Kehidupan yang seiring waktu berubah ditambah dengan kedatangan pandemi yang tak terduga membuat kita bertahan di rumah tanpa melakukan aktifitas fisik yang seringkali dilakukan sebelumnya.

Menurut (Garcia, 2016) peningkatan perilaku ‘remain still’ telah menyebabkan berbagai penyakit seperti hipertensi dan obesitas yang pada gilirannya mempengaruhi umur panjang. Menghabiskan terlalu banyak waktu duduk di tempat kerja atau di rumah tidak hanya mengurangi kebugaran otot dan pernapasan tetapi juga meningkatkan nafsu makan dan membatasi keinginan untuk berpartisipasi dalam aktivitas. Tidak banyak bergerak dapat menyebabkan banyak gangguan pada tubuh. Sejatinya, melakukan aktivitas diluar pekerjaan seperti melakukan olahraga kecil dapat mengeluarkan hormon endorphins yang saat dilepaskan dapat membantu menghilangkan rasa sakit, mengurangi stres, dan dapat menyebabkan perasaan gembira. Singkatnya, hormon endorphins bisa membuat kita merasa sangat baik. Salah satu pengaruh tingkat produktivitas adalah feeling dari kita, karenanya dengan bergerak dapat membantu meningkatkan produktivitas kerja.

Adapun dalam Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Musyawarah Nasional Ulama tahun 1983 merumuskan kesehatan sebagai “ketahanan jasmaniah, ruhaniah, dan sosial yang manusia miliki sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri dengan mengamalkan (tuntunanNya) dan memelihara serta mengembangkannya”. Dalam konteks kesehatan fisik, misalnya ditemukan sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya:

Sesungguhnya badanmu mempunyai hak atas dirimu. (HR. Bukhari)

Olahraga yang dianjurkan dalam Islam adalah memanah, berkuda, dan berenang yang ada dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, ada tiga macam olahraga yang diperintahkan oleh Nabi di mana beliau bersabda:

“Ajari anak-anakmu berenang, memanah, dan menunggang kuda.”

Namun menurut (Akbar, 2014) untuk beberapa kasus, olahraga yang disebutkan memiliki harga yang cukup mahal, karenanya untuk menjaga tubuh kita dapat dilakukan hanya dengan menambahkan beberapa kegiatan kecil ke dalam kebiasaan sehari-hari seperti:

  1. Jalan kaki sebelum bekerja, atau jalan-jalan minimal dua puluh menit setiap hari. Pilih berjalan kaki alih-alih lift atau eskalator. baik untuk postur tubuh, otot , dan sistem pernapasan.
  2. Sesekali dapat berekreasi ke alam sehingga tidak menghabiskan terlalu banyak waktu di depan layar.
  3. Mengganti junk food dengan buah yang akan membuat sedikit keinginan untuk memakan makanan ringan dan mentransfer lebih banyak nutrisi ke dalam tubuh.
  4. Melakukan penjadwalan tidur yang baik, mulai dari tujuh sampai sembilan jam.
  5. Bermain dengan keluarga atau hewan peliharaan, atau bergabung dengan tim olahraga. Ini tidak hanya memperkuat tubuh tetapi juga merangsang pikiran dan meningkatkan harga diri.

Sadarilah rutinitas harian kita untuk mendeteksi kebiasaan berbahaya dan menggantinya dengan yang lebih positif. Dengan melakukan perubahan kecil ini, kita dapat mulai memperbarui tubuh dan pikiran kita serta meningkatkan harapan hidup kita.

 

Penulis : Putri Shafira Carolina

Editor : Abdullah ‘Azzam, S.T., M.T

Sumber:

Akbar, A. (2014). Olahraga dalam perspektif hadis.

García, H., & Miralles, F. (2016). Ikigai: The Japanese secret to a long and happy life. Penguin.

Pendekatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Kala PPKM

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Indonesia sudah berlangsung sejak 3 Juli 2021 hingga 20 Juli 2021 yang wacananya akan diperpanjang hingga 28 Juli 2021. Hal ini dilakukan karena angka kasus Covid-19 di Indonesia belum dapat dikendalikan.  Bahkan dalam beberapa hari terakhir, angka kasus positif Covid-19 yang dilaporkan cenderung mengalami peningkatan.

Oleh sebab itu, masing-masing individu memiliki perananyang sangat penting untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan agar pandemi ini diharapkan bisa berakhir dan tidak terjadi penularan lebih lanjut. Adapun aksi yang tepat adalah dengan menaati protokol yang sudah diberikan mengenai apa yang perlu dilakukan secara pribadi untuk meningkatkan kepedulian dan mencegah terinfeksi Covid-19. Sesuai dengan Al-Quran surat An-Nisaayat 59, di awal bahwa:

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan kepada para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar- benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa[4]: 59)

Selain itu terdapat pedoman risk assessment yang dilakukan dengan menggunakan prinsip dasar keselamatan dan kesehatan kerja, dalam hal ini diterapkan framework pembuatan proses dan keputusan berdasar ilmu industrial hygiene. Langkah framework terdiri dari antisipasi dan pengenalan hazard atau sumber bahaya, evaluasi paparan dan yang terakhir melakukan kontrol serta memastikan perlindungan terhadap risiko bahayanya (Zisook, et al., 2020).

