Dunia akademik selalu berkaitan dengan nilai, IPK, ranking, beasiswa, kompetisi, hingga tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik. Hal ini membuat banyak pelajar dan mahasiswa hidup dalam kecemasan yang nyaris konstan. Ambisi menjadi bahan bakar untuk terus berjuang, tapi jika melewati batas, ambisi bisa berubah menjadi beban jiwa. Di tengah tekanan tersebut, tawakal dapat menjadi pegangan agar seseorang tetap berusaha tanpa larut dalam kecemasan terhadap hasil.

Pada islam sendiri tidak pernah melarang seseorang untuk berambisi, unggul, dan berprestasi. Tetapi untuk berambisi harus sesuai tempatnya, seperti mahasiswa berambisi di lingkup Teknik Industri UII. Tetap dikejar dengan sungguh-sungguh, namun hasil akhirnya diserahkan kepada Allah. Keseimbangan inilah yang dinamakan antara ikhtiar (usaha) dan tawakal (berserah diri). Kedua sisi ini haruslah tidak terpisahkan.

Ikhtiar Maksimal, Perintah bukan Pilihan

Tawakal bukan berarti hanya berserah tanpa usaha yang jelas sehingga hanya bermalas-malasan. Tawakal yang benar selalu didahului oleh usaha yang sungguh-sungguh. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW apakah ia boleh melepas untanya begitu saja sambil bertawakal kepada Allah. Nabi SAW bersabda:

حَدَّثَنَا أَبُو حَفْصٍ، عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ، حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ أَبِي قُرَّةَ السَّدُوسِيُّ، قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ قَالَ ” اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ ” . قَالَ عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ يَحْيَى وَهَذَا عِنْدِي حَدِيثٌ مُنْكَرٌ . قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ الضَّمْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحْوُ هَذَا .

“Anas bin Malik meriwayatkan bahwa seorang lelaki berkata: “Wahai Rasulullah! Haruskah aku mengikatnya dan bertawakkal (kepada Allah), atau membiarkannya longgar dan bertawakkal (kepada Allah)?” Beliau bersabda: “Ikatlah dan bertawakkallah.”” (HR. Tirmidzi, no. 2517)

Hadits ini menjadi fondasi penting bahwa tawakal tanpa usaha bukanlah tawakal, melainkan bentuk kepasrahan yang salah tempat. Allah juga menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa hasil sebuah usaha tidak datang sendiri, melainkan melalui proses yang diperjuangkan:

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ

“Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm [53]: 39)

Bagi seorang mahasiswa, ayat ini bisa menjadi sebuah peringatan serta dapat memotivasi. Belajar dengan baik, mengerjakan tugas dengan teliti, disiplin waktu, dan terus berusaha menjadi lebih baik bukan hanya untuk mendapatkan hasil yang bagus, tetapi juga termasuk ibadah. Karena Allah melihat usaha dan kesungguhan seseorang, bukan hanya hasil akhirnya.

Tawakal: Berusaha Sebaik Mungkin, Lalu Menyerahkan Hasil kepada Allah

Titik paling rawan bagi banyak pelajar adalah ketika usaha sudah maksimal, tetapi hasil tidak sesuai harapan. Justru pada titik inilah makna tawakal benar-benar teruji. Tawakal bukan berarti pasrah sebelum mencoba, melainkan menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah usaha yang sudah terlaksana secara sungguh-sungguh. Allah berfirman:

فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ۝١٥٩ …..

“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)

Ketenangan yang lahir dari tawakal membuat seorang mukmin dapat berusaha dengan lebih tenang tanpa dihantui rasa takut berlebihan terhadap kegagalan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian pada (Supriadin et al., 2024) yang menunjukkan bahwa 84,2% responden memahami tawakal sebagai perpaduan antara usaha dan berserah diri kepada Allah. Sedangkan 52,6% responden meyakini bahwa tawakal dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan solidaritas. Sehingga, tawakal mengajarkan bahwa seseorang perlu tetap berusaha sebaik mungkin, tetapi tidak membiarkan hasil menjadi sumber kecemasan karena hasil akhirnya merupakan bagian dari kehendak Allah.

Menjaga Hati dengan Ikhtiar dan Tawakal

Dalam dunia akademik, ada dua sikap berlebihan yang perlu dihindari. Terlalu berharap pada pertolongan Allah tanpa diiringi usaha dapat membuat seseorang menjadi pasif dan malas berusaha. Sebaliknya, terlalu takut terhadap kegagalan dapat membuat seseorang terus merasa cemas dan terlalu memikirkan hasil. Karena itu, diperlukan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal, yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh tanpa terlalu bergantung pada hasil, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Rasulullah SAW mengajarkan jalan tengah yang indah melalui sebuah doa yang penuh makna:

اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah].” (HR. Ibnu Hibban)

Doa ini mengajarkan bahwa usaha manusia hanyalah sarana, sementara kemudahan sejati datang dari Allah. Seorang pelajar yang memahami hal ini akan tetap berjuang habis-habisan dalam belajar, mengejar prestasi, dan memperbaiki diri tetapi tidak akan berkecil hati saat hasil belum sesuai rencana. Hal ini karena ia yakin bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya, baik hasilnya terlihat langsung maupun tidak.

Mengejar Cita-Cita dengan Hati yang Tenang

Menyeimbangkan ambisi dan tawakal bukan berarti mengurangi usaha, tetapi belajar menerima bahwa hasil tidak selalu sesuai dengan yang diharapkan. Seorang pelajar tetap perlu belajar dengan sungguh-sungguh karena semua itu merupakan bagian dari usaha dan tanggung jawab. Setelah berusaha sebaik mungkin, hasil akhirnya diserahkan kepada Allah dengan hati yang tenang dan lapang.

