Jaga Lisan

Di era digital, perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia berinteraksi, bekerja, dan membangun kehidupan sosial. Hal ini juga menjadi bagian dari perhatian Teknik Industri UII dalam melihat hubungan antara manusia, teknologi, dan sistem yang terus berkembang. Di tengah perubahan tersebut, menjaga lisan di era digital menjadi tanggung jawab yang semakin penting. Satu ketikan, satu komentar, dan satu unggahan kini dapat menjangkau jutaan orang dalam hitungan menit. Semudah itu, tetapi sebesar itulah tanggung jawab yang menyertainya. Di tengah derasnya arus informasi, kita kerap lupa bahwa setiap kata yang kita ketik adalah bagian dari “lisan” kita; dan bahwa lisan, dalam ajaran Islam, adalah gerbang kebaikan sekaligus gerbang kehancuran.

Dua Kisah yang Menggugah

Beberapa waktu terakhir, publik dihebohkan oleh dua peristiwa yang sama-sama bermula dari komentar di media sosial. Yang pertama adalah kisah seorang kakek penjual pakaian, Pak Pitono (akun TikTok toko.pa.pitono), yang rutin berjualan melalui siaran langsung. Alih-alih mendapat dukungan, barang dagangannya justru dihina-hina: disamakan dengan barang yang diambil dari jemuran tetangga atau dari tong sampah. Menariknya, sang kakek merespons dengan sangat tenang bahkan meminta maaf kepada para penonton. Sikap itulah yang kemudian memancing gelombang simpati publik (TribunWow, 8 Agustus 2026).

Kisah kedua lebih memilukan. Yurizal Tri Chaerawan (29 tahun), pasien BPJS yang tengah sakit, mengeluh di platform Threads pada 22 Juli 2026 bahwa ia telah menunggu delapan jam untuk mendapatkan kamar rawat inap. Alih-alih mendapat empati, tulisannya justru dibalas hujatan, termasuk dari oknum tenaga kesehatan di media sosial. Sekitar sepekan kemudian, pada 31 Juli 2026, Yurizal meninggal dunia. Hingga kini belum ada keterangan medis resmi yang menyatakan kematiannya berkaitan dengan waktu tunggu tersebut (Kompas, 5 Agustus 2026). Namun satu hal yang pasti: unggahan terakhirnya di dunia ini dijawab bukan dengan doa, melainkan dengan hujatan.

“Barang dari tong sampah.” “Minta diprioritaskan.” “Alay.” Kata-kata seperti ini hanya butuh tiga detik untuk diketik, tetapi bekasnya bisa menetap bertahun-tahun di hati seseorang. Bahkan, bisa menjadi kalimat terakhir yang ia baca sebelum berpulang.

Menjaga Lisan di Era Digital dalam Pandangan Islam

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Man kāna yu’minu billāhi wal-yaumil-ākhiri fal-yaqul khairan au liyashmut.

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengajarkan bahwa diam bukan kehilangan, melainkan wujud iman. Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa seorang hamba bisa mengucapkan satu kalimat yang diridai Allah sehingga diangkat derajatnya, dan bisa pula mengucapkan satu kalimat yang dimurkai Allah sehingga ia terjungkal ke dalam neraka (HR Bukhari). Betapa tipis jarak antara dua kalimat itu dan betapa cepat jari kita mengetik tanpa menghitung.

 

Allah juga berfirman dalam QS Qaf (50): 18:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Mā yalfiẓu min qaulin illā ladaihi raqībun ‘atīd.

Artinya: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”

Ayat ini selama ini dipahami untuk ucapan lisan. Di era digital, ia memperoleh makna baru: setiap huruf yang kita ketik, setiap komentar yang kita kirim, juga tercatat. Tidak ada mode penyamaran di hadapan Allah.

Dari Ucapan ke Tulisan: Jempol Juga Lisan

Sebagian orang merasa aman karena yang ia tulis dianggap bukan “ucapan”. Padahal, para ulama memandang tulisan sebagai lisan kedua. Karena itu, menjaga lisan di era digital tidak hanya berarti menjaga ucapan, tetapi juga menjaga setiap tulisan dan komentar yang kita bagikan: al-kitābah ka al-khiṭāb artinya tulisan memiliki kedudukan seperti pembicaraan. Bahkan tulisan bisa lebih berbahaya daripada ucapan. Ucapan hilang bersama suara; tulisan abadi di server, dapat disalin, disebar, dan dibaca ribuan kali. Tulisan yang menyakiti tetap menyakiti, meskipun penulisnya tidak menyebut nama. Islam bahkan mengajarkan agar kita menyebut kebaikan orang yang telah meninggal dan menahan diri dari menyebut keburukan mereka (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Al-Qur’an untuk Segala Zaman

Ada anggapan bahwa ajaran agama ketinggalan zaman. Dua kisah di awal tulisan ini justru membuktikan sebaliknya. Allah berfirman dalam QS Al-Hujurat (49): 12:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيَحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Wa lā yaghtab ba’ḍukum ba’ḍan, a yuḥibbu aḥadukum an ya’kula laḥma akhīhi maitan fa karihtumūh.

Artinya: “…dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya…”

 

Bahkan fenomena “viral” pun telah didahului Al-Qur’an. QS An-Nur (24): 19:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Innallażīna yuḥibbūna an tashī’al-fāḥisyatu fillażīna āmanū lahum ‘aẓābun alīmun fid-dunyā wal-ākhirah.

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.”

Menyebarkan aib, memperluas keburukan, ikut meramaikan hujatan, semuanya termasuk dalam cakupan ayat ini. Demikian pula QS Al-Qalam (68): 10–11 yang melarang kita mengikuti “setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghamburkan fitnah.” Di era algoritma, mereka yang “kian ke mari menghamburkan fitnah” adalah para pelaku hujatan yang menjadikan luka orang lain sebagai bahan konten.

Inilah bukti bahwa wahyu Allah bukan untuk satu zaman saja. Apa yang disyariatkan empat belas abad silam justru menjadi obat paling tepat bagi penyakit yang baru lahir belakangan ini. Bentuk masalah manusia berubah-ubah, tetapi akar penyakitnya sama: hati yang tidak dijaga.

Refleksi

Sebelum mengetik, mari bertanya kepada diri sendiri:

  • Apakah kata ini akan kuucapkan jika orangnya berdiri tepat di depanku?
  • Apakah aku tahu seluruh konteks ceritanya, atau aku hanya menghakimi dari satu unggahan?
  • Apakah aku sedang membela kebenaran, atau sekadar ikut-ikutan ramai?
  • Apakah komentarku akan menjadi doa, atau justru menjadi luka terakhir bagi pembacanya?