Sangat penting untuk mengantisipasi, mengenali, dan mengidentifikasi hazards pada cara penularannya dan siapa yang bisa terdampak, dimana Covid-19 bahayanya adalah droplet atau cairan dari penderita sampai kepada orang sehat. Cara penularan dengan tersemburnya pada saat bersin, berbicara atau bersentuhan secara langsung. Penderita yang mungkin bisa terkena sebelumnya dilansir bahwa kerentanan terjadi pada penduduk usia lanjut dan yang memiliki komorbid atau penyakit bawaan lainnya. Namun sejarah menunjukkan bahwa tidak menutup kemungkinan untuk semua kategori usia dapat tertular, sehingga hati-hati merupakan langkah yang tidak salah.

Adapun langkah lain yaitu melakukan kontrol dan memastikan perlindungan sudah baik dan benar dapat dilakukan dengan mematuhi protokol dengan menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Masker perlu dipastikan sesuai, fit to use atau sesuai bentuk wajah dan menutupi area hidung, mulut, dan dagu secara baik. Apabila sudah tidak efektif, segera ganti masker, disarankan dengan menggunakan double mask dengan lapisan masker disposable yang ditutup dengan masker kain untuk ektra proteksi saat terdesak untuk keluar rumah, dan tetap menjaga jarak dengan memastikan untuk tidak berada  pada keramaian. Saat berada di luar, kita harus memastikan melakukan cuci tangan dilakukan sesuai petunjuk selama minimal 20 detik dengan menjangkau seluruh area tangan yang mungkin terpapar, dan menghindari menyentuh wajah di keramaian.

ppkm masker

Sebagai hamba yang beriman, sebaiknya kita meyakini bahwa manusia bisa berusaha namun mari kita serahkan semua usaha kita untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. Ar-Ra’d: 11)

 

Ditulis oleh: Putri Shafira Carolina

Editor : Abdullah ‘Azzam

Sumber: Ragil, Muhammad Suryoputro (2021), Peran Teknik Industri Di Masa Pandemi Covid 19: Menghadapi Pandemi Covid-19 Dengan Pendekatan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja. Yogyakarta: KEPEL Press

atomic habits

Tak jarang manusia menyanjung berlebihan untuk sebuah langkah yang besar, namun tidak mengindahkan langkah-langkah yang sejatinya tetap membuat sebuah perubahan walau hanya sedikit demi sedikit. Seringkali meyakinkan diri bahwa ‘massive success’ akan didapatkan jika disertai dengan ‘massive action’. Melakukan hal besar untuk mendapatkan kesuksesan yang dirasa tepat dan kehilangan puzzle kecil yang menjadi kunci utamanya.

Bentuk sukses seperti mendapatkan nilai yang tinggi, memenangkan perlombaan, hingga menurunkan atau menaikan berat badan, kita lakukan dengan memberi tekanan pada diri sendiri untuk dapat menyelesaikannya dengan gebrakan yang besar agar dapat menarik perhatian dan di kemudian hari akan menjadi perbincangan hangat orang banyak. Sementara itu, memberikan satu persen langkah kecil yang lebih baik sejatinya tidak mudah dikenali. Tetapi, satu persen itu akan sangat berguna terutama untuk langkah sukses jangka panjang dan akan menghasilkan hal yang luar biasa.

Jika melakukan langkah menuju lebih baik sebesar 1% setiap harinya dalam satu tahun, kita akan mendapatkan hasil mendekati 37 kali lebih baik dari tahun sebelumnya. Namun jika melangkah 1% untuk hal yang buruk setiap harinya, maka grafik kesuksesan akan mendekati nilai nol. Karena apa yang dimulai dengan langkah kecil, akan terakumulasi dan menjadi perubahan yang besar.

Berikut penjelasan dalam matematikanya:

1% langkah buruk setiap hari dalam satu tahun: 0.99^365 = 00.03

1% langkah baik setiap hari dalam satu tahun: 1.01^365 = 37.78

perubahan besar - artikel akademik teknik industri uii

Langkah dapat berarti sebuah kebiasaan yang merupakan kunci utama dalam self-improvement, efeknya tergantung dengan seberapa sering manusia melakukan kebiasaan tersebut.  Akan menjadi terasa mudah saat kebiasaan baik dilakukan setiap hari, tetapi dibutuhkan waktu dan kesabaran untuk melakukan kebiasaan baik secara rutin agar mendapat hasil yang maksimal. Waktu akan menjawab buah apa yang akan tumbuh dari langkah yang kita lewati, tergantung dengan apa yang kita tanam. Kebiasaan yang baik akan menjadi sekutu dan kebiasaan buruk akan menjadi musuh. Kebiasaan merupakan pedang dengan dua mata pisau. Yang buruk akan merusak kesuksesan dengan mudah dan yang baik akan menjadi senjata untuk pertahanan, karenanya pemilihan langkah merupakan sebuah hal yang krusial, kita perlu untuk tahu jalan mana yang akan kita lalui dan merancangnya sesuai kebutuhan yang harus selaras dengan keinginan agar dapat terhindar dari mata pisau yang tajam.

