Lab. Pemodelan dan Simulasi Industri (DELSIM), Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Seminar #2 yang berlangsung secara luring pada Jumat (05/12) dengan mengangkat topikThe Role of System Simulation in Modern Industrial Decision-Making. Sebanyak 62 peserta menghadiri kegiatan ini. Acara ini bertujuan memberikan wawasan kepada mahasiswa dan peserta terkait penerapan simulasi sistem untuk menyelesaikan permasalahan industri yang kompleks serta mendukung pengambilan keputusan strategis di perusahaan.

Demas Rakha Freeporta dan Bintang Nairah Yuan bertugas sebagai Master of Ceremony (MC) dan membuka seminar tepat pukul 08.00 WIB. Setelah pembukaan, kedua MC memimpin peserta dalam menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Himne UII. Daffa Allamsyah menyampaikan sambutan sebagai Koordinator Asisten Lab. DELSIM. Selanjutnya, Didin Dwi Novianto, S.T., M.LSCM., menyampaikan sambutan sebagai perwakilan dosen UII. Sebelum memasuki sesi materi, MC memperkenalkan Amanda Trixie Alsyaviar sebagai moderator seminar.

Amanda kemudian memperkenalkan pembicara pada seminar kali ini yaitu Wahyu Kurniawan, S.T., MBA., M.Sc., CISCP.,. Wahyu aktif mengajar di Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta dan memiliki pengalaman hampir sepuluh tahun di industri dengan pertumbuhan CAGR periode 2016–2020 sekitar 78,9%. Pengalaman profesional tersebut dapat membentuk keahliannya dalam bidang logistik dan manajemen rantai pasok, pengembangan bisnis, analisis keuangan, studi kelayakan, serta pelaporan bisnis dan keuangan.

Kapan dan Mengapa Memilih Simulasi?

Wahyu membuka sesi pemaparan materi dengan menjelaskan pentingnya menentukan waktu yang tepat dalam menggunakan metode simulasi untuk menyelesaikan permasalahan industri. Beliau menekankan bahwa tidak semua permasalahan memerlukan simulasi, sehingga pemilihan metode harus menyesuaikan tingkat kompleksitas masalah. Dalam riset operasi, terdapat penggunaan tiga tingkatan metode. Metode tersebut yaitu exact method seperti simplex untuk masalah terstruktur, probabilistic method atau metaheuristik untuk masalah dengan kompleksitas sedang, dan simulasi untuk masalah dengan tingkat kompleksitas dan ketidakpastian tinggi.

“Ada hirarkinya bahwa sebuah problem itu bisa terselesaikan oleh berbagai pendekatan. Simulasi terpakai ketika kita berhadapan dengan problem kompleks.” Ungkapnya.

Wahyu melanjutkan dengan memberikan beberapa kriteria untuk mengenali problem kompleks seperti tingginya variabilitas data dan banyaknya variabel dalam suatu sistem. Beliau memberikan contoh sesuai dengan proyek yang sedang beliau kerjakan. Proyek dengan kasus pengangkutan limbah lumpur dari 451 titik sumur pengeboran minyak dengan tingkat produksi tidak stabil. Variasi data yang fluktuatif serta banyaknya titik pengangkutan menyulitkan penerapan pemodelan matematis dan menjadikan simulasi sebagai solusi pemecahan masalah tersebut.

Sesi Diskusi Interaktif

Pada sesi diskusi, peserta aktif mengajukan berbagai pertanyaan terkait penerapan simulasi dalam dunia industri. Berbagai pertanyaan tersebut meliputi ketidakpastian biaya transportasi pada perusahaan yang dipengaruhi fluktuasi harga bahan bakar dan bagaimana proses validasi model dilakukan, mengenai penelitian bertema job shop yang memadukan discrete event simulation dan metode metaheuristik. Pertanyaan terkait ketidakstabilan penjadwalan produksi pada industri minuman dan pemilihan solusi terbaik. Peserta juga menanyakan metode yang tepat untuk mengidentifikasi akar permasalahan industri, menentukan prioritas, dan memilih pendekatan pemecahan masalah yang paling efektif.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Wahyu menjelaskan bahwa ketidakpastian dalam transportasi menggunakan shipping line simulasi menjadi solusi yang lebih fleksibel untuk mengevaluasi berbagai skenario operasional. Selain itu, Wahyu merespons pertanyaan terkait penelitian job shop dengan menjelaskan bahwa makespan dapat dijadikan parameter optimasi pada metaheuristik, kemudian diuji kembali melalui simulasi untuk memastikan efektivitasnya di kondisi sebenarnya, serta pentingnya mengidentifikasi akar masalah sebelum menentukan alternatif perbaikan.

Sesi diskusi ini menegaskan peran simulasi yang melampaui analisis teknis semata. Simulasi membantu memahami perilaku sistem secara menyeluruh dalam kondisi yang kompleks dan tidak pasti. Peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi selama sesi diskusi. Wawasan tersebut mendorong peserta terus mengembangkan kemampuan analitis dan memanfaatkan simulasi dalam pengambilan keputusan yang lebih tepat dan efisien.

Nisrina Nur Masrefa

(Yogyakarta)—Kegiatan ERP TALKS kembali digelar pada Minggu (21/12) secara online melalui platform Zoom. Kegiatan ini merupakan agenda tahun yang diselenggarakan oleh Laboratorium Enterprise Resource Planning (ERP) Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia. Dalam kegiatan ini dihadirkan sesi sharing session bidang keilmuan ERP yang mengundang para alumni. Berbeda dari tahun sebelumnya, ERP TALKS 2025 mengangkat tema “The Essential Role of HCM Consultants in Supporting Business Value Creation”.