Ada satu lagi yang bisa kita renungkan: kapan terakhir kali kita menahan jari? Boleh jadi, pahala terbesar hari ini diraih oleh orang-orang yang sudah mengetik setengah kalimat, lalu menghapusnya. Karena Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Bijak Menjaga Lisan di Era Digital

Dunia maya itu nyata efeknya. Di balik setiap akun ada manusia, di balik setiap layar ada hati yang bisa terluka. Menjaga lisan di era digital dan menjaga jari kita dari menuliskan sesuatu yang tidak baik adalah jihad kecil di era digital. Semoga kita termasuk orang-orang yang ucapannya menjadi rahmat, tulisannya menjadi kebaikan, dan kehadirannya di dunia maya tidak melukai siapapun, Aamiin…

 

Referensi

  • Kompas.com (5 Agustus 2026). “BPJS Kesehatan Buka Suara soal Peserta JKN yang Meninggal Usai Curhat Tak Dapat Kamar Inap.”
  • ANTARA News. “Fakta-fakta kasus viral Yurizal pasien BPJS yang meninggal dunia.”
  • detikHealth. “Kemenkes Jelaskan Duduk Perkara Viral Pasien BPJS Nunggu 8 Jam, Ternyata di RSCM.”
  • TribunWow.com (8 Agustus 2026). “Viral Kakek Penjual Daster Dihina Saat Live TikTok, Responsnya Bikin Tersentuh

 

Putri Dwi Annisa

Tidak semua kekurangan berasal dari sedikitnya nikmat, tetapi sering kali dari kurangnya rasa syukur. Manusia terbiasa melihat apa yang belum dimiliki, sementara yang telah ada justru terasa biasa dan luput dari perhatian. Keinginan yang terus bertambah tanpa disadari menutup kesadaran terhadap karunia yang telah hadir dalam kehidupan sehari-hari. Air yang diminum, kesehatan yang dirasakan, serta kesempatan menjalani hari dengan tenang sering kali dianggap hal yang wajar, padahal semuanya merupakan nikmat yang tidak ternilai. Ketika manusia mulai menyadari nilai dari hal-hal sederhana tersebut, ia akan memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari banyaknya yang dimiliki. Dalam kesadaran terhadap nikmat yang sederhana itulah tersimpan kunci ketenangan hidup dan lahirnya rasa cukup dalam hati.

Memahami Makna Syukur dan Rasa Cukup 

Pentingnya sikap syukur tidak hanya dapat dipahami melalui pengalaman hidup, tetapi juga ditegaskan dalam ajaran Islam. Rasulullah bersabda:

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ، وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ

“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak. Dan barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah ” (HR. Ahmad).

Hadits ini menegaskan bahwa syukur dimulai dari menghargai nikmat-nikmat kecil, seperti kesehatan, waktu, dan ketenangan. Kebiasaan menyadari hal-hal sederhana ini akan menumbuhkan rasa cukup dan kedamaian hati. Sebaliknya, mengabaikan nikmat kecil membuat manusia selalu merasa kurang dan sulit menemukan kepuasan dalam hidup.

Belajar Bersyukur dari Kehidupan Sehari-hari 

Pemahaman tentang syukur tidak hanya dijelaskan dalam hadis, tetapi juga sering diingatkan dalam dakwah para ulama. Habib Husein Ja’far Al Hadar mengingatkan bahwa kehidupan yang mungkin terasa “biasa saja” bagi seseorang bisa jadi merupakan mimpi bagi orang lain. Ia menyampaikan,

“Hidupmu yang (mungkin) kau anggap gini-gini saja adalah (mungkin) cita-cita hidup orang lain, maka bersyukurlah.”

Pesan ini mengajarkan bahwa rasa cukup lahir dari kesadaran melihat nikmat dengan hati yang jernih. Ketika manusia mampu menyadari dan menghargai apa yang dimilikinya, ia tidak lagi mudah terjebak dalam perasaan kurang. Dari kesadaran inilah tumbuh ketenangan dan kebahagiaan yang lebih bermakna dalam kehidupan.

Pada akhirnya, syukur bukan sekadar sikap menerima nikmat, tetapi cara memandang kehidupan dengan kesadaran yang lebih dalam. Rasa syukur dapat dilatih melalui langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti menyadari nikmat kecil sebelum mengeluhkan kekurangan, menggunakan apa yang dimiliki untuk kebaikan, serta menghargai peran orang lain dalam kehidupan kita. Membiasakan diri mengucap syukur, menjaga sikap rendah hati, dan melihat kehidupan dengan perspektif yang lebih luas akan menumbuhkan rasa cukup dalam hati. Dengan membangun kebiasaan bersyukur secara konsisten, manusia tidak hanya merasakan ketenangan, tetapi juga menemukan makna sejati dalam setiap keadaan.

Albin M Wiryawan

Bertahan di Tengah Arus Modern

Menjaga iman di era modern menjadi tantangan di tengah perkembangan teknologi, gaya hidup, dan media sosial yang semakin memengaruhi kehidupan sehari-hari. Kemudahan teknologi dapat memberikan banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan bagi seorang Muslim untuk tetap berpegang pada nilai-nilai Islam. Dalam lingkungan pendidikan seperti Teknik Industri UII, mahasiswa juga menghadapi perkembangan tersebut sebagai bagian dari kehidupan akademik dan sosial.

Di tengah perubahan zaman, iman menjadi pegangan agar manusia tidak kehilangan arah. Mengikuti perkembangan zaman bukan berarti mengikuti semua tren, melainkan mampu memilih hal yang membawa kebaikan tanpa menjauhkan diri dari Allah.

Mengikuti Perkembangan Zaman Tanpa Kehilangan Iman

Islam tidak melarang umatnya untuk mengikuti perkembangan zaman. Seorang Muslim tetap dapat belajar, bekerja, bergaul, dan menggunakan teknologi selama tetap berada dalam nilai-nilai yang diridhai Allah.

Teknologi bahkan dapat menjadi sarana untuk belajar agama, menyebarkan kebaikan, dan memperluas wawasan. Penelitian “Enhancing Student Religiosity Through Islamic Content and Influencer Expertise: Social Media Contribution as Mediator” terhadap 180 mahasiswa Muslim menunjukkan adanya hubungan antara kualitas konten Islam di media sosial dan praktik religiusitas. Artinya, persoalannya bukan sekadar menggunakan teknologi atau tidak, tetapi bagaimana dan untuk apa teknologi tersebut digunakan. Media sosial dapat menjadi tempat menuntut ilmu dan berdakwah, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mencari validasi dan perhatian.