Sumber: Atomic Habits, James Clear 2018

Kuliah online teknik industri UII

Satu tahun lebih kita dipaksa semesta untuk mengurangi aktivitas sosial, memaksa jiwa raga mengeluarkan kemampuannya untuk berpikir lebih kreatif, luas, lugas, dan menerima keadaan dengan lapang dada. Sebelum datangnya pandemi Covid-19, komunikasi terasa mudah, pertanyaan-pertanyaan liar yang lontarkan mahasiswa memacu pengajar dan mahasiswa lain untuk berpikir dan mendapat banyak ilmu diluar yang diajarkan. Suasana perkuliahan yang hangat diiringi dengan sedikit tekanan dari luar sisi akademi terasa menyenangkan karena dilalui bersama.

Selama pandemi, tingkat stress, kecemasan, dan beban kerja meningkat. Selain itu, pengaruh keterampilan mahasiswa pun meningkat, namun target mendapatkan ilmu juga tambah sulit tercapai. Semua hal ini, menambah jelas pernyataan bahwa manusia makhluk sosial yang akan merasa ‘sakit’, jika kurang bersosialisasi.

Kuliah online teknik industri UII

Terdengar klise juga paradoks, namun cara terbaik untuk menumbuhkan antusiasme diri dalam berkuliah online adalah membuat kelompok belajar yang nyaman dengan menyelipkan cerita diluar pelajaran yang akan mengeratkan kembali tali persaudaraan. Jadilah proaktif di dalam kelas, tanyakan apa yang membuatmu merasa janggal, agar pengajar juga mahasiswa lain senantiasa mendapatkan ‘positive vibes’ dan kelas akan berjalan lebih kondusif.

Sejatinya, ketika merasa terhubung dengan orang-orang yang bekerja dengan kita, kemungkinan besar kita akan menganggap pekerjaan tersebut lebih bermakna dan merasa antusias dengan kegiatannya. Mahasiswa yang bahagia akan engage dengan produktivitas, tak akan khawatir deadline karena dapat mengendalikannya. Antusiasme kita akan menular, membangun circle positive menciptakan lebih banyak antusiasme dan produktivitas di dalam kehidupan perkuliahan.

 

Penulis

Putri Shafira Carolina

Sejak awal diberikannya wahyu pertama di Gua Hira, Nabi Muhammad SAW telah menanamkan rasa persaudaraan dan ikatan iman di antara para pengikutnya. Ketulusan hatinya untuk melindungi umat dibuktikan dengan beragam peristiwa, disertai tangis, dan do’a yang selalu Rasulullah SAW panjatkan agar umat-nya senantiasa diberi perlindungan.

Nabi Muhammad SAW adalah pria dengan wajah yang bersinar mengalahkan bulan purnama, memiliki tubuh yang sempurna, dengan senyuman yang merekat diparasnya. Semua kebaikan Nabi Muhammad SAW perlu diterapkan pada kehidupan sehari-hari kita yang disebut Sunnah berarti ‘kebiasaan’, seperti kebiasaan tertawa tidak terbahak-bahak, berbicara dengan pelan dan jelas, memperhatikan lawan bicara, dan banyak lainnya.

Nabi Muhammad SAW senantiasa mendoakan umatnya, hingga menangis saat sedang bersujud karena bersedih untuk umatnya. Rasulullah SAW pun pernah shalat dengan melafalkan satu ayat berulang-ulang, ayat tersebut adalah Al-Maidah ayat 118 yang berisi:

اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۚوَاِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”

Sebagai umat Muslim, kita patut berbahagia memiliki suri tauladan yang menyebut nama umat dalam setiap pikirnya. Nabi Muhammad SAW yang berlaku baik sebagai contoh untuk umatnya agar selalu berada pada jalan yang benar. Seperti contoh kebaikan Nabi Muhammad SAW yang bergabung dengan para pemuda, menanggapi cerita, mengikuti alur pembicaraan, dan menambahkan pelajaran juga manfaat pada setiap percakapan. Hal ini dapat dicontoh oleh para pengajar, dapat meneladani Rasulullah SAW dengan berbaur, mendengarkan, menanggapi, memberikan pelajaran kepada mahasiswanya, dan tak lupa dengan batasan sesuai posisi sebagai pengajar.

Untuk mencintai Nabi Muhammad SAW tentunya kita harus mengenal kebaikannya dan kedekatan kita kepada Rasulullah tergantung dengan seberapa besar kita meneladani suri tauladan kita Rasulullah SAW.