Dengan sikap tersebut, seorang pelajar dapat terus mengejar cita-cita dan memberikan usaha terbaik tanpa terlalu cemas terhadap hasil yang akan diperoleh.

Nisrina Nur Masrefa

 

REFERENSI

Supriadin, I., Abubakar, A., & Arsyad, A. (2024). DISKURSUS TEOLOGI QADARIYAH DAN JABARIYAH : TAWAKAL DALAM TINJAUAN FILOSOFIS DAN SURVEY. Jurnal Studi Islam, 5(2).

Jaga Lisan

Di era digital, perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia berinteraksi, bekerja, dan membangun kehidupan sosial. Hal ini juga menjadi bagian dari perhatian Teknik Industri UII dalam melihat hubungan antara manusia, teknologi, dan sistem yang terus berkembang. Di tengah perubahan tersebut, menjaga lisan di era digital menjadi tanggung jawab yang semakin penting. Satu ketikan, satu komentar, dan satu unggahan kini dapat menjangkau jutaan orang dalam hitungan menit. Semudah itu, tetapi sebesar itulah tanggung jawab yang menyertainya. Di tengah derasnya arus informasi, kita kerap lupa bahwa setiap kata yang kita ketik adalah bagian dari “lisan” kita; dan bahwa lisan, dalam ajaran Islam, adalah gerbang kebaikan sekaligus gerbang kehancuran.

Dua Kisah yang Menggugah

Beberapa waktu terakhir, publik dihebohkan oleh dua peristiwa yang sama-sama bermula dari komentar di media sosial. Yang pertama adalah kisah seorang kakek penjual pakaian, Pak Pitono (akun TikTok toko.pa.pitono), yang rutin berjualan melalui siaran langsung. Alih-alih mendapat dukungan, barang dagangannya justru dihina-hina: disamakan dengan barang yang diambil dari jemuran tetangga atau dari tong sampah. Menariknya, sang kakek merespons dengan sangat tenang bahkan meminta maaf kepada para penonton. Sikap itulah yang kemudian memancing gelombang simpati publik (TribunWow, 8 Agustus 2026).

Kisah kedua lebih memilukan. Yurizal Tri Chaerawan (29 tahun), pasien BPJS yang tengah sakit, mengeluh di platform Threads pada 22 Juli 2026 bahwa ia telah menunggu delapan jam untuk mendapatkan kamar rawat inap. Alih-alih mendapat empati, tulisannya justru dibalas hujatan, termasuk dari oknum tenaga kesehatan di media sosial. Sekitar sepekan kemudian, pada 31 Juli 2026, Yurizal meninggal dunia. Hingga kini belum ada keterangan medis resmi yang menyatakan kematiannya berkaitan dengan waktu tunggu tersebut (Kompas, 5 Agustus 2026). Namun satu hal yang pasti: unggahan terakhirnya di dunia ini dijawab bukan dengan doa, melainkan dengan hujatan.

“Barang dari tong sampah.” “Minta diprioritaskan.” “Alay.” Kata-kata seperti ini hanya butuh tiga detik untuk diketik, tetapi bekasnya bisa menetap bertahun-tahun di hati seseorang. Bahkan, bisa menjadi kalimat terakhir yang ia baca sebelum berpulang.

Menjaga Lisan di Era Digital dalam Pandangan Islam

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Man kāna yu’minu billāhi wal-yaumil-ākhiri fal-yaqul khairan au liyashmut.

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengajarkan bahwa diam bukan kehilangan, melainkan wujud iman. Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa seorang hamba bisa mengucapkan satu kalimat yang diridai Allah sehingga diangkat derajatnya, dan bisa pula mengucapkan satu kalimat yang dimurkai Allah sehingga ia terjungkal ke dalam neraka (HR Bukhari). Betapa tipis jarak antara dua kalimat itu dan betapa cepat jari kita mengetik tanpa menghitung.

 

Allah juga berfirman dalam QS Qaf (50): 18:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Mā yalfiẓu min qaulin illā ladaihi raqībun ‘atīd.

Artinya: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”

Ayat ini selama ini dipahami untuk ucapan lisan. Di era digital, ia memperoleh makna baru: setiap huruf yang kita ketik, setiap komentar yang kita kirim, juga tercatat. Tidak ada mode penyamaran di hadapan Allah.

Dari Ucapan ke Tulisan: Jempol Juga Lisan

Sebagian orang merasa aman karena yang ia tulis dianggap bukan “ucapan”. Padahal, para ulama memandang tulisan sebagai lisan kedua. Karena itu, menjaga lisan di era digital tidak hanya berarti menjaga ucapan, tetapi juga menjaga setiap tulisan dan komentar yang kita bagikan: al-kitābah ka al-khiṭāb artinya tulisan memiliki kedudukan seperti pembicaraan. Bahkan tulisan bisa lebih berbahaya daripada ucapan. Ucapan hilang bersama suara; tulisan abadi di server, dapat disalin, disebar, dan dibaca ribuan kali. Tulisan yang menyakiti tetap menyakiti, meskipun penulisnya tidak menyebut nama. Islam bahkan mengajarkan agar kita menyebut kebaikan orang yang telah meninggal dan menahan diri dari menyebut keburukan mereka (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Al-Qur’an untuk Segala Zaman

Ada anggapan bahwa ajaran agama ketinggalan zaman. Dua kisah di awal tulisan ini justru membuktikan sebaliknya. Allah berfirman dalam QS Al-Hujurat (49): 12:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيَحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Wa lā yaghtab ba’ḍukum ba’ḍan, a yuḥibbu aḥadukum an ya’kula laḥma akhīhi maitan fa karihtumūh.