Tantangan Menjaga Iman di Era Modern

Kehidupan modern membuat seseorang semakin mudah melihat pencapaian, gaya hidup, dan kehidupan orang lain melalui media sosial. Tanpa disadari, hal tersebut dapat memicu kebiasaan membandingkan diri dan mencari pengakuan.

Hal ini juga dibahas dalam penelitian “Piety, Social Pressure, and Riya’: Religious Practices of Yogyakarta Urban Muslim Youth in Digital Media” mengenai pemuda Muslim urban di Yogyakarta. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa media digital dapat menjadi ruang untuk mengekspresikan kesalehan, tetapi juga menghadirkan tekanan sosial melalui jumlah likes dan pengikut.

Di sinilah iman berperan sebagai pengingat. Seorang Muslim perlu bertanya kepada diri sendiri: “Apakah yang aku lakukan benar-benar karena Allah, atau karena ingin dilihat dan diakui manusia?”

Dunia Hanya Sementara

Allah telah mengingatkan manusia mengenai hakikat kehidupan dunia dalam Al-Qur’an:

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ەۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lalu menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” QS. Al-Ḥadīd [57]: 20

Ayat tersebut mengingatkan bahwa kehidupan dunia pada hakikatnya bersifat sementara. Apa yang hari ini terlihat begitu penting, suatu saat akan berlalu. Popularitas, jumlah pengikut, tren, penampilan, harta, dan berbagai pencapaian duniawi bukanlah ukuran akhir dari keberhasilan seorang manusia. Karena itu, dunia boleh dimiliki dan dimanfaatkan, tetapi jangan sampai membuat hati kehilangan tujuan utama. Zaman boleh berubah, tetapi iman tetap harus menjadi pegangan.

5 Cara Menjaga Iman di Era Modern

Bertahan di Tengah Arus Modern

Lantas, bagaimana cara seorang Muslim bertahan di tengah arus modern? Menjaga iman di era modern dapat dilakukan melalui beberapa langkah sederhana yang perlu diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, menjaga hubungan dengan Allah. Kesibukan dunia tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan ibadah. Salat, doa, membaca Al-Qur’an, dan mengingat Allah merupakan cara untuk menjaga hati agar tetap memiliki arah.

Kedua, memilih lingkungan yang baik. Pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang berpikir dan bertindak. Teman yang baik dapat mengingatkan ketika lalai, menguatkan ketika lemah, dan mengajak kepada kebaikan.

Ketiga, bijak dalam menggunakan media sosial. Tidak semua informasi perlu dikonsumsi dan tidak semua tren harus diikuti. Seorang Muslim perlu belajar memilih konten yang memberikan manfaat serta menghindari hal-hal yang dapat merusak akhlak dan mengganggu ketenangan hati.

Keempat, menjaga keikhlasan. Ketika melakukan kebaikan, jangan sampai penilaian manusia menjadi tujuan utama. Apa yang dilakukan karena Allah tidak selalu harus mendapatkan pengakuan dari manusia.

Kelima, terus belajar. Perubahan zaman membutuhkan ilmu. Dengan ilmu agama dan pengetahuan yang memadai, seorang Muslim akan lebih mampu membedakan antara kemajuan yang membawa manfaat dan perubahan yang justru menjauhkan dari nilai-nilai Islam. Lingkungan pendidikan juga dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan ilmu, keterampilan, dan nilai-nilai yang mendukung kehidupan di era modern.

Zaman Boleh Berubah, Iman Jangan Sampai Hilang

Pada akhirnya, menjadi seorang Muslim di era modern bukan berarti harus menjauh dari perkembangan zaman. Justru seorang Muslim perlu mampu hidup di tengah perkembangan tersebut dengan tetap membawa nilai-nilai Islam. Menjaga iman di era modern bukan berarti menolak teknologi atau menghindari perubahan, tetapi mampu menggunakan perkembangan zaman secara bijak tanpa kehilangan arah hidup.

Zaman boleh berubah. Teknologi boleh berkembang. Cara manusia berkomunikasi boleh berganti. Namun, prinsip keimanan tetap menjadi pegangan.

Iman tidak mengharuskan kita meninggalkan zaman, tetapi mengajarkan kita untuk tidak kehilangan diri di dalamnya.

Dengan menjadikan dunia sebagai sarana untuk beribadah dan berbuat kebaikan, seorang Muslim dapat memanfaatkan perkembangan zaman tanpa membiarkan dirinya terseret oleh arusnya.

Sebab, tantangan terbesar bukanlah hidup di zaman yang semakin modern, melainkan tetap menjadi hamba Allah ketika dunia menawarkan begitu banyak hal yang dapat membuat kita lupa kepada-Nya.

Kaila Bilbina M.S.

Indonesia sebagai negara Muslim terbesar yang mewakili 13% dari populasi Muslim global, adalah bagian integral dan sentral dari ekonomi Muslim yang semakin besar di seluruh dunia. Saat ini Indonesia menempati posisi pertama 10 besar negara yang mengkonsumsi makanan halal di dunia. Dalam satu dekade ke belakang, berwisata ke luar negeri telah menjadi sebuah lifestyle, terutama bagi kaum muda Indonesia. Mudahnya akses dan ketersediaan low-cost carrier maupun B&B yang on-budget menambah kemudahan bagi para kaum muda ini untuk dapat bepergian ke luar negeri. Namun demikian, banyak negara yang menjadi tujuan wisata adalah negara non-muslim, sehingga ketersediaan makanan halal maupun tempat ibadah menjadi permasalahan bagi sebagian orang.

Di beberapa negara dengan yang sering dikunjungi wisatawan muslim, perkembangan terus dilakukan dengan adanya pembangunan atau penyediaan tempat ibadah, yang biasanya digawangi oleh masyarakat muslim di negara tersebut. Demikian pula dengan bertambahnya restoran halal di tempat-tempat wisata. Sayangnya, masih banyak dari masyarakat muslim kita yang belum menyadari makna dari makanan halal tersebut. Lahir di negara muslim dengan 87% penduduknya muslim, membuat sebagian dari masyarakat kita menganggap bahwa seluruh daging selain babi yang dijual merupakan daging halal. Dengan anggapan yang sama, saat melancong ke luar negeri, mereka sering menggunakan kaca mata orang Indonesia. Padahal, sebagai negara non-muslim, sangat jelas bahwa daging yang dijual di supermarket maupun di restoran tanpa label halal, adalah tidak halal/haram.

Sebagai umat Islam, mengkonsumsi makanan halal dan baik (thayib) adalah perintah Allah yang harus dilaksanakan. Hal ini diperintahkan oleh Allah dalam Surat Al-Maidah: 88

وَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اَنْتُمْ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ

Dan makanlah makanan yang halal dan baik (thayib) dari apa yang telah dikaruniakan kepadamu dan bertakwalah kepada Allah dan beriman kepada-Nya.