Halal bihalal Teknik Industri UII 2021

Dalam satu hari, kita membaca syahadat minimal 5 kali saat shalat, mengamalkan Ashadualla Ilahailallah namun sering luput akan pengamalan Ayshadu Anna Muhammadarrasulullah
Karenanya, diharapkan dengan materi syawalan ini dapat mendekatkan kita terhadap pengamalan kebaikan Nabi Muhammad SAW. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Dikutip dari ceramah Bambang Suratno, S.T., M.T., Ph.D

 

Penulis

Putri Shafira Carolina

Mengenal Corporate Culture

Tak kenal maka tak sayang, saat ingin menjadi salah satu bagiannya, maka baiknya melakukan pendekatan. Salah satu caranya dengan mengenal Corporate Culture atau budaya perusahaan. Setiap hari para pegawai berhadapan dengan budaya perusahaan, seperti Honda dan Panasonic dengan budaya tradisionalnya atau Apple dengan informalitynya.

Konsep budaya sendiri diciptakan untuk ‘mewakili’ sesuatu dalam bentuk luas dan holistik. Hal kecil seperti aturan berpakaian, jam kerja, SOP, tunjangan pegawai, hingga cara memperlakukan klien merupakan cerminan dari budaya yang ada pada perusahaan.

Budaya perusahaan sejatinya tidak jelas, terkadang diperlihatkan kadang juga tidak. Terbentuk dari sebuah naluri para pegawai, kebiasaan berulang, dan respon emosional. Budaya memliki kekuatan juga konsekuensi yang besar, terlebih saat budaya perusahaan sudah mendarah-daging. Perusahaan dapat dengan sigap mengambil tindakan yang terkoordinasi dengan baik untuk setiap masalah yang menimpa. Selain itu, budaya perusahaan dapat mengarahkan pegawai untuk meningkatkan kemampuannya pada setiap tahap yang ditempuh.

Budaya ini dapat juga menjadi penghambat produktivitas dan komitmen emosional yang merusak kesuksesan jangka panjang. Karenanya, mencoba mengubah budaya yang salah secara signifikan, jauh lebih baik untuk berkonsentrasi pada perubahan perilaku karena budaya perusahaan lebih nyata dan terukur. Karena sejatinya budaya tidak berubah secara otomatis tetapi cenderung mengikuti perubahan situasi dan perilaku pegawainya.

Sumber :

  1. https://www.investopedia.com/terms/c/corporate-culture.asp#:~:text=Corporate%20culture%20refers%20to%20the,the%20people%20the%20company%20hires.
  2. https://www.youtube.com/watch?v=gficoigz1xs

Penulis

Putri Shafira Carolina

Metode pembelajaran Blended Learning

Blended learning perpaduan yang baik antara pengalaman pembelajaran daring dan luring. Sehingga kekuatan atau kelebihan antara pembelajaran daring dan tatap muka dapat tercampur menjadi pengalaman belajar yang unik sesuai dengan tujuan pendidikan. Kondisi pembelajaran diharapkan lebih dinamis dan kondusif. Metode blended ini memungkinkan dosen untuk tetap memantau dan mendorong mahasiswa mengeksplore ilmunya secara mandiri.

Metode pengembangan yang ditawarkan pada mata Logika Pemrograman adalah dengan menggunakan metode pembelajaran Blended Learning. Metode ini diimplementasikan berdasarkan adanya program hibah pengajaran yang diberikan oleh Program Studi Teknik Industri tahun ajaran 2019/2020. Program ini sebagai sarana mendorong dosen untuk dapat lebih berkreasi dengan pelaksanaan mengajar dikelas. Terutama dengan tatap muka dikelas hanya menghasilkan pembelajaran 1 arah saja dikarenakan kebanyakan mahasiswa yang tidak aktif dikelas. Hal ini mendorong mahasiswa tidak memiliki kemandirian terutama dalam keilmuan.

Logika Pemrograman

Matakuliah logika pemrograman merupakan salah satu matakuliah wajib semester 2 di Jurusan Teknik Industri yang bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa agar dapat menghadapi perkembangan industry 4.0. Pada matakuliah ini mahasiswa akan mempelajari bagaimana memecahkan masalah sesuai dengan Langkah-langkah yang baik menggunakan kaidah-kaidah pembuatan algoritma dan kemudian mengimplementasikan kedalam Bahasa pemrograman.

Pada matakuliah ini, Bahasa pemrograman yang digunakan yaitu Bahasa pemrograman python. Bahasa pemrograman python merupakan Bahasa pemrograman yang popular saat ini. Terutama dalam implementasinya pada bidang data science. Selain itu Bahasa pemrograman python sangat mudah untuk dipelajari.

Implementasi Blended Learning pada matakuliah Logika Pemrograman

Dari model pembelajaran blended learning pada mata kuliah logika pemrograman, telah dihasilkan media pembelajaran yang diunggah pada akun Youtube Channel Abdullah Azzam dan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik kepada mahasiswa khususnya pada praktek implementasi algoritma ke dalam Bahasa pemrograman python. Karena dengan media pembelajaran video mahasiswa dapat lebih fleksibel dalam mempelajari praktek Bahasa pemrograman python. Kendala saat dikelas dimana praktek hanya bisa dilakukan satu kali dapat diatasi dengan media video dimana mahasiswa dapat mengulang-ulang materi agar dapat lebih memahami bagaiaman mengimplementasikan Bahasa pemrograman.

Tampilan Media Pembelajaran Video

Bagaimana kesan Mahasiswa Terhadap Metode Pembelajaran ini?

