Tag Archive for: Dakwah

The academic world is always tied to grades, GPAs, rankings, scholarships, competitions, and the pressure to always be the best. This causes many students to live in a state of near-constant anxiety. Ambition fuels the drive to keep striving, but if taken too far, it can become a burden on the soul. Amid these pressures, tawakal can serve as a guiding principle, allowing individuals to keep striving without becoming consumed by anxiety over the outcome. 

Islam itself never forbids anyone from being ambitious, excelling, and achieving. However, ambition must be kept in its proper place such as ambitious students in the Industrial Engineering program at UII. One must continue to pursue goals earnestly, yet leave the final outcome to Allah. This balance is known as the harmony between ikhtiar (effort) and tawakal (surrender). These two aspects must be inseparable.

Maximum Effort: A Command, Not an Option

Tawakal does not mean simply surrendering without clear effort, leading to laziness. True tawakal is always preceded by sincere effort. In a hadith narrated by Anas bin Malik, a companion asked the Prophet Muhammad (peace be upon him) whether he could simply let his camel go while placing his trust in Allah. The Prophet (peace be upon him) said:

حَدَّثَنَا أَبُو حَفْصٍ، عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ، حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ أَبِي قُرَّةَ السَّدُوسِيُّ، قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ قَالَ ” اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ ” . قَالَ عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ يَحْيَى وَهَذَا عِنْدِي حَدِيثٌ مُنْكَرٌ . قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ الضَّمْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحْوُ هَذَا

“Anas ibn Malik narrated that a man said, ‘O Messenger of Allah! Should I tie it and put my trust in Allah, or leave it loose and put my trust in Allah?” He replied, “Tie it and put your trust in Allah.” (Narrated by al-Tirmidhi, no. 2517)

This hadith serves as an important foundation establishing that tawakkul without effort is not true tawakkul, but rather a misplaced form of resignation. Allah also emphasizes in the Qur’an that the results of one’s efforts do not come on their own, but rather through a process that requires struggle:

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ

“That man shall only reap what he has sown” (Quran 53:39)

For a college student, this verse can serve as both a reminder and a source of motivation. Studying diligently, completing assignments carefully, managing time effectively, and continually striving to improve are not just about achieving good results—they are also acts of worship. This is because Allah looks at a person’s effort and sincerity, not just the final outcome.

Tawakal: Do Your Best, Then Leave the Outcome to Allah

The most challenging moment for many students is when they’ve given their all, yet the results fall short of expectations. It is precisely at this point that the true meaning of tawakal is put to the test. Tawakal does not mean giving up before even trying; rather, it means entrusting the final outcome to Allah after having made a sincere effort. Allah says:

فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ۝١٥٩ …..

“Then, when you have made up your mind, put your trust in Allah. Indeed, Allah loves those who put their trust in Him.” (Quran 3:159)

The peace of mind that comes from tawakal enables a believer to strive with greater composure, unburdened by excessive fear of failure. This aligns with the findings of a study by (Supriadin et al., 2024), which showed that 84.2% of respondents understood tawakal as a combination of effort and surrender to Allah. Meanwhile, 52.6% of respondents believed that tawakal can help reduce stress and foster solidarity. Thus, tawakal teaches that one must continue to do one’s best, but not allow the outcome to become a source of anxiety, as the final result is part of Allah’s will.

Guarding the Heart Through Ikhtiar and Tawakal

In the academic world, there are two extreme attitudes that must be avoided. Placing excessive hope in Allah’s help without accompanying it with effort can make a person passive and reluctant to strive. Conversely, being too afraid of failure can cause a person to feel constantly anxious and dwell excessively on the outcome. Therefore, a balance is needed between ikhtiar and tawakal. That is, striving earnestly without being overly dependent on the outcome, and then entrusting the final result to Allah.

