Dunia akademik selalu berkaitan dengan nilai, IPK, ranking, beasiswa, kompetisi, hingga tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik. Hal ini membuat banyak pelajar dan mahasiswa hidup dalam kecemasan yang nyaris konstan. Ambisi menjadi bahan bakar untuk terus berjuang, tapi jika melewati batas, ambisi bisa berubah menjadi beban jiwa. Di tengah tekanan tersebut, tawakal dapat menjadi pegangan agar seseorang tetap berusaha tanpa larut dalam kecemasan terhadap hasil.
Pada islam sendiri tidak pernah melarang seseorang untuk berambisi, unggul, dan berprestasi. Tetapi untuk berambisi harus sesuai tempatnya, seperti mahasiswa berambisi di lingkup Teknik Industri UII. Tetap dikejar dengan sungguh-sungguh, namun hasil akhirnya diserahkan kepada Allah. Keseimbangan inilah yang dinamakan antara ikhtiar (usaha) dan tawakal (berserah diri). Kedua sisi ini haruslah tidak terpisahkan.
Ikhtiar Maksimal, Perintah bukan Pilihan
Tawakal bukan berarti hanya berserah tanpa usaha yang jelas sehingga hanya bermalas-malasan. Tawakal yang benar selalu didahului oleh usaha yang sungguh-sungguh. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW apakah ia boleh melepas untanya begitu saja sambil bertawakal kepada Allah. Nabi SAW bersabda:
حَدَّثَنَا أَبُو حَفْصٍ، عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ، حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ أَبِي قُرَّةَ السَّدُوسِيُّ، قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ قَالَ ” اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ ” . قَالَ عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ يَحْيَى وَهَذَا عِنْدِي حَدِيثٌ مُنْكَرٌ . قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ الضَّمْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحْوُ هَذَا .
“Anas bin Malik meriwayatkan bahwa seorang lelaki berkata: “Wahai Rasulullah! Haruskah aku mengikatnya dan bertawakkal (kepada Allah), atau membiarkannya longgar dan bertawakkal (kepada Allah)?” Beliau bersabda: “Ikatlah dan bertawakkallah.”” (HR. Tirmidzi, no. 2517)
Hadits ini menjadi fondasi penting bahwa tawakal tanpa usaha bukanlah tawakal, melainkan bentuk kepasrahan yang salah tempat. Allah juga menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa hasil sebuah usaha tidak datang sendiri, melainkan melalui proses yang diperjuangkan:
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ
“Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm [53]: 39)
Bagi seorang mahasiswa, ayat ini bisa menjadi sebuah peringatan serta dapat memotivasi. Belajar dengan baik, mengerjakan tugas dengan teliti, disiplin waktu, dan terus berusaha menjadi lebih baik bukan hanya untuk mendapatkan hasil yang bagus, tetapi juga termasuk ibadah. Karena Allah melihat usaha dan kesungguhan seseorang, bukan hanya hasil akhirnya.
Tawakal: Berusaha Sebaik Mungkin, Lalu Menyerahkan Hasil kepada Allah
Titik paling rawan bagi banyak pelajar adalah ketika usaha sudah maksimal, tetapi hasil tidak sesuai harapan. Justru pada titik inilah makna tawakal benar-benar teruji. Tawakal bukan berarti pasrah sebelum mencoba, melainkan menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah usaha yang sudah terlaksana secara sungguh-sungguh. Allah berfirman:
فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ١٥٩ …..
“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)
Ketenangan yang lahir dari tawakal membuat seorang mukmin dapat berusaha dengan lebih tenang tanpa dihantui rasa takut berlebihan terhadap kegagalan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian pada (Supriadin et al., 2024) yang menunjukkan bahwa 84,2% responden memahami tawakal sebagai perpaduan antara usaha dan berserah diri kepada Allah. Sedangkan 52,6% responden meyakini bahwa tawakal dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan solidaritas. Sehingga, tawakal mengajarkan bahwa seseorang perlu tetap berusaha sebaik mungkin, tetapi tidak membiarkan hasil menjadi sumber kecemasan karena hasil akhirnya merupakan bagian dari kehendak Allah.
Menjaga Hati dengan Ikhtiar dan Tawakal
Dalam dunia akademik, ada dua sikap berlebihan yang perlu dihindari. Terlalu berharap pada pertolongan Allah tanpa diiringi usaha dapat membuat seseorang menjadi pasif dan malas berusaha. Sebaliknya, terlalu takut terhadap kegagalan dapat membuat seseorang terus merasa cemas dan terlalu memikirkan hasil. Karena itu, diperlukan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal, yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh tanpa terlalu bergantung pada hasil, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Rasulullah SAW mengajarkan jalan tengah yang indah melalui sebuah doa yang penuh makna:
اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah].” (HR. Ibnu Hibban)
Doa ini mengajarkan bahwa usaha manusia hanyalah sarana, sementara kemudahan sejati datang dari Allah. Seorang pelajar yang memahami hal ini akan tetap berjuang habis-habisan dalam belajar, mengejar prestasi, dan memperbaiki diri tetapi tidak akan berkecil hati saat hasil belum sesuai rencana. Hal ini karena ia yakin bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya, baik hasilnya terlihat langsung maupun tidak.
Mengejar Cita-Cita dengan Hati yang Tenang
Menyeimbangkan ambisi dan tawakal bukan berarti mengurangi usaha, tetapi belajar menerima bahwa hasil tidak selalu sesuai dengan yang diharapkan. Seorang pelajar tetap perlu belajar dengan sungguh-sungguh karena semua itu merupakan bagian dari usaha dan tanggung jawab. Setelah berusaha sebaik mungkin, hasil akhirnya diserahkan kepada Allah dengan hati yang tenang dan lapang.
Dengan sikap tersebut, seorang pelajar dapat terus mengejar cita-cita dan memberikan usaha terbaik tanpa terlalu cemas terhadap hasil yang akan diperoleh.
Nisrina Nur Masrefa
REFERENSI
Supriadin, I., Abubakar, A., & Arsyad, A. (2024). DISKURSUS TEOLOGI QADARIYAH DAN JABARIYAH : TAWAKAL DALAM TINJAUAN FILOSOFIS DAN SURVEY. Jurnal Studi Islam, 5(2).