Mahasiswa sudah merasa puas dengan media pembelajaran yang telah diberikan pada matakuliah logika pemrograman.  Mahasiswa berharap agar studi kasus yang diberikan khususnya pada materi implementasi Bahasa pemrograman bisa lebih diperbanyak jumlahnya, agar mahasiswa dapat lebih memahami materi tersebut.

 

Abdullah ‘Azzam, S.T., M.T

Dosen Teknik Industri

Universitas Islam Indonesia

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Mengapa kita harus menjauhi riba, karena dalam hadits yang sudah disepakati keshahihannya dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ! وَذَكَرَ مِنْهُنَّ: آكِلَ الرِّبَا.

“Jauhilah tujuh perkara yang membawa kehancuran,” dan beliau menyebutkan di antaranya, “Memakan riba.”

Dan telah datang ijma’ atas haramnya riba.

Imam ‘Ali bin Husain bin Muhammad atau yang lebih dikenal dengan sebutan as-Saghadi, menyebutkan dalam kitab an-Nutf bahwa riba menjadi tiga bentuk yaitu:

  1. Riba dalam hal peminjaman.
  2. Riba dalam hal hutang.
  3. Riba dalam hal gadaian.

Bagaimana sebagai seorang muslim/muslimah membangun bisnis yang tidak menggunakan riba?

Beberapa yang bisa diihtiarkan adalah memulai dari belajar sistem, dengan menjadi seorang karyawan pada perusahaan terbaik dikelasnya pada wilayah setempat.  Kita bisa mempelajari konsep cashflow quadrant yang dikeukakan oleh Robert T Kiyosaki, dengan melakukan penyesuaian sebagaimana bisnis yang diajarkan oleh Rosululloh SAW.

Gambar 1 Cashflow Quadrant

 

Gambar 2 Income statement dan Balance sheet

Memulai usaha/bisnis bagi pemula atau fresh graduate, permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana menemukan ide bisnis yang bagus dan sesai dengan passionnya, bagaimana permodalannya, bagaimana mengelola customer, supplier, dan karyawan, dan lain sebagainya. Memulai bisnis tanpa ilmu dan pengalaman sangat beresiko tinggi, apalagi kalau membangun bisnis menggunakan utang bank dengan bunga riba, itu adalah keputusan MORON alias bodoh, karena mencadangkan atau membayar kepastian dengan ketidakpastian. Artinya pemasukan dari bisnis tidak pasti, tapi angsuran (pokok + riba) yang harus dibayar adalah pasti.

Langkah apa yang bisa dilakukan?

Mengutip dari konsep yang dikemukakan oleh Robert T Kiyosaki pada cashflow quadrant, bisa diambil langkah awal adalah menjadi seorang E(Employee). Artinya kita membidik bisnis yang akan dipilih, diawali menjadi karyawan pada bisnis yang sejenis. Menjadi E diniatkan untuk belajar bagaimana menjalankan bisnis.. Jadi niat utama adalah belajar sambl melakukan akumulasi modal. Dari gambar 2, kotak income statement terdapat income, setelah dikurangi expenses maka masih ada saldo. Saldo yang ada ini dibelikan asset, bukan dibelanjakan untuk liabilities. Dengan membeli asset ini maka kita berada pada kuadrant 4 yaitu investor. Hasilnya bisa menambah income pada income statement, sehingga saldo akan bertmbah. Dalam kurun waktu 3 hingga 5 tahun, penguasaan atas bisnis menjadi semakin matang dan bisa menjadi seorang konsultan. Otomatis kita berada pada kuadrant 2, yaitu self-employment. Hasilnya akan menambah deretan income.

Langkah berkutnya adalah memulai membangun bisnis dimulai dari kecil. Dengan berbekal pengetahuan, pengalaman, dan modal yang memadahi, bisnis level kecil bisa dibangun. Selalu menjaga agar bisnis jauh dari maksiat dan tidak menggunakan uang bank yang mengandung riba.

Langkah terakhir adalah menuju kebebasan finansial dengan memperbanyak dan memperkuat kuadran 4 yaitu menjadi seorang investor sehingga waktu untuk beribadah menjadi semakin longgar, tanpa adanya angsuran bank yang mengandung riba.

Referensi:

 

https://almanhaj.or.id/4044-riba-pengertian-dan-macam-macamnya.html

Robert T Kiyosaki, Cash flow Quadrant

 

Penulis

Dr. Taufiq Immawan, S.T., M.M.

Dosen Jurusan Teknik Industri

Bismillaahirrahmanirrahiim

Adalah kewajiban bagi tiap muslim untuk menuntut ilmu. Jika dikaitkan dengan kondisi mahasiswa yang menuntut ilmu dengan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, yang harus menjadi perhatian penting yaitu bagaimana adab menuntut ilmu. Dalam hal ini penulis ingin mengingatkan bahwa kewajiban menuntut ilmu sebenarnya adalah ilmu agama. Ilmu dunia seperti yang dipelajari di perkuliahan hukum asalnya adalah mubah atau boleh. Bahkan akan menjadi lebih baik jika kelak ilmu dunia tersebut, misalnya mata kuliah optimisasi dalam prodi Teknik Industri, dipergunakan untuk kemaslahatan dan kebangkitan umat muslim. Berkata ‘Abdullah bin Mubarak rahimahullah bahwa sesuungguhnya awal dari ilmu itu adalah: (1) niat karena Allaah Ta’ala; (2) mendengarkannya; (3) memahaminya; (4) menghafalkannya; (5) mengamalkannya; dan (6) menyebarkannya.