Artinya: “…dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya…”

 

Bahkan fenomena “viral” pun telah didahului Al-Qur’an. QS An-Nur (24): 19:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Innallażīna yuḥibbūna an tashī’al-fāḥisyatu fillażīna āmanū lahum ‘aẓābun alīmun fid-dunyā wal-ākhirah.

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.”

Menyebarkan aib, memperluas keburukan, ikut meramaikan hujatan, semuanya termasuk dalam cakupan ayat ini. Demikian pula QS Al-Qalam (68): 10–11 yang melarang kita mengikuti “setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghamburkan fitnah.” Di era algoritma, mereka yang “kian ke mari menghamburkan fitnah” adalah para pelaku hujatan yang menjadikan luka orang lain sebagai bahan konten.

Inilah bukti bahwa wahyu Allah bukan untuk satu zaman saja. Apa yang disyariatkan empat belas abad silam justru menjadi obat paling tepat bagi penyakit yang baru lahir belakangan ini. Bentuk masalah manusia berubah-ubah, tetapi akar penyakitnya sama: hati yang tidak dijaga.

Refleksi

Sebelum mengetik, mari bertanya kepada diri sendiri:

  • Apakah kata ini akan kuucapkan jika orangnya berdiri tepat di depanku?
  • Apakah aku tahu seluruh konteks ceritanya, atau aku hanya menghakimi dari satu unggahan?
  • Apakah aku sedang membela kebenaran, atau sekadar ikut-ikutan ramai?
  • Apakah komentarku akan menjadi doa, atau justru menjadi luka terakhir bagi pembacanya?

Ada satu lagi yang bisa kita renungkan: kapan terakhir kali kita menahan jari? Boleh jadi, pahala terbesar hari ini diraih oleh orang-orang yang sudah mengetik setengah kalimat, lalu menghapusnya. Karena Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Bijak Menjaga Lisan di Era Digital

Dunia maya itu nyata efeknya. Di balik setiap akun ada manusia, di balik setiap layar ada hati yang bisa terluka. Menjaga lisan di era digital dan menjaga jari kita dari menuliskan sesuatu yang tidak baik adalah jihad kecil di era digital. Semoga kita termasuk orang-orang yang ucapannya menjadi rahmat, tulisannya menjadi kebaikan, dan kehadirannya di dunia maya tidak melukai siapapun, Aamiin…

 

Referensi

  • Kompas.com (5 Agustus 2026). “BPJS Kesehatan Buka Suara soal Peserta JKN yang Meninggal Usai Curhat Tak Dapat Kamar Inap.”
  • ANTARA News. “Fakta-fakta kasus viral Yurizal pasien BPJS yang meninggal dunia.”
  • detikHealth. “Kemenkes Jelaskan Duduk Perkara Viral Pasien BPJS Nunggu 8 Jam, Ternyata di RSCM.”
  • TribunWow.com (8 Agustus 2026). “Viral Kakek Penjual Daster Dihina Saat Live TikTok, Responsnya Bikin Tersentuh

 

Putri Dwi Annisa

Kesempatan untuk mendapatkan pengalaman akademik internasional menjadi salah satu langkah yang dapat membuka peluang baru bagi mahasiswa. Hal tersebut dimanfaatkan oleh sejumlah mahasiswa Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (UII) angkatan 2024, di antaranya Natasya Dyah Anggraini, Na’ila Nashif Al Hazami, Hafidz Abdurrahman, Iqra Azzahra Ibrahim, Fauzan Zain, dan Hana Alyadhia Loso, yang berhasil lolos dalam program double degree TI 2026.

Program ini menjadi kesempatan baru bagi mahasiswa angkatan 2024 karena merupakan program double degree yang pertama kali dibuka untuk angkatan tersebut. Sebagai salah satu peserta, Natasya akan menempuh pembelajaran di bidang Robotics Engineering di NXU. Meskipun berbeda bidang secara spesifik dari jurusan asalnya, Teknik Industri dan Robotics Engineering memiliki keterkaitan erat dalam dunia industri, khususnya pada pengembangan teknologi dan proses manufaktur. Pembelajaran di NXU sendiri akan lebih berfokus pada aspek hard manufacturing.

Berawal dari Informasi Pembukaan Program

Program Double Degree

Natasya mengetahui program double degree TI x NXU melalui grup resmi angkatan 2024 yang dipandu oleh dosen. Kesempatan tersebut langsung menarik perhatiannya karena dinilai dapat memperluas peluang pengembangan karier di masa depan.

Informasi mengenai program tersebut diperoleh Natasya sekitar November 2024, saat dirinya masih berada di semester satu. Untuk dapat lolos seleksi, ia dan rekan-rekannya harus melewati proses penyeleksian yang mempertimbangkan kemampuan bahasa Inggris serta capaian akademik.

Proses tersebut tentu memiliki tantangan tersendiri. Salah satu hal yang sempat menjadi kekhawatiran Natasya adalah kemampuan bahasa Inggris, terutama pada aspek speaking. Ia mengaku lebih percaya diri dalam writing karena memiliki ketertarikan pada kegiatan menulis, tetapi masih jarang melatih kemampuan berbicara. Selain itu, waktu persiapan yang tergolong singkat membuat keputusan untuk mendaftar terasa cukup menantang.

“Saya cukup percaya diri di bagian writing karena kebetulan suka menulis. Hanya saja, saya jarang melatih kemampuan speaking. Selain itu, dengan timeline yang sangat singkat, keputusan untuk ikut ini terasa cukup nekat bagi saya,” ungkap Natasya.

Meski demikian, kekhawatiran tersebut tidak menghalangi langkahnya. Setelah dinyatakan lolos bersama empat rekannya dalam program Double Degree TI 2026, berbagai persiapan mulai dimaksimalkan mulai dari meningkatkan kemampuan bahasa Inggris melalui aplikasi interaktif, mengikuti kelas bahasa Mandarin, hingga mempersiapkan berkas administrasi.