Dengan demikian, mengkonsumsi makanan halal berdasarkan iman dan taqwa karena mengikuti perintah Allah adalah ibadah yang membawa pahala dan memberi kebaikan dunia dan akhirat. Perintah untuk mengkonsumsi makanan halal juga tertuang dalam Surat Al Baqarah: 168.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Adapun pembahasan mengenai halal dan haramnya makanan yang kita konsumsi, secara gamblang juga telah ditegaskan bahwa makanan dan minuman yang dilarang adalah: bangkai; darah; babi; hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; dan khamr atau minuman yang memabukkan, sebagaimana dituliskan dalam Surat Al-Maidah: 3.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَآ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْۗ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْاَزْلَامِۗ ذٰلِكُمْ فِسْقٌۗ اَلْيَوْمَ يَىِٕسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِۗ اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barangsiapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Banyak wisatawan Indonesia yang masih berpikir bahwa makanan non-halal hanya sebatas babi dan alcohol (minuman). Sayangnya, anggapan yang menggampangkan tersebut salah dan harus dikoreksi. Sedangkan di dalam Qur’an telah disebutkan juga bahwa daging yang tidak disembelih dengan menyebut nama Allah adalah masuk kategori haram. Demikian pula dengan makanan yang merupakan hasil turunan zat-zat haram tersebut. Misalnya shortening, gelatin, mirin, shoyu dengan kandungan alcohol, emulsifier, rum, dan lain sebagainya. Tentu saja, sebagai muslim, saat merencanakan perjalanan juga harus mempertimbangkan akan makan apa dan dimana untuk menjamin makanan yang dikonsumsi adalah halal. Apabila mau sedikit meluangkan waktu, kita bisa merencanakan itinerary dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut. Sayangnya, banyak juga yang mengganggap bahwa mencari makanan halal, namun tidak khas negara tujuan itu tidak sesuai dengan tujuan wisata itu sendiri, terutama yang bertujuan untuk wisata kuliner. Hal-hal tersebut sebenarnya sudah mulai dipikirkan oleh negara tujuan, misalnya Korea dan Jepang yang sudah mulai memperbanyak restoran halal, memberikan ijin untuk pengembangan tempat ibadah (yang harus sesuai dengan aturan bermasyarakat disana), dan membuat halal map yang dapat dipergunakan sebagai acuan dalam pembuatan itinerary.

Bagaimana kita dapat menjamin bahwa makanan yang kita konsumsi saat berwisata ke negara dengan jumlah muslim minoritas itu halal? Seperti halnya di Indonesia, di luar negeri pun terdapat Lembaga yang bertugas mengeluarkan label halal sesuai dengan syariat Islam. Dengan demikian, sebagai muslim kita dapat mencari makanan yang diberi label halal pada kemasannya atau pergi ke restoran yang telah mendapatkan sertifikasi halal dari Lembaga yang ada di negara tersebut. Untuk memudahkan pencarian, sebaiknya saat membuat itinerary juga mencari lokasi restoran halal yang ada di daerah wisata tujuan. Beberapa negara bahkan telah membuat aplikasi untuk mencari restoran halal. Selain itu, pergunakan gadget yang kita miliki seperti google translate untuk membantu menterjemahkan tulisan selain alphabet saat melakukan pengecekan bahan makanan yang dijual. Bagi yang berwisata dengan budget terbatas, membawa bekal makanan instant dari Indonesia juga merupakan opsi yang bisa dipilih. Namun perlu diperhatikan pula untuk alat masak yang disediakan pihak B&B atau sharehouse sangat mungkin terdapat kontaminasi makanan non-halal.

Semoga kita dapat lebih berhati-hati dalam memilih makanan dan minuman yang dikonsumsi, terutama saat bepergian ke luar negeri. Mengkonsumsi makanan yang halal dapat membantu kita untuk senantiasa menjaga hati dan akal sehat, serta mendapatkan Ridha Allah SWT. Dengan mengkonsumsi makanan yang halal dan baik, Insya Allah kita akan selalu siap beramal-shalih.

 

 

Penulis

Meilinda F.N. Maghfiroh

Dosen Jurusan Teknik Industri

Mengenal Tahun Baru Hijriah

Perayaan Tahun Baru Hijriah merupakan salah satu agenda penting dengan beragam sejarah didalamnya. Tahun baru Islam diperingati setiap tanggal 1 Muharram sekaligus memperingati peristiwa Hijrah saat Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya bermigrasi dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 M.

Kalender Hijriah berbeda dengan kalender Masehi, kalender Hijriah menggunakan perhitungan orbit bulan pada bumi, karenanya disebut dengan kalender lunar. Sedangkan kalender Masehi menggunakan perhitungan pergerakan matahari, karenanya disebut dengan kalender solar. Kalender Hijriah maupun Masehi memiliki jumlah bulan yang sama, pada kalender Hijriah sendiri memiliki dua belas bulan dengan nama-nama bulan sebagai berikut: Muharram, Shafar, Rabi’ul Awal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Zulqaidah, dan Zulhijjah.

Awal mula adanya kalender Hijriah adalah pada era kepemimpinan Umar bin Khattab, Umar berdiskusi dengan sahabat Nabi lainnya untuk memilih diantara tiga peristiwa penting sebagai penanda awal tahun Hijriah (Kalender Islam). Tiga peristiwa itu diantaranya adalah hari dan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, wafat Nabi Muhammad SAW, atau Hijrah dari Mekah ke Madinah. Para sahabat sepakat menggunakan tanggal Hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah.

Hijrah ke Madinah adalah titik balik dalam sejarah Islam, menandai awal dari negara Muslim, dan merupakan hari di mana Nabi mendirikan ‘the first civil Muslim society’.

Dilansir dari English Alarabiya, sebelum ditetapkannya Muharram sebagai bulan pertama. Terdapat diskusi tentang apakah bulan pertama tahun ini harus Ramadhan sebagai bulan puasa umat Islam atau Muharram. Kemudian Muharram diumumkan sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah Islam mengingat bahwa itu terjadi setelah umat Islam mengakhiri musim haji tahunan ke Mekah untuk haji selama bulan Dzul-Hijjah.

Sejatinya, jarang ada perayaan besar yang diadakan di sebagian besar negara mayoritas Muslim. Namun banyak yang menyatakan hari libur umum untuk memperingatinya. Ini termasuk negara kita Indonesia danbeberapa negara lain seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Tunisia.