Bermula dari niat untuk akhirat, niatkanlah bahwa ilmu dunia tersebut untuk membantu kebangkitan kaum muslimin. Tidak jarang mahasiswa menimba ilmu sampai jenjang sarjana hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus, kemudian akan dipakai untuk mencari pekerjaan di perusahaan-perusahaan berpredikat baik demi pendapatan yang tinggi. Niat bukan untuk akhirat, alih-alih menuntut ilmu malah menuntut nilai. Bukankah Allah Maha Melihat proses pembelajaran yang dilalui? Dengan menerapkan keyakinan beriman kepada Allah, ketika nilai yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka akan senantiasa tawakal. Jika sudah belajar dengan penuh kesungguhan, mengikuti cara-cara yang baik dalam proses pembelajarannya seperti berusaha dalam menyelesaikan tugas tanpa meng-copy tugas teman, Allah Maha Tahu segala. Memang sebagai manusia, sering melakukan khilaf dan salah, tidak mudah menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan. Kembali lagi kepada awal ilmu, perbaiki niat bahwa semata karena Allah, untuk akhirat, untuk kebangkitan Islam. Kelak ketika masa hisab datang, tidaklah dipertanyakan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) berapa melainkan mempertanggungjawabkan segala kecurangan yang dilakukan. Karena mata, telinga, tangan, dan semua anggota tubuh akan menyampaikan tiap perbuatan selama di dunia.

Al-Hasan Al-Bashry rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa mengungguli manusia dalam ilmu, maka dia lebih pantas untuk mengungguli mereka dalam amal”. Hal ini menjelaskan bahwa semakin banyak ilmu yang dimiliki oleh seseorang maka semakin banyak amal yang dilakukan. Senada dengan Al-Hasan Bashry rahimahullah, Al-Imam Sufyan bun Uyainah rahimahullah berkata bahwa manusia yang paling bodoh adalah siapa yang meninggalkan apa yang dia ketahui, manusia yang paling berilmu adalah siapa yang mengamalkan apa yang dia ketahui dan manusia yang paling utama adalah siapa yang paling takut kepada Allah Azza Wajalla. Dari keduanya, dapat disimpulkan bahwa manusia yang paling berilmu adalah yang mengamalkan ilmunya. Pada suatu training, pemateri menyampaikan bahwa terdapat suatu aturan yang disebut Rules 72. Yaitu jika sesuatu tidak diulang dalam 72 jam ke depan maka dipastikan seseorang akan lupa dengan apa yang telah dipelajarinya. Dari pengalaman mengajar, sangat sering mahasiswa tidak mengulang materi yang telah diberikan jika tidak diikuti dengan tugas. Di beberapa pertemuan perkuliahan, sebuah pertanyaan sering dilontarkan pada awal sesi, “Kapan terakhir Anda mengulang atau membaca materi minggu lalu?”. Dapat ditebak jawaban mahasiswa adalah minggu lalu pada saat di kelas. Mengamalkan suatu materi yang telah diajarkan dapat berupa mengerjakan latihan-latihan soal baik yang dibagikan oleh dosen maupun dari berbagai referensi, jika mata kuliah hitungan seperti Kalkulus. Sesuai dengan pepatah, ala bisa karena biasa. Semakin sering mengamalkan, semakin terasah kemampuan berhitungnya, semakin faham penerapan suatu rumus. Selain hitungan, mahasiswa harus mampu memahami dasar teori suatu mata kuliah seperti Fisika Dasar. Sebelum menyelesaikan soal hitungan, dibutuhkan kemampuan analisis yang terkadang lebih rumit daripada rumus Fisika itu sendiri. Dengan mengamalkannya melalui pengulangan materi secara mandiri maupun bersama-sama di luar kelas akan membuktikan bahwa ia adalah seorang yang berilmu, memahami suatu ilmu.

Dikisahkan oleh seorang ulama besar, asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbadhafizhahullah tentang akhlak al-Mujaddid al-‘Allamah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, di masjid Universitas Islam di Madinah pada malam Jumat, 6 Safar 1420 H. Beliau asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz memiliki cita-cita yang tinggi, rajin, dan bersemangat dalam menuntut ilmu. Beberapa hal yang dapat dicontoh dari asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz adalah kesabaran dan kesungguh-sungguhan dalam menuntut ilmu, mengamalkan ilmu, khasyah (rasa takut) dan ibadah, ketegaran dan keberanian dalam berdakwah, ketawadhuan dan kepedulian, dan yang terakhir adalah kasih sayang terhadap umat. Ketika usia 16 tahun, beliau mengalami sakit yang mengakibatkan penglihatannya semakin lemah dan tidak mampu melihat pada usia 20 tahun. Namun, Allah Subhanahu wata’ala mengaruniai beliau dengan iman dalam hati sehingga beliau tumbuh di atas ilmu, keutamaan, dan kesungguhan dalam mencari ilmu.