The Prophet Muhammad (peace be upon him) taught a beautiful middle path through a meaningful prayer:

اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

“O Allah, there is no ease except that which You make easy. And You make sorrow (difficulty) if You will it, it will surely become easy.” (Narrated by Ibn Hibban)

This prayer teaches that human effort is merely a means, while true ease comes from Allah. A student who understands this will continue to strive wholeheartedly in their studies, pursue achievements, and improve themselves, yet will not lose heart when the results do not go as planned. This is because they are certain that Allah never wastes the efforts of His servants, whether the results are immediately apparent or not.

Chasing Dreams with a Peaceful Heart

Balancing ambition and tawakal does not mean reducing one’s efforts, but rather learning to accept that results do not always align with expectations. A student must still study diligently because all of that is part of their effort and responsibility. After doing their very best, the final outcome is entrusted to Allah with a calm and open heart.

With this attitude, a student can continue to pursue their aspirations and give their best effort without worrying too much about the results.

Nisrina Nur Masrefa

 

REFERENCE

Supriadin, I., Abubakar, A., & Arsyad, A. (2024). DISKURSUS TEOLOGI QADARIYAH DAN JABARIYAH : TAWAKAL DALAM TINJAUAN FILOSOFIS DAN SURVEY. Jurnal Studi Islam, 5(2).

Dunia akademik selalu berkaitan dengan nilai, IPK, ranking, beasiswa, kompetisi, hingga tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik. Hal ini membuat banyak pelajar dan mahasiswa hidup dalam kecemasan yang nyaris konstan. Ambisi menjadi bahan bakar untuk terus berjuang, tapi jika melewati batas, ambisi bisa berubah menjadi beban jiwa. Di tengah tekanan tersebut, tawakal dapat menjadi pegangan agar seseorang tetap berusaha tanpa larut dalam kecemasan terhadap hasil.

Pada islam sendiri tidak pernah melarang seseorang untuk berambisi, unggul, dan berprestasi. Tetapi untuk berambisi harus sesuai tempatnya, seperti mahasiswa berambisi di lingkup Teknik Industri UII. Tetap dikejar dengan sungguh-sungguh, namun hasil akhirnya diserahkan kepada Allah. Keseimbangan inilah yang dinamakan antara ikhtiar (usaha) dan tawakal (berserah diri). Kedua sisi ini haruslah tidak terpisahkan.

Ikhtiar Maksimal, Perintah bukan Pilihan

Tawakal bukan berarti hanya berserah tanpa usaha yang jelas sehingga hanya bermalas-malasan. Tawakal yang benar selalu didahului oleh usaha yang sungguh-sungguh. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW apakah ia boleh melepas untanya begitu saja sambil bertawakal kepada Allah. Nabi SAW bersabda:

حَدَّثَنَا أَبُو حَفْصٍ، عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ، حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ أَبِي قُرَّةَ السَّدُوسِيُّ، قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ قَالَ ” اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ ” . قَالَ عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ يَحْيَى وَهَذَا عِنْدِي حَدِيثٌ مُنْكَرٌ . قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ الضَّمْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحْوُ هَذَا .

“Anas bin Malik meriwayatkan bahwa seorang lelaki berkata: “Wahai Rasulullah! Haruskah aku mengikatnya dan bertawakkal (kepada Allah), atau membiarkannya longgar dan bertawakkal (kepada Allah)?” Beliau bersabda: “Ikatlah dan bertawakkallah.”” (HR. Tirmidzi, no. 2517)

Hadits ini menjadi fondasi penting bahwa tawakal tanpa usaha bukanlah tawakal, melainkan bentuk kepasrahan yang salah tempat. Allah juga menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa hasil sebuah usaha tidak datang sendiri, melainkan melalui proses yang diperjuangkan:

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ

“Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm [53]: 39)

Bagi seorang mahasiswa, ayat ini bisa menjadi sebuah peringatan serta dapat memotivasi. Belajar dengan baik, mengerjakan tugas dengan teliti, disiplin waktu, dan terus berusaha menjadi lebih baik bukan hanya untuk mendapatkan hasil yang bagus, tetapi juga termasuk ibadah. Karena Allah melihat usaha dan kesungguhan seseorang, bukan hanya hasil akhirnya.