Untuk memperingati tahun baru Hijriah, mari rayakan dengan berdo’a awal tahun:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

اَللَّهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِه، وَالعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ

Allâhumma antal abadiyyul qadîmul awwal. Wa ‘alâ fadhlikal ‘azhîmi wa karîmi jûdikal mu‘awwal. Hâdzâ ‘âmun jadîdun qad aqbal. As’alukal ‘ishmata fîhi minas syaithâni wa auliyâ’ih, wal ‘auna ‘alâ hâdzihin nafsil ammârati bis sû’I, wal isytighâla bimâ yuqarribunî ilaika zulfâ, yâ dzal jalâli wal ikrâm.”

 Artinya:

“Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.”

(Sumber: Kitab Kanzu Najah; Maimoen Zubair)

Selamat Tahun Baru Islam 1443 H

Pendekatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Kala PPKM

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Indonesia sudah berlangsung sejak 3 Juli 2021 hingga 20 Juli 2021 yang wacananya akan diperpanjang hingga 28 Juli 2021. Hal ini dilakukan karena angka kasus Covid-19 di Indonesia belum dapat dikendalikan.  Bahkan dalam beberapa hari terakhir, angka kasus positif Covid-19 yang dilaporkan cenderung mengalami peningkatan.

Oleh sebab itu, masing-masing individu memiliki perananyang sangat penting untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan agar pandemi ini diharapkan bisa berakhir dan tidak terjadi penularan lebih lanjut. Adapun aksi yang tepat adalah dengan menaati protokol yang sudah diberikan mengenai apa yang perlu dilakukan secara pribadi untuk meningkatkan kepedulian dan mencegah terinfeksi Covid-19. Sesuai dengan Al-Quran surat An-Nisaayat 59, di awal bahwa:

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan kepada para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar- benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa[4]: 59)

Selain itu terdapat pedoman risk assessment yang dilakukan dengan menggunakan prinsip dasar keselamatan dan kesehatan kerja, dalam hal ini diterapkan framework pembuatan proses dan keputusan berdasar ilmu industrial hygiene. Langkah framework terdiri dari antisipasi dan pengenalan hazard atau sumber bahaya, evaluasi paparan dan yang terakhir melakukan kontrol serta memastikan perlindungan terhadap risiko bahayanya (Zisook, et al., 2020).

Sangat penting untuk mengantisipasi, mengenali, dan mengidentifikasi hazards pada cara penularannya dan siapa yang bisa terdampak, dimana Covid-19 bahayanya adalah droplet atau cairan dari penderita sampai kepada orang sehat. Cara penularan dengan tersemburnya pada saat bersin, berbicara atau bersentuhan secara langsung. Penderita yang mungkin bisa terkena sebelumnya dilansir bahwa kerentanan terjadi pada penduduk usia lanjut dan yang memiliki komorbid atau penyakit bawaan lainnya. Namun sejarah menunjukkan bahwa tidak menutup kemungkinan untuk semua kategori usia dapat tertular, sehingga hati-hati merupakan langkah yang tidak salah.

Adapun langkah lain yaitu melakukan kontrol dan memastikan perlindungan sudah baik dan benar dapat dilakukan dengan mematuhi protokol dengan menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Masker perlu dipastikan sesuai, fit to use atau sesuai bentuk wajah dan menutupi area hidung, mulut, dan dagu secara baik. Apabila sudah tidak efektif, segera ganti masker, disarankan dengan menggunakan double mask dengan lapisan masker disposable yang ditutup dengan masker kain untuk ektra proteksi saat terdesak untuk keluar rumah, dan tetap menjaga jarak dengan memastikan untuk tidak berada  pada keramaian. Saat berada di luar, kita harus memastikan melakukan cuci tangan dilakukan sesuai petunjuk selama minimal 20 detik dengan menjangkau seluruh area tangan yang mungkin terpapar, dan menghindari menyentuh wajah di keramaian.

ppkm masker

Sebagai hamba yang beriman, sebaiknya kita meyakini bahwa manusia bisa berusaha namun mari kita serahkan semua usaha kita untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. Ar-Ra’d: 11)

 

Ditulis oleh: Putri Shafira Carolina

Editor : Abdullah ‘Azzam

Sumber: Ragil, Muhammad Suryoputro (2021), Peran Teknik Industri Di Masa Pandemi Covid 19: Menghadapi Pandemi Covid-19 Dengan Pendekatan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja. Yogyakarta: KEPEL Press

Sejak awal diberikannya wahyu pertama di Gua Hira, Nabi Muhammad SAW telah menanamkan rasa persaudaraan dan ikatan iman di antara para pengikutnya. Ketulusan hatinya untuk melindungi umat dibuktikan dengan beragam peristiwa, disertai tangis, dan do’a yang selalu Rasulullah SAW panjatkan agar umat-nya senantiasa diberi perlindungan.

Nabi Muhammad SAW adalah pria dengan wajah yang bersinar mengalahkan bulan purnama, memiliki tubuh yang sempurna, dengan senyuman yang merekat diparasnya. Semua kebaikan Nabi Muhammad SAW perlu diterapkan pada kehidupan sehari-hari kita yang disebut Sunnah berarti ‘kebiasaan’, seperti kebiasaan tertawa tidak terbahak-bahak, berbicara dengan pelan dan jelas, memperhatikan lawan bicara, dan banyak lainnya.

Nabi Muhammad SAW senantiasa mendoakan umatnya, hingga menangis saat sedang bersujud karena bersedih untuk umatnya. Rasulullah SAW pun pernah shalat dengan melafalkan satu ayat berulang-ulang, ayat tersebut adalah Al-Maidah ayat 118 yang berisi:

اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۚوَاِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”

Sebagai umat Muslim, kita patut berbahagia memiliki suri tauladan yang menyebut nama umat dalam setiap pikirnya. Nabi Muhammad SAW yang berlaku baik sebagai contoh untuk umatnya agar selalu berada pada jalan yang benar. Seperti contoh kebaikan Nabi Muhammad SAW yang bergabung dengan para pemuda, menanggapi cerita, mengikuti alur pembicaraan, dan menambahkan pelajaran juga manfaat pada setiap percakapan. Hal ini dapat dicontoh oleh para pengajar, dapat meneladani Rasulullah SAW dengan berbaur, mendengarkan, menanggapi, memberikan pelajaran kepada mahasiswanya, dan tak lupa dengan batasan sesuai posisi sebagai pengajar.

Untuk mencintai Nabi Muhammad SAW tentunya kita harus mengenal kebaikannya dan kedekatan kita kepada Rasulullah tergantung dengan seberapa besar kita meneladani suri tauladan kita Rasulullah SAW.