Ketika setiap hasil akhir dari suatu mata kuliah tidak seperti yang ditargetkan, maka senantiasa bersabar. Hal yang menurut pandangan manusia buruk atau jelek, tetapi tidak demikian di sisi Allah. Boleh jadi Allah menegur kita bahwa pada semester itu kita tidaklah benar-benar memanfaatkan waktu untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, mendengarkan yang dijelaskan oleh para dosen. Memperbaiki nilai dengan mengulang pada semester berikutnya bukanlah perkara memalukan selama niatnya karena Allah semata, untuk beribadah. Terkadang kita perlu berada di bawah, merasakan kondisi tidak menyenangkan, agar ketika masa susah itu terlewati kita dapat menghargai masa senang yang didapatkan. Tentunya ikhtiar senantiasa dilakukan, mengikuti tiap proses pembelajaran dengan cara-cara yang ma’ruf, menghindari kecurangan, karena hasil akhir merupakan akumulasi (kumulatif) dari yang telah diusahakan sejak awal semester.

Ilmu terdiri dari tiga tahapan: (1) jika seseorang memasuki tahapan pertama, dia akan sombong: (2) jika dia memasuki tahap kedua, dia akan tawadhu (rendah hati); (3) jika dia memasuki tahapan ketiga, dia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya (Umar bin Khattab). Tentang keutamaan tawadhu, sebuah hadits menjelaskan, “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta, tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain melainkan Allah akan menambah kemuliaannya, dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya” (HR. Muslim, no. 2588). Ada kalanya timbul rasa sombong tatkala kita memahami suatu materi yang dijelaskan dosen, dan dijadikan rujukan oleh teman-teman kelas dalam belajar. Namun, janganlah lupa bahwa sedikit kemampuan yang didapatkan tersebut adalah karena Allah yang Maha Baik. Dengan mudah semua kepintaran yang dimiliki dapat sirna atas izin Allah. Belajar dari padi, semakin berisi semakin merunduk. Alangkah beruntungnya jika kita mampu memasuki tahap ketiga yaitu merasa diri ini tidak ada apa-apanya jika bukan karena segala rizki dan hidayah dari Allah.

Berkata Al-Hasan al-Bashry rahimahullah, “Barangsiapa yang menuntut ilmu dalam rangka ingin mendapatkan keutamaan yang ada di sisi Allah, maka itu jauh lebih berharga dibanding dunia yang matahari senantiasa menyinarinya”. Innamaa a’maalu binniyaati, sesungguhnya tiap amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya. Berangkat dari rumah, tinggal berjauhan dari orangtua dan keluarga, ingin menuntut ilmu di perguruan tinggi, semoga tidak menjadi sia-sia karena tidak disertai akhlak menuntut ilmu. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, awal ilmu salah satunya adalah niat. Masih ada waktu untuk memperbaiki, niatkan karena Allah, untuk beribadah, untuk dipergunakan bagi kemaslahatan umat. Diseimbangkan antara menuntut ilmu agama dan dunia demi keselamatan akhirat. Dalam perjalanan perkuliahan terkadang kita tersesat. Senantiasa berdoa mohon kepada Allah agar kita tetap kuat. Aamiin

Penulis

Suci Miranda, S.T., M.Sc.

Dosen Jurusan Teknik Industri

 

Seorang Capster (Pemotong Rambut) saat berbincang dengan pelanggannya, memberikan pernyataan bahwa Tuhan itu tidak ada. Lalu pelanggan tersebut bertanya kepada Capster tersebut, kenapa bisa begitu? Capster tersebut menjawab, karena di luar sana masih banyak terjadi kekacauan, pencurian , perampokan, orang kelaparan dan lain sebagainya. Pelanggan tersebut ingin menjawab, namun mencari jawaban yang tepat. Setelah selesai potong rambut, saat keluar dari barber shop, dia melihat sosok laki-laki berambut panjang yang sedang mendengarkan musik di telinganya. Laki-laki tersebut diajak masuk ke barber shop dan dipertemukan dengan Capster. Lalu si pelanggan mengatakan bahwa tidak ada Capster di dunia ini. Sang Capster  sedikit bingung dengan pernyataan pelanggannya. Capster menjawab, yang salah laki-laki berambut panjang tersebut, mengapa dia tidak mau datang ke barber shop untuk minta tolong dipotong rambutnya. Pelanggan tersebut menjawab, itulah yang terjadi saat ini, manusia yang tidak mau datang ke Tuhannya, sehingga banyak terjadi kekacauan, pencurian, perampokan, orang kelaparan, dan lain sebagainya. Seandainya manusia selalu datang ke Tuhannya, maka keburukan tersebut tidak akan terjadi.