Tawakal: Berusaha Sebaik Mungkin, Lalu Menyerahkan Hasil kepada Allah

Titik paling rawan bagi banyak pelajar adalah ketika usaha sudah maksimal, tetapi hasil tidak sesuai harapan. Justru pada titik inilah makna tawakal benar-benar teruji. Tawakal bukan berarti pasrah sebelum mencoba, melainkan menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah usaha yang sudah terlaksana secara sungguh-sungguh. Allah berfirman:

فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ۝١٥٩ …..

“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)

Ketenangan yang lahir dari tawakal membuat seorang mukmin dapat berusaha dengan lebih tenang tanpa dihantui rasa takut berlebihan terhadap kegagalan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian pada (Supriadin et al., 2024) yang menunjukkan bahwa 84,2% responden memahami tawakal sebagai perpaduan antara usaha dan berserah diri kepada Allah. Sedangkan 52,6% responden meyakini bahwa tawakal dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan solidaritas. Sehingga, tawakal mengajarkan bahwa seseorang perlu tetap berusaha sebaik mungkin, tetapi tidak membiarkan hasil menjadi sumber kecemasan karena hasil akhirnya merupakan bagian dari kehendak Allah.

Menjaga Hati dengan Ikhtiar dan Tawakal

Dalam dunia akademik, ada dua sikap berlebihan yang perlu dihindari. Terlalu berharap pada pertolongan Allah tanpa diiringi usaha dapat membuat seseorang menjadi pasif dan malas berusaha. Sebaliknya, terlalu takut terhadap kegagalan dapat membuat seseorang terus merasa cemas dan terlalu memikirkan hasil. Karena itu, diperlukan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal, yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh tanpa terlalu bergantung pada hasil, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Rasulullah SAW mengajarkan jalan tengah yang indah melalui sebuah doa yang penuh makna:

اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah].” (HR. Ibnu Hibban)

Doa ini mengajarkan bahwa usaha manusia hanyalah sarana, sementara kemudahan sejati datang dari Allah. Seorang pelajar yang memahami hal ini akan tetap berjuang habis-habisan dalam belajar, mengejar prestasi, dan memperbaiki diri tetapi tidak akan berkecil hati saat hasil belum sesuai rencana. Hal ini karena ia yakin bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya, baik hasilnya terlihat langsung maupun tidak.

Mengejar Cita-Cita dengan Hati yang Tenang

Menyeimbangkan ambisi dan tawakal bukan berarti mengurangi usaha, tetapi belajar menerima bahwa hasil tidak selalu sesuai dengan yang diharapkan. Seorang pelajar tetap perlu belajar dengan sungguh-sungguh karena semua itu merupakan bagian dari usaha dan tanggung jawab. Setelah berusaha sebaik mungkin, hasil akhirnya diserahkan kepada Allah dengan hati yang tenang dan lapang.

Dengan sikap tersebut, seorang pelajar dapat terus mengejar cita-cita dan memberikan usaha terbaik tanpa terlalu cemas terhadap hasil yang akan diperoleh.

Nisrina Nur Masrefa

 

REFERENSI

Supriadin, I., Abubakar, A., & Arsyad, A. (2024). DISKURSUS TEOLOGI QADARIYAH DAN JABARIYAH : TAWAKAL DALAM TINJAUAN FILOSOFIS DAN SURVEY. Jurnal Studi Islam, 5(2).