Halal bihalal Teknik Industri UII 2021

Dalam satu hari, kita membaca syahadat minimal 5 kali saat shalat, mengamalkan Ashadualla Ilahailallah namun sering luput akan pengamalan Ayshadu Anna Muhammadarrasulullah
Karenanya, diharapkan dengan materi syawalan ini dapat mendekatkan kita terhadap pengamalan kebaikan Nabi Muhammad SAW. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Dikutip dari ceramah Bambang Suratno, S.T., M.T., Ph.D

 

Penulis

Putri Shafira Carolina

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Mengapa kita harus menjauhi riba, karena dalam hadits yang sudah disepakati keshahihannya dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ! وَذَكَرَ مِنْهُنَّ: آكِلَ الرِّبَا.

“Jauhilah tujuh perkara yang membawa kehancuran,” dan beliau menyebutkan di antaranya, “Memakan riba.”

Dan telah datang ijma’ atas haramnya riba.

Imam ‘Ali bin Husain bin Muhammad atau yang lebih dikenal dengan sebutan as-Saghadi, menyebutkan dalam kitab an-Nutf bahwa riba menjadi tiga bentuk yaitu:

  1. Riba dalam hal peminjaman.
  2. Riba dalam hal hutang.
  3. Riba dalam hal gadaian.

Bagaimana sebagai seorang muslim/muslimah membangun bisnis yang tidak menggunakan riba?

Beberapa yang bisa diihtiarkan adalah memulai dari belajar sistem, dengan menjadi seorang karyawan pada perusahaan terbaik dikelasnya pada wilayah setempat.  Kita bisa mempelajari konsep cashflow quadrant yang dikeukakan oleh Robert T Kiyosaki, dengan melakukan penyesuaian sebagaimana bisnis yang diajarkan oleh Rosululloh SAW.

Gambar 1 Cashflow Quadrant

 

Gambar 2 Income statement dan Balance sheet

Memulai usaha/bisnis bagi pemula atau fresh graduate, permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana menemukan ide bisnis yang bagus dan sesai dengan passionnya, bagaimana permodalannya, bagaimana mengelola customer, supplier, dan karyawan, dan lain sebagainya. Memulai bisnis tanpa ilmu dan pengalaman sangat beresiko tinggi, apalagi kalau membangun bisnis menggunakan utang bank dengan bunga riba, itu adalah keputusan MORON alias bodoh, karena mencadangkan atau membayar kepastian dengan ketidakpastian. Artinya pemasukan dari bisnis tidak pasti, tapi angsuran (pokok + riba) yang harus dibayar adalah pasti.

Langkah apa yang bisa dilakukan?

Mengutip dari konsep yang dikemukakan oleh Robert T Kiyosaki pada cashflow quadrant, bisa diambil langkah awal adalah menjadi seorang E(Employee). Artinya kita membidik bisnis yang akan dipilih, diawali menjadi karyawan pada bisnis yang sejenis. Menjadi E diniatkan untuk belajar bagaimana menjalankan bisnis.. Jadi niat utama adalah belajar sambl melakukan akumulasi modal. Dari gambar 2, kotak income statement terdapat income, setelah dikurangi expenses maka masih ada saldo. Saldo yang ada ini dibelikan asset, bukan dibelanjakan untuk liabilities. Dengan membeli asset ini maka kita berada pada kuadrant 4 yaitu investor. Hasilnya bisa menambah income pada income statement, sehingga saldo akan bertmbah. Dalam kurun waktu 3 hingga 5 tahun, penguasaan atas bisnis menjadi semakin matang dan bisa menjadi seorang konsultan. Otomatis kita berada pada kuadrant 2, yaitu self-employment. Hasilnya akan menambah deretan income.

Langkah berkutnya adalah memulai membangun bisnis dimulai dari kecil. Dengan berbekal pengetahuan, pengalaman, dan modal yang memadahi, bisnis level kecil bisa dibangun. Selalu menjaga agar bisnis jauh dari maksiat dan tidak menggunakan uang bank yang mengandung riba.

Langkah terakhir adalah menuju kebebasan finansial dengan memperbanyak dan memperkuat kuadran 4 yaitu menjadi seorang investor sehingga waktu untuk beribadah menjadi semakin longgar, tanpa adanya angsuran bank yang mengandung riba.

Referensi:

 

https://almanhaj.or.id/4044-riba-pengertian-dan-macam-macamnya.html

Robert T Kiyosaki, Cash flow Quadrant

 

Penulis

Dr. Taufiq Immawan, S.T., M.M.

Dosen Jurusan Teknik Industri

Bismillaahirrahmanirrahiim

Adalah kewajiban bagi tiap muslim untuk menuntut ilmu. Jika dikaitkan dengan kondisi mahasiswa yang menuntut ilmu dengan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, yang harus menjadi perhatian penting yaitu bagaimana adab menuntut ilmu. Dalam hal ini penulis ingin mengingatkan bahwa kewajiban menuntut ilmu sebenarnya adalah ilmu agama. Ilmu dunia seperti yang dipelajari di perkuliahan hukum asalnya adalah mubah atau boleh. Bahkan akan menjadi lebih baik jika kelak ilmu dunia tersebut, misalnya mata kuliah optimisasi dalam prodi Teknik Industri, dipergunakan untuk kemaslahatan dan kebangkitan umat muslim. Berkata ‘Abdullah bin Mubarak rahimahullah bahwa sesuungguhnya awal dari ilmu itu adalah: (1) niat karena Allaah Ta’ala; (2) mendengarkannya; (3) memahaminya; (4) menghafalkannya; (5) mengamalkannya; dan (6) menyebarkannya.

Bermula dari niat untuk akhirat, niatkanlah bahwa ilmu dunia tersebut untuk membantu kebangkitan kaum muslimin. Tidak jarang mahasiswa menimba ilmu sampai jenjang sarjana hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus, kemudian akan dipakai untuk mencari pekerjaan di perusahaan-perusahaan berpredikat baik demi pendapatan yang tinggi. Niat bukan untuk akhirat, alih-alih menuntut ilmu malah menuntut nilai. Bukankah Allah Maha Melihat proses pembelajaran yang dilalui? Dengan menerapkan keyakinan beriman kepada Allah, ketika nilai yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka akan senantiasa tawakal. Jika sudah belajar dengan penuh kesungguhan, mengikuti cara-cara yang baik dalam proses pembelajarannya seperti berusaha dalam menyelesaikan tugas tanpa meng-copy tugas teman, Allah Maha Tahu segala. Memang sebagai manusia, sering melakukan khilaf dan salah, tidak mudah menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan. Kembali lagi kepada awal ilmu, perbaiki niat bahwa semata karena Allah, untuk akhirat, untuk kebangkitan Islam. Kelak ketika masa hisab datang, tidaklah dipertanyakan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) berapa melainkan mempertanggungjawabkan segala kecurangan yang dilakukan. Karena mata, telinga, tangan, dan semua anggota tubuh akan menyampaikan tiap perbuatan selama di dunia.