Mengembangkan Ketertarikan pada Automation dan Electrical

Bagi Natasya, mengikuti program double degree UII bukan sekadar tentang pengalaman belajar di luar negeri. Program ini menjadi wadah untuk mendalami bidang yang semakin menarik minatnya, yaitu automation dan electrical.

Pembelajaran Robotics Engineering di NXU diharapkan memberikan pemahaman manufaktur yang lebih mendalam. Di samping target akademik, Natasya juga fokus mempersiapkan kemampuan bahasa Mandarin untuk mempermudah proses adaptasinya di lingkungan baru. Perbedaan kultur belajar antara Indonesia dan China menjadi salah satu dinamika yang paling ia nantikan.

Di sisi lain, tantangan emosional tetap ada. Natasya mengaku belum pernah merantau dalam jarak yang jauh, sehingga proses adaptasi budaya serta penguasaan bahasa Mandarin menjadi fokus persiapan utamanya sebelum berangkat.

Membangun Perspektif Global untuk Masa Depan

Melalui program double degree TI x NXU ini, Natasya berharap dapat membangun perspektif global yang lebih kuat, baik secara akademik maupun profesional. Pengalaman ini juga diharapkan membuka jejaring internasional dan peluang baru di masa depan. Baginya, pengalaman belajar di lingkungan internasional bukan hanya tentang mengikuti pendidikan di negara lain, tetapi juga tentang belajar beradaptasi, mengembangkan kemampuan, dan mengenal perspektif yang berbeda.

Kepada mahasiswa angkatan 2025 yang tertarik mengikuti program serupa, Natasya berpesan agar mulai mempersiapkan diri sejak dini, terutama dalam kemampuan bahasa Inggris dan capaian akademik.

“Kalau teman-teman tertarik untuk ikut, latih terus kemampuan bahasa Inggrisnya dan pastikan untuk selalu mempertahankan IPK,” ungkapnya.

Keikutsertaan Natasya beserta teman-temannya dalam program ini menjadi bukti komitmen mahasiswa UII dalam bersaing di kancah global. Pengalaman lintas disiplin di bidang Robotics Engineering, kesempatan mengenal kultur akademik China, serta proses membangun kemampuan bahasa dan network internasional menjadi bagian dari perjalanan yang diharapkan dapat mendukung langkah mereka di masa depan.

Mahasiswa Double Degree Teknik Industri 2026

ParticipantStudent ID
Hana Alyadhia Loso24522058
Fauzan Zain24522070
Iqra Azzahra Ibrahim24522165
Hafizd Abdurrahman24522190
Natasya Dyah Anggraini24522227
Nai'la Nashif Al Hazami24522228

Kaila Bilbina M.S

Program Studi Teknik Industri merupakan salah satu bidang teknik dengan ruang lingkup keilmuan yang luas dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Berbeda dengan jurusan teknik lain yang berfokus pada produk atau mesin tertentu, Teknik Industri mempelajari sistem secara menyeluruh. Sistem tersebut melibatkan manusia, mesin, material, metode, dan informasi.

Pendekatan sistem ini membuat Teknik Industri dikenal sebagai jurusan teknik dengan prospek karier yang fleksibel. Untuk melihat fleksibilitas tersebut, kita perlu memahami luasnya cakupan keilmuan Teknik Industri.

Sumber: IISE.org

Ruang lingkup keilmuan Teknik Industri mencakup berbagai aspek penting dalam dunia industri. Mahasiswa mempelajari perencanaan dan pengendalian produksi, manajemen rantai pasok, pengendalian kualitas, ergonomi, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga analisis dan perancangan sistem kerja.

Teknik Industri menggabungkan ilmu teknik dan manajemen. Kombinasi tersebut membantu lulusan memahami proses teknis sekaligus mengelola dan mengoptimalkan kinerja sistem industri secara keseluruhan. Bekal keilmuan yang beragam ini membuka peluang karier yang luas bagi lulusan Teknik Industri.

Luasnya Pilihan karier Lulusan Teknik Industri

Fleksibilitas karier lulusan Teknik Industri terlihat dari banyaknya peluang kerja yang bisa dimasuki. Lulusan tidak hanya bekerja di sektor manufaktur, tetapi juga di bidang logistik, konsultan manajemen, human resource, quality assurance, supply chain, hingga data analyst. Kemampuan analisis, problem solving, serta peningkatan efisiensi proses menjadi nilai tambah yang membuat lulusan Teknik Industri dibutuhkan di berbagai sektor, termasuk industri jasa dan digital. 

Fleksibilitas tersebut juga dirasakan langsung oleh alumni Teknik Industri UII. Salah satunya, Zahid Anugrah Muzaffar Rana, yang kini bekerja di sektor maritim dan logistik transportasi. Menurutnya, keilmuan Teknik Industri sangat membantu dalam pekerjaannya, terutama karena membentuk pola pikir yang sistematis dalam memahami proses bisnis secara menyeluruh.

“Teknik Industri melatih pola pikir yang sistematis, sehingga mempermudah saya dalam membedah proses bisnis end-to-end perusahaan, mengoperasikan sistem ERP, serta menunjang problem-solving operasional di lapangan,” ujar Zahid.

Pengalamannya menunjukkan bahwa keilmuan Teknik Industri dapat diterapkan di luar sektor manufaktur. Supply Chain Management, Enterprise Resource Planning (ERP), dan Manajemen Logistik menjadi beberapa keilmuan yang paling terasa aplikatif dalam pekerjaannya karena saling berkaitan dalam satu alur proses bisnis secara end-to-end.