Jaga Lisan

Di era digital, perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia berinteraksi, bekerja, dan membangun kehidupan sosial. Hal ini juga menjadi bagian dari perhatian Teknik Industri UII dalam melihat hubungan antara manusia, teknologi, dan sistem yang terus berkembang. Di tengah perubahan tersebut, menjaga lisan di era digital menjadi tanggung jawab yang semakin penting. Satu ketikan, satu komentar, dan satu unggahan kini dapat menjangkau jutaan orang dalam hitungan menit. Semudah itu, tetapi sebesar itulah tanggung jawab yang menyertainya. Di tengah derasnya arus informasi, kita kerap lupa bahwa setiap kata yang kita ketik adalah bagian dari “lisan” kita; dan bahwa lisan, dalam ajaran Islam, adalah gerbang kebaikan sekaligus gerbang kehancuran.

Dua Kisah yang Menggugah

Beberapa waktu terakhir, publik dihebohkan oleh dua peristiwa yang sama-sama bermula dari komentar di media sosial. Yang pertama adalah kisah seorang kakek penjual pakaian, Pak Pitono (akun TikTok toko.pa.pitono), yang rutin berjualan melalui siaran langsung. Alih-alih mendapat dukungan, barang dagangannya justru dihina-hina: disamakan dengan barang yang diambil dari jemuran tetangga atau dari tong sampah. Menariknya, sang kakek merespons dengan sangat tenang bahkan meminta maaf kepada para penonton. Sikap itulah yang kemudian memancing gelombang simpati publik (TribunWow, 8 Agustus 2026).

Kisah kedua lebih memilukan. Yurizal Tri Chaerawan (29 tahun), pasien BPJS yang tengah sakit, mengeluh di platform Threads pada 22 Juli 2026 bahwa ia telah menunggu delapan jam untuk mendapatkan kamar rawat inap. Alih-alih mendapat empati, tulisannya justru dibalas hujatan, termasuk dari oknum tenaga kesehatan di media sosial. Sekitar sepekan kemudian, pada 31 Juli 2026, Yurizal meninggal dunia. Hingga kini belum ada keterangan medis resmi yang menyatakan kematiannya berkaitan dengan waktu tunggu tersebut (Kompas, 5 Agustus 2026). Namun satu hal yang pasti: unggahan terakhirnya di dunia ini dijawab bukan dengan doa, melainkan dengan hujatan.

“Barang dari tong sampah.” “Minta diprioritaskan.” “Alay.” Kata-kata seperti ini hanya butuh tiga detik untuk diketik, tetapi bekasnya bisa menetap bertahun-tahun di hati seseorang. Bahkan, bisa menjadi kalimat terakhir yang ia baca sebelum berpulang.

Menjaga Lisan di Era Digital dalam Pandangan Islam

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Man kāna yu’minu billāhi wal-yaumil-ākhiri fal-yaqul khairan au liyashmut.

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengajarkan bahwa diam bukan kehilangan, melainkan wujud iman. Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa seorang hamba bisa mengucapkan satu kalimat yang diridai Allah sehingga diangkat derajatnya, dan bisa pula mengucapkan satu kalimat yang dimurkai Allah sehingga ia terjungkal ke dalam neraka (HR Bukhari). Betapa tipis jarak antara dua kalimat itu dan betapa cepat jari kita mengetik tanpa menghitung.

 

Allah juga berfirman dalam QS Qaf (50): 18:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Mā yalfiẓu min qaulin illā ladaihi raqībun ‘atīd.

Artinya: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”

Ayat ini selama ini dipahami untuk ucapan lisan. Di era digital, ia memperoleh makna baru: setiap huruf yang kita ketik, setiap komentar yang kita kirim, juga tercatat. Tidak ada mode penyamaran di hadapan Allah.

