari ilmu juga wajib. Hal ini tentu saja berlaku bagi kita sebagai dosen. Memperbanyak modal ilmu adalah kewajiban kita. Seluas ilmu yang kita miliki sebentang itu pula manfaat ilmu yang dapat kita tebar.
Ada sebuah ungkapan yang berbunyi, faqidu asy-syai la yu’thi (orang yang tidak memiliki sesuatu tidak mungkin bisa memberikan sesuatu). Oleh karena itu, meningkatkan pengetahuan harus selalu kita lakukan agar kita bisa memberi lebih banyak manfaat.

Kembangkan kemampuan menulis dan publikasi
Para salafus shaleh dan ulama-ulama kita adalah generasi yang sangat produktif dalam membuat tulisan. Ribuan kitab yang menjadi rujukan umat Islam dalam hal tafsir, fiqih, aqidah, ahlak, serta ilmu pengetahuan alam, merupakan buah karya dari tradisi ilmu yang dimiliki oleh ulama-ulama kita di masa lalu dan hingga kini menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan modern. Dengan teladan ini seharusnya kita sebagai dosen lebih produktif dalam melahirkan tulisan-tulisan yang bermanfaat.
Fathul Wahid mengatakan, slogan “publish or perish” (publikasi atau mati mendadak) sangat terkenal di kalangan akademisi Amerika. Menurutnya, publikasi memegang peranan sangat penting dalam tradisi keilmuan. Dengan publikasi itu, hasil-hasil penelitian dapat disampaikan kepada audien yang lebih luas, dan akan membuka pintu kemanfaatan yang lebih lebar.

Mahasiswa sebagai partnership
Dalam usaha memperbanyak modal ilmu, sebaiknya mahasiswa kita libatkan. Mahasiswa hendaknya tidak lagi menjadi obyek namun dijadikan subyek dalam kegiatan perkuliahan, sehingga proses transfer ilmu pengetahuan bisa terjadi dalam dua arah. Dengan kata lain, mahasiswa adalah partnership kita dalam meningkatkan pengetahuan. Caranya adalah dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menyampaikan topik yang telah mereka pelajari terlebih dahulu sebelum kita memberikan materi kuliah. Berdasarkan pengalaman, ada banyak pengetahuan baru yang bisa diperoleh dari apa yang disampaikan mahasiswa, yang tidak penulis dapatkan sebelumnya. Memberikan pujian dan nilai yang baik kepada mereka adalah bentuk-bentuk penghargaan yang bisa kita berikan. Biasanya mahasiswa akan lebih antusias dan termotivasi untuk belajar. Tentu saja belajar mandiri tetap harus selalu dilakukan oleh setiap dosen.
Sekali lagi kita ingat, setiap kita wajib menjadi pengajar atau pembelajar atau keduanya. Allah berfirman dalam Al Quran Surah Ali Imran ayat 79:

“…. Hendaknya kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”

Wallahu a’lam bishawab

 

Penulis:

Qurtubi, ST., MT.
Dosen Teknik Industri