Peran Teknik Industri UII dalam Menyiapkan Lulusan

Teknik Industri UII turut mendukung kesiapan karier mahasiswa di berbagai bidang. Proses pembelajaran menggabungkan teori dan praktik melalui kegiatan praktikum, kerja praktik lapangan, serta proyek perancangan sistem industri. Mahasiswa juga memanfaatkan fasilitas laboratorium untuk menunjang pembelajaran berbasis praktik. Selain itu, mahasiswa mengenal berbagai software pendukung sebagai bekal menghadapi kebutuhan dunia kerja.

Secara keseluruhan, Teknik Industri memiliki fleksibilitas karier yang cukup luas. Lulusan dapat bekerja di sektor manufaktur maupun bidang lain seperti jasa, logistik, hingga industri digital. Proses pembelajaran di Universitas Islam Indonesia juga menggabungkan teori dan praktik.

Melalui proses tersebut, mahasiswa mengembangkan kemampuan analisis dan problem solving yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Bekal tersebut membantu lulusan Teknik Industri beradaptasi dan berkontribusi di berbagai sektor industri.

Albin M Wiryawan

Tidak semua kekurangan berasal dari sedikitnya nikmat, tetapi sering kali dari kurangnya rasa syukur. Manusia terbiasa melihat apa yang belum dimiliki, sementara yang telah ada justru terasa biasa dan luput dari perhatian. Keinginan yang terus bertambah tanpa disadari menutup kesadaran terhadap karunia yang telah hadir dalam kehidupan sehari-hari. Air yang diminum, kesehatan yang dirasakan, serta kesempatan menjalani hari dengan tenang sering kali dianggap hal yang wajar, padahal semuanya merupakan nikmat yang tidak ternilai. Ketika manusia mulai menyadari nilai dari hal-hal sederhana tersebut, ia akan memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari banyaknya yang dimiliki. Dalam kesadaran terhadap nikmat yang sederhana itulah tersimpan kunci ketenangan hidup dan lahirnya rasa cukup dalam hati.

Memahami Makna Syukur dan Rasa Cukup 

Pentingnya sikap syukur tidak hanya dapat dipahami melalui pengalaman hidup, tetapi juga ditegaskan dalam ajaran Islam. Rasulullah bersabda:

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ، وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ

“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak. Dan barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah ” (HR. Ahmad).

Hadits ini menegaskan bahwa syukur dimulai dari menghargai nikmat-nikmat kecil, seperti kesehatan, waktu, dan ketenangan. Kebiasaan menyadari hal-hal sederhana ini akan menumbuhkan rasa cukup dan kedamaian hati. Sebaliknya, mengabaikan nikmat kecil membuat manusia selalu merasa kurang dan sulit menemukan kepuasan dalam hidup.

Belajar Bersyukur dari Kehidupan Sehari-hari 

Pemahaman tentang syukur tidak hanya dijelaskan dalam hadis, tetapi juga sering diingatkan dalam dakwah para ulama. Habib Husein Ja’far Al Hadar mengingatkan bahwa kehidupan yang mungkin terasa “biasa saja” bagi seseorang bisa jadi merupakan mimpi bagi orang lain. Ia menyampaikan,

“Hidupmu yang (mungkin) kau anggap gini-gini saja adalah (mungkin) cita-cita hidup orang lain, maka bersyukurlah.”

Pesan ini mengajarkan bahwa rasa cukup lahir dari kesadaran melihat nikmat dengan hati yang jernih. Ketika manusia mampu menyadari dan menghargai apa yang dimilikinya, ia tidak lagi mudah terjebak dalam perasaan kurang. Dari kesadaran inilah tumbuh ketenangan dan kebahagiaan yang lebih bermakna dalam kehidupan.

Pada akhirnya, syukur bukan sekadar sikap menerima nikmat, tetapi cara memandang kehidupan dengan kesadaran yang lebih dalam. Rasa syukur dapat dilatih melalui langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti menyadari nikmat kecil sebelum mengeluhkan kekurangan, menggunakan apa yang dimiliki untuk kebaikan, serta menghargai peran orang lain dalam kehidupan kita. Membiasakan diri mengucap syukur, menjaga sikap rendah hati, dan melihat kehidupan dengan perspektif yang lebih luas akan menumbuhkan rasa cukup dalam hati. Dengan membangun kebiasaan bersyukur secara konsisten, manusia tidak hanya merasakan ketenangan, tetapi juga menemukan makna sejati dalam setiap keadaan.

Albin M Wiryawan

Bertahan di Tengah Arus Modern

Menjaga iman di era modern menjadi tantangan di tengah perkembangan teknologi, gaya hidup, dan media sosial yang semakin memengaruhi kehidupan sehari-hari. Kemudahan teknologi dapat memberikan banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan bagi seorang Muslim untuk tetap berpegang pada nilai-nilai Islam. Dalam lingkungan pendidikan seperti Teknik Industri UII, mahasiswa juga menghadapi perkembangan tersebut sebagai bagian dari kehidupan akademik dan sosial.

Di tengah perubahan zaman, iman menjadi pegangan agar manusia tidak kehilangan arah. Mengikuti perkembangan zaman bukan berarti mengikuti semua tren, melainkan mampu memilih hal yang membawa kebaikan tanpa menjauhkan diri dari Allah.

Mengikuti Perkembangan Zaman Tanpa Kehilangan Iman

Islam tidak melarang umatnya untuk mengikuti perkembangan zaman. Seorang Muslim tetap dapat belajar, bekerja, bergaul, dan menggunakan teknologi selama tetap berada dalam nilai-nilai yang diridhai Allah.