Al-Hasan Al-Bashry rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa mengungguli manusia dalam ilmu, maka dia lebih pantas untuk mengungguli mereka dalam amal”. Hal ini menjelaskan bahwa semakin banyak ilmu yang dimiliki oleh seseorang maka semakin banyak amal yang dilakukan. Senada dengan Al-Hasan Bashry rahimahullah, Al-Imam Sufyan bun Uyainah rahimahullah berkata bahwa manusia yang paling bodoh adalah siapa yang meninggalkan apa yang dia ketahui, manusia yang paling berilmu adalah siapa yang mengamalkan apa yang dia ketahui dan manusia yang paling utama adalah siapa yang paling takut kepada Allah Azza Wajalla. Dari keduanya, dapat disimpulkan bahwa manusia yang paling berilmu adalah yang mengamalkan ilmunya. Pada suatu training, pemateri menyampaikan bahwa terdapat suatu aturan yang disebut Rules 72. Yaitu jika sesuatu tidak diulang dalam 72 jam ke depan maka dipastikan seseorang akan lupa dengan apa yang telah dipelajarinya. Dari pengalaman mengajar, sangat sering mahasiswa tidak mengulang materi yang telah diberikan jika tidak diikuti dengan tugas. Di beberapa pertemuan perkuliahan, sebuah pertanyaan sering dilontarkan pada awal sesi, “Kapan terakhir Anda mengulang atau membaca materi minggu lalu?”. Dapat ditebak jawaban mahasiswa adalah minggu lalu pada saat di kelas. Mengamalkan suatu materi yang telah diajarkan dapat berupa mengerjakan latihan-latihan soal baik yang dibagikan oleh dosen maupun dari berbagai referensi, jika mata kuliah hitungan seperti Kalkulus. Sesuai dengan pepatah, ala bisa karena biasa. Semakin sering mengamalkan, semakin terasah kemampuan berhitungnya, semakin faham penerapan suatu rumus. Selain hitungan, mahasiswa harus mampu memahami dasar teori suatu mata kuliah seperti Fisika Dasar. Sebelum menyelesaikan soal hitungan, dibutuhkan kemampuan analisis yang terkadang lebih rumit daripada rumus Fisika itu sendiri. Dengan mengamalkannya melalui pengulangan materi secara mandiri maupun bersama-sama di luar kelas akan membuktikan bahwa ia adalah seorang yang berilmu, memahami suatu ilmu.

Dikisahkan oleh seorang ulama besar, asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbadhafizhahullah tentang akhlak al-Mujaddid al-‘Allamah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, di masjid Universitas Islam di Madinah pada malam Jumat, 6 Safar 1420 H. Beliau asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz memiliki cita-cita yang tinggi, rajin, dan bersemangat dalam menuntut ilmu. Beberapa hal yang dapat dicontoh dari asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz adalah kesabaran dan kesungguh-sungguhan dalam menuntut ilmu, mengamalkan ilmu, khasyah (rasa takut) dan ibadah, ketegaran dan keberanian dalam berdakwah, ketawadhuan dan kepedulian, dan yang terakhir adalah kasih sayang terhadap umat. Ketika usia 16 tahun, beliau mengalami sakit yang mengakibatkan penglihatannya semakin lemah dan tidak mampu melihat pada usia 20 tahun. Namun, Allah Subhanahu wata’ala mengaruniai beliau dengan iman dalam hati sehingga beliau tumbuh di atas ilmu, keutamaan, dan kesungguhan dalam mencari ilmu.

Ketika setiap hasil akhir dari suatu mata kuliah tidak seperti yang ditargetkan, maka senantiasa bersabar. Hal yang menurut pandangan manusia buruk atau jelek, tetapi tidak demikian di sisi Allah. Boleh jadi Allah menegur kita bahwa pada semester itu kita tidaklah benar-benar memanfaatkan waktu untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, mendengarkan yang dijelaskan oleh para dosen. Memperbaiki nilai dengan mengulang pada semester berikutnya bukanlah perkara memalukan selama niatnya karena Allah semata, untuk beribadah. Terkadang kita perlu berada di bawah, merasakan kondisi tidak menyenangkan, agar ketika masa susah itu terlewati kita dapat menghargai masa senang yang didapatkan. Tentunya ikhtiar senantiasa dilakukan, mengikuti tiap proses pembelajaran dengan cara-cara yang ma’ruf, menghindari kecurangan, karena hasil akhir merupakan akumulasi (kumulatif) dari yang telah diusahakan sejak awal semester.

Ilmu terdiri dari tiga tahapan: (1) jika seseorang memasuki tahapan pertama, dia akan sombong: (2) jika dia memasuki tahap kedua, dia akan tawadhu (rendah hati); (3) jika dia memasuki tahapan ketiga, dia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya (Umar bin Khattab). Tentang keutamaan tawadhu, sebuah hadits menjelaskan, “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta, tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain melainkan Allah akan menambah kemuliaannya, dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya” (HR. Muslim, no. 2588). Ada kalanya timbul rasa sombong tatkala kita memahami suatu materi yang dijelaskan dosen, dan dijadikan rujukan oleh teman-teman kelas dalam belajar. Namun, janganlah lupa bahwa sedikit kemampuan yang didapatkan tersebut adalah karena Allah yang Maha Baik. Dengan mudah semua kepintaran yang dimiliki dapat sirna atas izin Allah. Belajar dari padi, semakin berisi semakin merunduk. Alangkah beruntungnya jika kita mampu memasuki tahap ketiga yaitu merasa diri ini tidak ada apa-apanya jika bukan karena segala rizki dan hidayah dari Allah.

Berkata Al-Hasan al-Bashry rahimahullah, “Barangsiapa yang menuntut ilmu dalam rangka ingin mendapatkan keutamaan yang ada di sisi Allah, maka itu jauh lebih berharga dibanding dunia yang matahari senantiasa menyinarinya”. Innamaa a’maalu binniyaati, sesungguhnya tiap amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya. Berangkat dari rumah, tinggal berjauhan dari orangtua dan keluarga, ingin menuntut ilmu di perguruan tinggi, semoga tidak menjadi sia-sia karena tidak disertai akhlak menuntut ilmu. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, awal ilmu salah satunya adalah niat. Masih ada waktu untuk memperbaiki, niatkan karena Allah, untuk beribadah, untuk dipergunakan bagi kemaslahatan umat. Diseimbangkan antara menuntut ilmu agama dan dunia demi keselamatan akhirat. Dalam perjalanan perkuliahan terkadang kita tersesat. Senantiasa berdoa mohon kepada Allah agar kita tetap kuat. Aamiin

Penulis

Suci Miranda, S.T., M.Sc.