Kisah di atas bercerita tentang seseorang yang tidak percaya akan adanya Tuhan, disebabkan masih banyak terjadi keburukan. Namun kenyataannya adalah manusia sendiri tidak kembali ke Tuhannya, sehingga jauh dari petunjuk Tuhannya sehingga dengan mudah melakukan hal-hal yang buruk. Tidak bisa membedakan mana yang hak dan yang batil. Perlu diketahui bahwa kita hidup di dunia ini sudah takdirnya Alloh, dimana sudah tertuliskan di Kitab Lauhul Mahfudz. Kapan dan dimana kita dilahirkan dan meninggal, siapa jodohnya, dan seberapa besar rezekinya selama hidup, semua sudah tertuliskan di Kitab-Nya Alloh. Mengimani takdir adalah salah satu  rukun islam. Namun Alloh memberikan kesempatan kepada manusia untuk berusaha atau ikhtiar agar dapat mendapatkan hasil yang terbaik.

Itu yang dinamakan Peluang. Peluang untuk mendapatkan hasil yang terbaik dengan cara berusaha semaksimal mungkin. Manusia tidak akan tahu takdirnya sebelum peristiwa itu terjadi. Sebelum peristiwa terjadi, maka manusia harus berusaha semaksimal mungkin. Misal mahasiswa yang ingin mendapatkan nilai A. Kriteria untuk mendapatkan nilai A dapat diketahui sebelumnya, dengan mencapai nilai bobot UTS 30%, UAS 30%, dan Tugas 40%. Maka mahasiswa tersebut akan semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai ujian sempurna dan mengerjakan tugas sesuai kriteria yang telah ditetapkan. Selama satu semester sebisa mungkin untuk selalu hadir di kelas dan mendengarkan apa yang disampaiakan oleh dosen. Setelah semua komponen dilakukan secara maksimal, maka Peluang untuk mendapatkan nilai A terpenuhi.

Namun apa yang terjadi jika Alloh berkehendak lain. Contoh saat dosen akan memberikan nilai A karena semua komponen memenuhi syarat, saat akan mengumpulkan nilai di akademik, tanpa disengaja dosen menuliskan huruf C, dikarenakan dosen tersebut salah membaca nama atau nomor induk mahasiswa tersebut. Itu hak-Nya Alloh semata bila hal tersebut bisa terjadi. Jadi, takdir nilai mahasiswa tersebut adalah C. Jika mahasiswa tersebut menerima takdirnya dengan ikhlas, maka nilainya tetap C. Sebenernya mahasiswa tersebut masih ada Peluang untuk memperbaiki nilai tersebut, dengan menanyakan kepada dosen pengampu atau mengikuti ujian perbaikan. Dengan memaksimalkan usaha atau ikhtiar, mahasiswa tersebut sudah melakukan sesuai dengan prosedurnya, dan hasil akhir adalah kewenangan Alloh.

            “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka. (QS 13:11).

Ayat tersebut mengindikasikan bahwa kita ada pilihan untuk dapat merubah nasib kita sendiri. Sekali lagi adanya Peluang untuk dapat merubah nasib kita sendiri. Pilihannya adalah apakah kita mau hidup sengsara atau bahagia. Jika pilihannya adalah hidup sengsara, tidak perlu melakukan apa-apa, tidak perlu melakukan aktivitas apapun, bermain judi, menghambur-hamburkan uang, dan lain sebagainya. Begitupula sebaliknya, jika ingin merubah nasib lebih baik, maka kita harus bekerja, berusaha yang terbaik, dan yang paling penting adalah datang ke Alloh untuk selalu mendapatkan ridho-Nya.

Manusia yang sedang mendapatkan ujian dari Alloh itu bukan berarti Alloh benci dengan hamba-Nya, namun dengan ujian akan membedakan siapa yang beriman dan yang tidak beriman. Bagi yang beriman, dengan mendapatkan ujian, akan lebih menguatkan iman orang tersebut, karena disitulah kesabaran orang yang beriman akan diuji.

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS 2:153).

Dengan kesabaran itulah menjadi penolong bagi yang beriman, sehingga masalah seberat apapun tidak menjadi suatu masalah yang besar, namun akan menguatkan keimanan. Maka dari itu, dengan semakin banyak masalah di kehidupan ini, maka akan membentuk kedewasaan seseorang, bukan sebaliknya yang akan menjadikan suatu masalah adalah beban hidup. Belum lama juga terjadi seseorang yang tidak kuat menghadapi masalah hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Terjadinya keburukan di dunia ini, bukan berarti Tuhan tidak ada, namun yang diinginkan Alloh adalah adanya keburukan, maka diharapkan kebaikan akan muncul pula. Seandainya banyak manusia di dunia ini yang kelaparan, maka diharapkan ada manusia lain yang merasa prihatin dan tergerak hatinya untuk membantu manusia yang kelaparan tersebut. Dengan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Peluang manusia untuk melakukan kebaikan cukup besar. Memaksimalkan usaha dan disertai dengan doa berharap kepada Tuhan yaitu Alloh agar mendapatkan ridho-Nya.

Penulis

Chancard Basumerda, S.T., M.Sc.

Dosen Jurusan Teknik Industri