Teknologi bahkan dapat menjadi sarana untuk belajar agama, menyebarkan kebaikan, dan memperluas wawasan. Penelitian “Enhancing Student Religiosity Through Islamic Content and Influencer Expertise: Social Media Contribution as Mediator” terhadap 180 mahasiswa Muslim menunjukkan adanya hubungan antara kualitas konten Islam di media sosial dan praktik religiusitas. Artinya, persoalannya bukan sekadar menggunakan teknologi atau tidak, tetapi bagaimana dan untuk apa teknologi tersebut digunakan. Media sosial dapat menjadi tempat menuntut ilmu dan berdakwah, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mencari validasi dan perhatian.

Tantangan Menjaga Iman di Era Modern

Kehidupan modern membuat seseorang semakin mudah melihat pencapaian, gaya hidup, dan kehidupan orang lain melalui media sosial. Tanpa disadari, hal tersebut dapat memicu kebiasaan membandingkan diri dan mencari pengakuan.

Hal ini juga dibahas dalam penelitian “Piety, Social Pressure, and Riya’: Religious Practices of Yogyakarta Urban Muslim Youth in Digital Media” mengenai pemuda Muslim urban di Yogyakarta. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa media digital dapat menjadi ruang untuk mengekspresikan kesalehan, tetapi juga menghadirkan tekanan sosial melalui jumlah likes dan pengikut.

Di sinilah iman berperan sebagai pengingat. Seorang Muslim perlu bertanya kepada diri sendiri: “Apakah yang aku lakukan benar-benar karena Allah, atau karena ingin dilihat dan diakui manusia?”

Dunia Hanya Sementara

Allah telah mengingatkan manusia mengenai hakikat kehidupan dunia dalam Al-Qur’an:

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ەۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lalu menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” QS. Al-Ḥadīd [57]: 20

Ayat tersebut mengingatkan bahwa kehidupan dunia pada hakikatnya bersifat sementara. Apa yang hari ini terlihat begitu penting, suatu saat akan berlalu. Popularitas, jumlah pengikut, tren, penampilan, harta, dan berbagai pencapaian duniawi bukanlah ukuran akhir dari keberhasilan seorang manusia. Karena itu, dunia boleh dimiliki dan dimanfaatkan, tetapi jangan sampai membuat hati kehilangan tujuan utama. Zaman boleh berubah, tetapi iman tetap harus menjadi pegangan.

5 Cara Menjaga Iman di Era Modern

Bertahan di Tengah Arus Modern

Lantas, bagaimana cara seorang Muslim bertahan di tengah arus modern? Menjaga iman di era modern dapat dilakukan melalui beberapa langkah sederhana yang perlu diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, menjaga hubungan dengan Allah. Kesibukan dunia tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan ibadah. Salat, doa, membaca Al-Qur’an, dan mengingat Allah merupakan cara untuk menjaga hati agar tetap memiliki arah.

Kedua, memilih lingkungan yang baik. Pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang berpikir dan bertindak. Teman yang baik dapat mengingatkan ketika lalai, menguatkan ketika lemah, dan mengajak kepada kebaikan.

Ketiga, bijak dalam menggunakan media sosial. Tidak semua informasi perlu dikonsumsi dan tidak semua tren harus diikuti. Seorang Muslim perlu belajar memilih konten yang memberikan manfaat serta menghindari hal-hal yang dapat merusak akhlak dan mengganggu ketenangan hati.

Keempat, menjaga keikhlasan. Ketika melakukan kebaikan, jangan sampai penilaian manusia menjadi tujuan utama. Apa yang dilakukan karena Allah tidak selalu harus mendapatkan pengakuan dari manusia.

Kelima, terus belajar. Perubahan zaman membutuhkan ilmu. Dengan ilmu agama dan pengetahuan yang memadai, seorang Muslim akan lebih mampu membedakan antara kemajuan yang membawa manfaat dan perubahan yang justru menjauhkan dari nilai-nilai Islam. Lingkungan pendidikan juga dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan ilmu, keterampilan, dan nilai-nilai yang mendukung kehidupan di era modern.

Zaman Boleh Berubah, Iman Jangan Sampai Hilang

Pada akhirnya, menjadi seorang Muslim di era modern bukan berarti harus menjauh dari perkembangan zaman. Justru seorang Muslim perlu mampu hidup di tengah perkembangan tersebut dengan tetap membawa nilai-nilai Islam. Menjaga iman di era modern bukan berarti menolak teknologi atau menghindari perubahan, tetapi mampu menggunakan perkembangan zaman secara bijak tanpa kehilangan arah hidup.

Zaman boleh berubah. Teknologi boleh berkembang. Cara manusia berkomunikasi boleh berganti. Namun, prinsip keimanan tetap menjadi pegangan.

Iman tidak mengharuskan kita meninggalkan zaman, tetapi mengajarkan kita untuk tidak kehilangan diri di dalamnya.

Dengan menjadikan dunia sebagai sarana untuk beribadah dan berbuat kebaikan, seorang Muslim dapat memanfaatkan perkembangan zaman tanpa membiarkan dirinya terseret oleh arusnya.

Sebab, tantangan terbesar bukanlah hidup di zaman yang semakin modern, melainkan tetap menjadi hamba Allah ketika dunia menawarkan begitu banyak hal yang dapat membuat kita lupa kepada-Nya.

Kaila Bilbina M.S.

Jumat (26/06/2026) – Program Studi Teknik Industri, Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan kegiatan kunjungan industri TI UII ke PT Marifood di Kawasan Industri Candi, Semarang. Mahasiswa angkatan 2024 mengikuti agenda tahunan untuk memperdalam pemahaman praktis yang berkaitan erat dengan mata kuliah Pengendalian dan Penjaminan Mutu. Para Dosen mendampingi seluruh peserta agar mereka dapat mengorelasikan teori perkuliahan dengan realitas di pabrik secara langsung. Pihak manajemen perusahaan menyambut hangat kedatangan rombongan akademisi ini di aula utama sebelum tur fasilitas dimulai. Kunjungan industri ini bertujuan untuk menambah wawasan mahasiswa agar mengetahui proses kerja di industri manufaktur dari pengolahan bahan mentah hingga menjadi barang jadi. 