Dosen Jurusan Teknik Industri

 

Seorang Capster (Pemotong Rambut) saat berbincang dengan pelanggannya, memberikan pernyataan bahwa Tuhan itu tidak ada. Lalu pelanggan tersebut bertanya kepada Capster tersebut, kenapa bisa begitu? Capster tersebut menjawab, karena di luar sana masih banyak terjadi kekacauan, pencurian , perampokan, orang kelaparan dan lain sebagainya. Pelanggan tersebut ingin menjawab, namun mencari jawaban yang tepat. Setelah selesai potong rambut, saat keluar dari barber shop, dia melihat sosok laki-laki berambut panjang yang sedang mendengarkan musik di telinganya. Laki-laki tersebut diajak masuk ke barber shop dan dipertemukan dengan Capster. Lalu si pelanggan mengatakan bahwa tidak ada Capster di dunia ini. Sang Capster  sedikit bingung dengan pernyataan pelanggannya. Capster menjawab, yang salah laki-laki berambut panjang tersebut, mengapa dia tidak mau datang ke barber shop untuk minta tolong dipotong rambutnya. Pelanggan tersebut menjawab, itulah yang terjadi saat ini, manusia yang tidak mau datang ke Tuhannya, sehingga banyak terjadi kekacauan, pencurian, perampokan, orang kelaparan, dan lain sebagainya. Seandainya manusia selalu datang ke Tuhannya, maka keburukan tersebut tidak akan terjadi.

Kisah di atas bercerita tentang seseorang yang tidak percaya akan adanya Tuhan, disebabkan masih banyak terjadi keburukan. Namun kenyataannya adalah manusia sendiri tidak kembali ke Tuhannya, sehingga jauh dari petunjuk Tuhannya sehingga dengan mudah melakukan hal-hal yang buruk. Tidak bisa membedakan mana yang hak dan yang batil. Perlu diketahui bahwa kita hidup di dunia ini sudah takdirnya Alloh, dimana sudah tertuliskan di Kitab Lauhul Mahfudz. Kapan dan dimana kita dilahirkan dan meninggal, siapa jodohnya, dan seberapa besar rezekinya selama hidup, semua sudah tertuliskan di Kitab-Nya Alloh. Mengimani takdir adalah salah satu  rukun islam. Namun Alloh memberikan kesempatan kepada manusia untuk berusaha atau ikhtiar agar dapat mendapatkan hasil yang terbaik.

Itu yang dinamakan Peluang. Peluang untuk mendapatkan hasil yang terbaik dengan cara berusaha semaksimal mungkin. Manusia tidak akan tahu takdirnya sebelum peristiwa itu terjadi. Sebelum peristiwa terjadi, maka manusia harus berusaha semaksimal mungkin. Misal mahasiswa yang ingin mendapatkan nilai A. Kriteria untuk mendapatkan nilai A dapat diketahui sebelumnya, dengan mencapai nilai bobot UTS 30%, UAS 30%, dan Tugas 40%. Maka mahasiswa tersebut akan semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai ujian sempurna dan mengerjakan tugas sesuai kriteria yang telah ditetapkan. Selama satu semester sebisa mungkin untuk selalu hadir di kelas dan mendengarkan apa yang disampaiakan oleh dosen. Setelah semua komponen dilakukan secara maksimal, maka Peluang untuk mendapatkan nilai A terpenuhi.

Namun apa yang terjadi jika Alloh berkehendak lain. Contoh saat dosen akan memberikan nilai A karena semua komponen memenuhi syarat, saat akan mengumpulkan nilai di akademik, tanpa disengaja dosen menuliskan huruf C, dikarenakan dosen tersebut salah membaca nama atau nomor induk mahasiswa tersebut. Itu hak-Nya Alloh semata bila hal tersebut bisa terjadi. Jadi, takdir nilai mahasiswa tersebut adalah C. Jika mahasiswa tersebut menerima takdirnya dengan ikhlas, maka nilainya tetap C. Sebenernya mahasiswa tersebut masih ada Peluang untuk memperbaiki nilai tersebut, dengan menanyakan kepada dosen pengampu atau mengikuti ujian perbaikan. Dengan memaksimalkan usaha atau ikhtiar, mahasiswa tersebut sudah melakukan sesuai dengan prosedurnya, dan hasil akhir adalah kewenangan Alloh.

            “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka. (QS 13:11).

Ayat tersebut mengindikasikan bahwa kita ada pilihan untuk dapat merubah nasib kita sendiri. Sekali lagi adanya Peluang untuk dapat merubah nasib kita sendiri. Pilihannya adalah apakah kita mau hidup sengsara atau bahagia. Jika pilihannya adalah hidup sengsara, tidak perlu melakukan apa-apa, tidak perlu melakukan aktivitas apapun, bermain judi, menghambur-hamburkan uang, dan lain sebagainya. Begitupula sebaliknya, jika ingin merubah nasib lebih baik, maka kita harus bekerja, berusaha yang terbaik, dan yang paling penting adalah datang ke Alloh untuk selalu mendapatkan ridho-Nya.

Manusia yang sedang mendapatkan ujian dari Alloh itu bukan berarti Alloh benci dengan hamba-Nya, namun dengan ujian akan membedakan siapa yang beriman dan yang tidak beriman. Bagi yang beriman, dengan mendapatkan ujian, akan lebih menguatkan iman orang tersebut, karena disitulah kesabaran orang yang beriman akan diuji.

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS 2:153).

Dengan kesabaran itulah menjadi penolong bagi yang beriman, sehingga masalah seberat apapun tidak menjadi suatu masalah yang besar, namun akan menguatkan keimanan. Maka dari itu, dengan semakin banyak masalah di kehidupan ini, maka akan membentuk kedewasaan seseorang, bukan sebaliknya yang akan menjadikan suatu masalah adalah beban hidup. Belum lama juga terjadi seseorang yang tidak kuat menghadapi masalah hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Terjadinya keburukan di dunia ini, bukan berarti Tuhan tidak ada, namun yang diinginkan Alloh adalah adanya keburukan, maka diharapkan kebaikan akan muncul pula. Seandainya banyak manusia di dunia ini yang kelaparan, maka diharapkan ada manusia lain yang merasa prihatin dan tergerak hatinya untuk membantu manusia yang kelaparan tersebut. Dengan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Peluang manusia untuk melakukan kebaikan cukup besar. Memaksimalkan usaha dan disertai dengan doa berharap kepada Tuhan yaitu Alloh agar mendapatkan ridho-Nya.

Penulis

Chancard Basumerda, S.T., M.Sc.

Dosen Jurusan Teknik Industri