Dari Ucapan ke Tulisan: Jempol Juga Lisan

Sebagian orang merasa aman karena yang ia tulis dianggap bukan “ucapan”. Padahal, para ulama memandang tulisan sebagai lisan kedua. Karena itu, menjaga lisan di era digital tidak hanya berarti menjaga ucapan, tetapi juga menjaga setiap tulisan dan komentar yang kita bagikan: al-kitābah ka al-khiṭāb artinya tulisan memiliki kedudukan seperti pembicaraan. Bahkan tulisan bisa lebih berbahaya daripada ucapan. Ucapan hilang bersama suara; tulisan abadi di server, dapat disalin, disebar, dan dibaca ribuan kali. Tulisan yang menyakiti tetap menyakiti, meskipun penulisnya tidak menyebut nama. Islam bahkan mengajarkan agar kita menyebut kebaikan orang yang telah meninggal dan menahan diri dari menyebut keburukan mereka (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Al-Qur’an untuk Segala Zaman

Ada anggapan bahwa ajaran agama ketinggalan zaman. Dua kisah di awal tulisan ini justru membuktikan sebaliknya. Allah berfirman dalam QS Al-Hujurat (49): 12:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيَحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Wa lā yaghtab ba’ḍukum ba’ḍan, a yuḥibbu aḥadukum an ya’kula laḥma akhīhi maitan fa karihtumūh.

Artinya: “…dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya…”

 

Bahkan fenomena “viral” pun telah didahului Al-Qur’an. QS An-Nur (24): 19:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Innallażīna yuḥibbūna an tashī’al-fāḥisyatu fillażīna āmanū lahum ‘aẓābun alīmun fid-dunyā wal-ākhirah.

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.”

Menyebarkan aib, memperluas keburukan, ikut meramaikan hujatan, semuanya termasuk dalam cakupan ayat ini. Demikian pula QS Al-Qalam (68): 10–11 yang melarang kita mengikuti “setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghamburkan fitnah.” Di era algoritma, mereka yang “kian ke mari menghamburkan fitnah” adalah para pelaku hujatan yang menjadikan luka orang lain sebagai bahan konten.

Inilah bukti bahwa wahyu Allah bukan untuk satu zaman saja. Apa yang disyariatkan empat belas abad silam justru menjadi obat paling tepat bagi penyakit yang baru lahir belakangan ini. Bentuk masalah manusia berubah-ubah, tetapi akar penyakitnya sama: hati yang tidak dijaga.

Refleksi

Sebelum mengetik, mari bertanya kepada diri sendiri:

  • Apakah kata ini akan kuucapkan jika orangnya berdiri tepat di depanku?
  • Apakah aku tahu seluruh konteks ceritanya, atau aku hanya menghakimi dari satu unggahan?
  • Apakah aku sedang membela kebenaran, atau sekadar ikut-ikutan ramai?
  • Apakah komentarku akan menjadi doa, atau justru menjadi luka terakhir bagi pembacanya?

Ada satu lagi yang bisa kita renungkan: kapan terakhir kali kita menahan jari? Boleh jadi, pahala terbesar hari ini diraih oleh orang-orang yang sudah mengetik setengah kalimat, lalu menghapusnya. Karena Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Bijak Menjaga Lisan di Era Digital

Dunia maya itu nyata efeknya. Di balik setiap akun ada manusia, di balik setiap layar ada hati yang bisa terluka. Menjaga lisan di era digital dan menjaga jari kita dari menuliskan sesuatu yang tidak baik adalah jihad kecil di era digital. Semoga kita termasuk orang-orang yang ucapannya menjadi rahmat, tulisannya menjadi kebaikan, dan kehadirannya di dunia maya tidak melukai siapapun, Aamiin…

 

Referensi

  • Kompas.com (5 Agustus 2026). “BPJS Kesehatan Buka Suara soal Peserta JKN yang Meninggal Usai Curhat Tak Dapat Kamar Inap.”
  • ANTARA News. “Fakta-fakta kasus viral Yurizal pasien BPJS yang meninggal dunia.”
  • detikHealth. “Kemenkes Jelaskan Duduk Perkara Viral Pasien BPJS Nunggu 8 Jam, Ternyata di RSCM.”
  • TribunWow.com (8 Agustus 2026). “Viral Kakek Penjual Daster Dihina Saat Live TikTok, Responsnya Bikin Tersentuh

 

Putri Dwi Annisa