Eksplorasi Produksi dalam Kunjungan Industri TI UII

Kegiatan dimulai dengan melakukan tur ke area pabrik untuk melihat langsung proses pengemasan produk menggunakan mesin otomatis. Setelah selesai melihat lantai produksi, para mahasiswa kembali ke aula utama dan seluruh peserta dipersilakan mencoba berbagai produk PT Marifood, mulai dari minuman hingga makanannya. Kunjungan industri TI UII ini terasa semakin berkesan karena beberapa peserta berkesempatan langsung mengikuti sesi testing produk yang belum rilis. 

“Ini menjadi pengalaman baru yang sangat berbeda dan berharga selama masa perkuliahan, semoga kegiatan seperti ini semakin banyak ke depannya,” ucap Sekar.

Agenda edukatif ini diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan berupa figura foto bersama mahasiswa dari pihak manajemen Marifood. 

Keseruan Rekreasi di Saloka Theme Park

Mahasiswa Teknik Industri di Saloka Theme Park

Setelah seluruh rangkaian agenda formal di pabrik selesai, para mahasiswa melanjutkan perjalanan ke Saloka Theme Park Semarang. Momen ini menjadi kesempatan bagi para mahasiswa untuk melepas penat sejenak setelah seharian belajar di lapangan. Suasana di taman rekreasi terbesar di Jawa Tengah tersebut berlangsung sangat seru dan menjadi wadah yang pas untuk mempererat kebersamaan serta keakraban dengan teman seangkatan sebelum akhirnya harus kembali ke Yogyakarta. Para mahasiswa berharap kegiatan edukatif sekaligus rekreatif seperti ini dapat terus dipertahankan pada tahun-tahun berikutnya. 

“Suasananya seru banget dan jadi momen yang pas untuk refreshing sekaligus menambah kebersamaan dengan teman-teman seangkatan. Semoga ke depannya kegiatan seperti ini bisa terus diadakan karena memberikan pengalaman yang nggak terlupakan “, ungkap Salsa.

Melalui kombinasi kegiatan akademik di PT Marifood dan momen kebersamaan di Saloka, kunjungan industri TI UII kali ini sukses membekali mahasiswa angkatan 2024 dengan wawasan industri yang nyata sekaligus kenangan masa kuliah yang berkesan. 

 

Kaila Bilbina M.S

Pancasila bukan sekadar teori bagi civitas akademika akademika Teknik Industri, Universitas Islam Indonesia yang hanya mereka ingat setiap memperingati Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni. Momen bersejarah tersebut justru menjadi pengingat bahwa nilai-nilai luhur bangsa harus diimplementasikan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari. Sejarah UII sendiri memiliki ikatan yang sangat kuat dengan dasar negara ini. Para tokoh pendiri kampus kita merupakan bagian dari arsitek utama perumus Pancasila.

Di lingkungan Kampus Terpadu Sleman, kampus mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan agar berjalan selaras dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, kita merawat momentum sejarah ini bukan sebagai rutinitas tahunan. Pancasila hadir sebagai kompas moral bagi mahasiswa Teknik Industri dan rumpun FTI lainnya dalam menghadapi tantangan global. Di era digital saat ini, tantangan terbesar nyata terlihat dari cara kita mengelola arus data dan informasi di media sosial. Hal ini kemudian melahirkan urgensi akan pentingnya etika komunikasi digital.

Etika Komunikasi Digital Sebagai Fondasi Utama Nilai Persatuan

Proses pengimplementasian nilai-nilai Pancasila tersebut diwujudkan secara nyata melalui penerapan etika komunikasi digital yang ketat di ruang siber. Mahasiswa Teknik Industri yang akrab dengan perancangan sistem dan tata kelola data menerapkan metode penyaringan informasi (filtering process) secara berlapis sebelum menyebarkan suatu berita. Karakter intelektual Ulil Albab memandu komunitas akademik kampus ini untuk selalu menyampaikan opini secara santun. Opini tersebut harus rasional serta berbasis pada validitas fakta. Melalui sistem kendali informasi yang mandiri ini, mereka berhasil meredam potensi gangguan (noise). Sistem ini menyaring ujaran kebencian, hoaks, ataupun provokasi digital yang berisiko memicu konflik horizontal. Semangat Pancasila dalam upaya preventif masif tersebut efektif membendung misinformasi sekaligus mengoptimalkan stabilitas dan keutuhan NKRI. 

Merajut Persatuan dalam Kebinekaan Sosial Kampus 

Fakultas Teknologi Industri

Selain di ranah digital, perwujudan roh persatuan dan pengamalan nilai Pancasila juga diaplikasikan melalui kolaborasi nyata dalam ekosistem pembelajaran dan interaksi sosial harian di kampus. Mahasiswa perantauan dari berbagai penjuru wilayah nusantara hingga mahasiswa internasional saling membaur. Mereka berkumpul tanpa memandang perbedaan suku, ras, maupun latar belakang budaya.

Jihan, mahasiswa Teknik Industri UII asal Riau, membagikan pandangannya mengenai dinamika pergaulan di kampus. 

“Sebagai anak rantau, saya merasa diterima dengan baik di lingkungan kampus. Perbedaan asal daerah tidak menjadi pembatas untuk berteman maupun bekerja sama, sehingga saya bisa beradaptasi dengan nyaman dan berkembang bersama teman-teman lainnya,” ujarnya. 

