Di era digital, perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia berinteraksi, bekerja, dan membangun kehidupan sosial. Hal ini juga menjadi bagian dari perhatian Teknik Industri UII dalam melihat hubungan antara manusia, teknologi, dan sistem yang terus berkembang. Di tengah perubahan tersebut, menjaga lisan di era digital menjadi tanggung jawab yang semakin penting. Satu ketikan, satu komentar, dan satu unggahan kini dapat menjangkau jutaan orang dalam hitungan menit. Semudah itu, tetapi sebesar itulah tanggung jawab yang menyertainya. Di tengah derasnya arus informasi, kita kerap lupa bahwa setiap kata yang kita ketik adalah bagian dari “lisan” kita; dan bahwa lisan, dalam ajaran Islam, adalah gerbang kebaikan sekaligus gerbang kehancuran.
Dua Kisah yang Menggugah
Beberapa waktu terakhir, publik dihebohkan oleh dua peristiwa yang sama-sama bermula dari komentar di media sosial. Yang pertama adalah kisah seorang kakek penjual pakaian, Pak Pitono (akun TikTok toko.pa.pitono), yang rutin berjualan melalui siaran langsung. Alih-alih mendapat dukungan, barang dagangannya justru dihina-hina: disamakan dengan barang yang diambil dari jemuran tetangga atau dari tong sampah. Menariknya, sang kakek merespons dengan sangat tenang bahkan meminta maaf kepada para penonton. Sikap itulah yang kemudian memancing gelombang simpati publik (TribunWow, 8 Agustus 2026).
Kisah kedua lebih memilukan. Yurizal Tri Chaerawan (29 tahun), pasien BPJS yang tengah sakit, mengeluh di platform Threads pada 22 Juli 2026 bahwa ia telah menunggu delapan jam untuk mendapatkan kamar rawat inap. Alih-alih mendapat empati, tulisannya justru dibalas hujatan, termasuk dari oknum tenaga kesehatan di media sosial. Sekitar sepekan kemudian, pada 31 Juli 2026, Yurizal meninggal dunia. Hingga kini belum ada keterangan medis resmi yang menyatakan kematiannya berkaitan dengan waktu tunggu tersebut (Kompas, 5 Agustus 2026). Namun satu hal yang pasti: unggahan terakhirnya di dunia ini dijawab bukan dengan doa, melainkan dengan hujatan.
“Barang dari tong sampah.” “Minta diprioritaskan.” “Alay.” Kata-kata seperti ini hanya butuh tiga detik untuk diketik, tetapi bekasnya bisa menetap bertahun-tahun di hati seseorang. Bahkan, bisa menjadi kalimat terakhir yang ia baca sebelum berpulang.
Menjaga Lisan di Era Digital dalam Pandangan Islam
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Man kāna yu’minu billāhi wal-yaumil-ākhiri fal-yaqul khairan au liyashmut.
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits ini mengajarkan bahwa diam bukan kehilangan, melainkan wujud iman. Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa seorang hamba bisa mengucapkan satu kalimat yang diridai Allah sehingga diangkat derajatnya, dan bisa pula mengucapkan satu kalimat yang dimurkai Allah sehingga ia terjungkal ke dalam neraka (HR Bukhari). Betapa tipis jarak antara dua kalimat itu dan betapa cepat jari kita mengetik tanpa menghitung.
Allah juga berfirman dalam QS Qaf (50): 18:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Mā yalfiẓu min qaulin illā ladaihi raqībun ‘atīd.
Artinya: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
Ayat ini selama ini dipahami untuk ucapan lisan. Di era digital, ia memperoleh makna baru: setiap huruf yang kita ketik, setiap komentar yang kita kirim, juga tercatat. Tidak ada mode penyamaran di hadapan Allah.