Senada dengan hal tersebut, Yaser, mahasiswa internasional kelas International Program (IP) Teknik Industri UII asal Yaman, juga merasakan langsung atmosfer inklusif tersebut. Dosen maupun rekan sesama mahasiswa memperlakukannya secara setara tanpa diskriminasi di lingkungan kampus sebagai wujud toleransi Pancasila.

“Meskipun terkadang saya masih merasa sedikit kesulitan dalam situasi sosial karena adanya kendala bahasa, secara keseluruhan saya sangat menikmati pengalaman belajar di sini karena semua orang sangat terbuka dan suportif,” ungkap Yaser.

Lewat suasana kampus yang saling mendukung seperti ini, pihak fakultas berhasil menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi semua orang. Perbedaan asal daerah maupun negara justru membuat hubungan pertemanan di Teknik Industri dan rumpun FTI lainnya menjadi semakin harmonis.

 

Kaila Bilbina M.S

Yogyakarta, November 30, 2025 – Sang Adji Paco Labib, Afiana Saputri, and Pradita Nur Maulidina, Students of the Industrial Engineering Study Program, Faculty of Industrial Technology, Universitas Islam Indonesia participated in the Industrial National Competition (INCO) 2025, a national level competition. The event was organized by the Industrial Engineering Student Association of the Faculty of Industrial Technology, Universitas Muslim Indonesia (UMI), and was held from November 28 to 30, 2025. INCO 2025 involved students from various universities across Indonesia. The competition carried the theme “Sustainable Product Design Innovation for Human Well Being and Optimal Ergonomics.” Through this competition, students presented environmentally friendly and ergonomic product design ideas. The event aimed to encourage innovation that balances human needs, environmental sustainability, and economic value.

INCO 2025 Strengthens the Role of Students in Industrial Design Innovation

To support the objectives of the competition, the INCO 2025 organizing committee designed the competition stages in a structured and systematic manner. Participants began the competition by registering and submitting abstracts of their scientific work. After passing the abstract selection stage, participants proceeded to prepare and submit full papers, which included complete proposals, product designs, and posters. The committee then selected the finalists and conducted a technical meeting to prepare for the final stage. During the final round, finalists presented their product ideas directly in front of the judging panel. The evaluation process emphasized innovation, sustainability, and the alignment of the designs with ergonomic principles.

“Do not hesitate to try and participate in competitions, even if you feel that you are not fully prepared. The preparation process and the experience gained are far more valuable than the final result. With the willingness to learn, collaborate, and step out of your comfort zone, participating in competitions can become a very beneficial means of self-development,”Dita said.

During the competition period, participants organized their preparation through discussions, literature reviews, and structured task allocation. The team managed their time consistently to keep competition activities aligned with academic responsibilities, while open communication helped team members combine different ideas and viewpoints. Through this process, participants gained valuable experience in a national level competition. In addition to enhancing critical and creative thinking skills, participation in INCO 2025 also expanded professional networks and fostered motivation to continue innovating.

Kaila Bilbina M.S

Yogyakarta, 30 November 2025 – Sang Adji Paco Labib, Afiana Saputri, dan Pradita Nur Maulidina merupakan Mahasiswa Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia yang mengikuti Industrial National Competition (INCO) 2025 yaitu sebuah perlombaan berskala nasional. Himpunan Mahasiswa Teknik Industri FTI Universitas Muslim Indonesia (UMI) menyelenggarakan kegiatan ini pada 28-30 November 2025 dan melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. INCO 2025 mengusung tema “Sustainable Product Design Innovation for Human Well-Being and Optimal Ergonomics.” Melalui kompetisi ini, mahasiswa menampilkan gagasan desain produk yang ramah lingkungan dan ergonomis. Kegiatan ini bertujuan mendorong lahirnya inovasi yang memperhatikan keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan nilai ekonomi.

Ajang INCO 2025 Perkuat Peran Mahasiswa dalam Inovasi Desain Industri

Untuk mendukung tujuan kompetisi tersebut, panitia INCO 2025 menyusun tahapan lomba secara terstruktur dan sistematis. Peserta mengawali rangkaian kegiatan dengan pendaftaran dan pengumpulan abstrak karya ilmiah. Setelah lolos seleksi abstrak, peserta melanjutkan ke tahap penyusunan dan pengumpulan full karya yang mencakup proposal lengkap, desain produk, dan poster. Panitia kemudian menetapkan finalis dan mengadakan technical meeting sebagai persiapan tahap akhir. Pada tahap final, para finalis mempresentasikan ide produk mereka secara langsung di hadapan dewan juri. Proses penilaian menitikberatkan pada aspek inovasi, keberlanjutan, dan kesesuaian desain dengan prinsip ergonomi. 

“Jangan ragu untuk mencoba dan mengikuti lomba, meskipun merasa belum sepenuhnya siap. Proses persiapan dan pengalaman yang didapat jauh lebih berharga dibandingkan hasil akhir. Dengan kemauan untuk belajar, bekerja sama, dan berani keluar dari zona nyaman, dengan mengikuti lomba dapat menjadi sarana pengembangan diri yang sangat bermanfaat,”ujar Dita.

Selama mengikuti rangkaian lomba tersebut, peserta melakukan persiapan melalui diskusi tim, studi literatur, dan pembagian tugas yang jelas. Tim mengatur waktu secara disiplin agar persiapan lomba tetap berjalan seiring dengan kegiatan akademik. Komunikasi terbuka menjadi kunci dalam menyatukan berbagai gagasan dan sudut pandang antaranggota. Melalui proses ini, peserta memperoleh pengalaman berharga dalam kompetisi tingkat nasional. Selain meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, keikutsertaan dalam INCO 2025 juga memperluas jejaring serta menumbuhkan motivasi untuk terus berinovasi.

Kaila Bilbina M.S