Dari Ucapan ke Tulisan: Jempol Juga Lisan
Sebagian orang merasa aman karena yang ia tulis dianggap bukan “ucapan”. Padahal, para ulama memandang tulisan sebagai lisan kedua. Karena itu, menjaga lisan di era digital tidak hanya berarti menjaga ucapan, tetapi juga menjaga setiap tulisan dan komentar yang kita bagikan: al-kitābah ka al-khiṭāb artinya tulisan memiliki kedudukan seperti pembicaraan. Bahkan tulisan bisa lebih berbahaya daripada ucapan. Ucapan hilang bersama suara; tulisan abadi di server, dapat disalin, disebar, dan dibaca ribuan kali. Tulisan yang menyakiti tetap menyakiti, meskipun penulisnya tidak menyebut nama. Islam bahkan mengajarkan agar kita menyebut kebaikan orang yang telah meninggal dan menahan diri dari menyebut keburukan mereka (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Al-Qur’an untuk Segala Zaman

Ada anggapan bahwa ajaran agama ketinggalan zaman. Dua kisah di awal tulisan ini justru membuktikan sebaliknya. Allah berfirman dalam QS Al-Hujurat (49): 12:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيَحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
Wa lā yaghtab ba’ḍukum ba’ḍan, a yuḥibbu aḥadukum an ya’kula laḥma akhīhi maitan fa karihtumūh.
Artinya: “…dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya…”
Bahkan fenomena “viral” pun telah didahului Al-Qur’an. QS An-Nur (24): 19:
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Innallażīna yuḥibbūna an tashī’al-fāḥisyatu fillażīna āmanū lahum ‘aẓābun alīmun fid-dunyā wal-ākhirah.
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.”
Menyebarkan aib, memperluas keburukan, ikut meramaikan hujatan, semuanya termasuk dalam cakupan ayat ini. Demikian pula QS Al-Qalam (68): 10–11 yang melarang kita mengikuti “setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghamburkan fitnah.” Di era algoritma, mereka yang “kian ke mari menghamburkan fitnah” adalah para pelaku hujatan yang menjadikan luka orang lain sebagai bahan konten.
Inilah bukti bahwa wahyu Allah bukan untuk satu zaman saja. Apa yang disyariatkan empat belas abad silam justru menjadi obat paling tepat bagi penyakit yang baru lahir belakangan ini. Bentuk masalah manusia berubah-ubah, tetapi akar penyakitnya sama: hati yang tidak dijaga.
Refleksi
Sebelum mengetik, mari bertanya kepada diri sendiri:
- Apakah kata ini akan kuucapkan jika orangnya berdiri tepat di depanku?
- Apakah aku tahu seluruh konteks ceritanya, atau aku hanya menghakimi dari satu unggahan?
- Apakah aku sedang membela kebenaran, atau sekadar ikut-ikutan ramai?
- Apakah komentarku akan menjadi doa, atau justru menjadi luka terakhir bagi pembacanya?
Ada satu lagi yang bisa kita renungkan: kapan terakhir kali kita menahan jari? Boleh jadi, pahala terbesar hari ini diraih oleh orang-orang yang sudah mengetik setengah kalimat, lalu menghapusnya. Karena Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
Bijak Menjaga Lisan di Era Digital
Dunia maya itu nyata efeknya. Di balik setiap akun ada manusia, di balik setiap layar ada hati yang bisa terluka. Menjaga lisan di era digital dan menjaga jari kita dari menuliskan sesuatu yang tidak baik adalah jihad kecil di era digital. Semoga kita termasuk orang-orang yang ucapannya menjadi rahmat, tulisannya menjadi kebaikan, dan kehadirannya di dunia maya tidak melukai siapapun, Aamiin…
Referensi
- Kompas.com (5 Agustus 2026). “BPJS Kesehatan Buka Suara soal Peserta JKN yang Meninggal Usai Curhat Tak Dapat Kamar Inap.”
- ANTARA News. “Fakta-fakta kasus viral Yurizal pasien BPJS yang meninggal dunia.”
- detikHealth. “Kemenkes Jelaskan Duduk Perkara Viral Pasien BPJS Nunggu 8 Jam, Ternyata di RSCM.”
- TribunWow.com (8 Agustus 2026). “Viral Kakek Penjual Daster Dihina Saat Live TikTok, Responsnya Bikin Tersentuh
Putri Dwi Annisa