Melalui tema tersebut, kegiatan ini mengajak audiens mengenal lebih dekat profesi ERP Consultant, khususnya dalam penerapan Human Capital Management (HCM). Sejalan dengan fokus tersebut, Nur Abdillah Bagus Prakoso hadir sebagai narasumber. Ia merupakan alumni Teknik Industri UII yang saat ini berkarier sebagai Oracle HCM Functional Consultant di PT Tree Solutions.

Sesi sharing dibuka dengan pemaparan singkat perjalanan akademik dan profesional narasumber. Nur Abdillah Bagus membagikan pengalamannya sejak menjadi asisten Laboratorium ERP hingga terlibat langsung dalam implementasi sistem HCM di berbagai perusahaan.

Peran Konsultan HCM dalam penerapan HCIS

Memasuki sesi utama, narasumber mengajak audience memahami pergeseran trend pengelolaan sumber daya manusia. Nur Abdillah Bagus menekankan bahwa organisasi saat ini tidak lagi memandang karyawan sebagai sekadar biaya operasional, melainkan sebagai investasi strategis jangka panjang. 

Human capital saat ini menjadi aset utama perusahaan dalam menciptakan nilai bisnis jangka panjang. Hal ini melandasi pentingnya penerapan Human Capital Information System (HCIS) dalam perusahaan. ,” jelasnya.

Lebih lanjut beliau menjelaskan terkait integrasi proses bisnis yang ada dalam HCM. Yang mana, setiap proses tersebut menghasilkan data analisis untuk mendukung pengambilan keputusan manajemen.

Sebagai penutup materi, narasumber menegaskan bahwa peran HCM Consultant tidak hanya terbatas pada konfigurasi sistem. Lebih dari itu, seorang konsultan bertanggung jawab untuk menerjemahkan kebutuhan bisnis ke dalam fitur HCIS serta memberikan rekomendasi perbaikan. Sehingga implementasi ERP benar-benar memberikan nilai tambah bagi perusahaan.

“Seorang konsultan harus mampu memahami proses bisnis, menganalisis kebutuhan klien, dan mengomunikasikan solusi secara tepat, bukan hanya menguasai fitur sistem,” ujarnya.

Diskusi Interaktif

Suasana ERP TALKS semakin hidup saat sesi tanya jawab berlangsung. Para peserta aktif berdiskusi mengenai profesi ERP Consultant dan penerapan HCIS. Mereka mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari indikator keberhasilan implementasi HCIS hingga keterampilan yang perlu dipersiapkan untuk berkarier di bidang ERP. Menanggapi hal tersebut, Nur Abdillah Bagus membagikan pandangannya, 

“Pemahaman proses bisnis, kemampuan analisis, serta keterampilan komunikasi menjadi hal yang jauh lebih penting dibandingkan sekadar menghafal fitur sistem.” 

ERP Talks ini tidak hanya memberikan wawasan teknis, tetapi juga membuka sudut pandang baru bagi mahasiswa mengenai bagaimana teknologi ERP, khususnya bidang HCM, dapat berkontribusi langsung dalam penciptaan nilai bisnis. 

Syawarani Gayatri

Kuntoro Bismo, alumni sekaligus pembicara pada kuliah praktisi

Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menghadirkan kegiatan Kuliah Praktisi  pada Sabtu (22/11). Kuliah Praktisi kali ini membawakan tema “Projeck Risk Management“. Mahasiswa Teknik Industri UII turut hadir meramaikan kegiatan ini yang merupakan bagian pembelajaran. Kuliah berlangsung secara daring melalui platfrom Zoom Meeting.

Pada kuliah praktisi kali ini, Program Studi Teknik Industri UII menghadirkan Bintoro Wisnuputro sebagai narasumber. Ia merupakan alumni Teknik Industri UII yang saat ini berprofesi sebagai Project Management Specialist. Sepanjang kariernya, Bintoro telah menangani berbagai proyek di dunia profesional. Melalui pemaparannya, ia mengajak mahasiswa memahami manajemen risiko proyek, tidak hanya dari sisi teori, tetapi juga dari pengalaman praktik di lapangan.

Hubungan antara Projek dan Resiko

Pembicara menjelaskan tentang Risk Management Process Flow Diagram

Dalam pemaparannya, Beliau menjelaskan bahwa risiko merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah proyek. Oleh sebab itu, setiap proyek memerlukan perencanaan risiko yang matang agar tujuan proyek dapat tercapai secara efektif dan efisien. Ia juga menekankan pentingnya proses identifikasi risiko sejak tahap awal, analisis dampak risiko, hingga penentuan strategi mitigasi yang tepat.

“Kunci dari manajemen risiko proyek adalah kesiapan. Risiko tidak selalu bisa dihindari, tetapi dapat dikelola dengan baik,” ungkap Beliau.

Sesi Diskusi Interaktif

Pembelaharan seputar bagaimana menghandle resiko yang terjadi dalam suatu projek

Selain pemaparan materi, panitia mengemas kegiatan ini secara interaktif. Pada akhir acara, sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung aktif. Para peserta mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari penerapan risk register, peran manajer proyek dalam pengendalian risiko, hingga tantangan manajemen risiko pada proyek modern.

Program Studi Teknik Industri UII secara rutin menyelenggarakan kuliah praktisi sebagai bagian dari penguatan pembelajaran. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori di kelas, tetapi juga mendapatkan wawasan langsung dari para profesional. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mampu memahami penerapan ilmu perkuliahan sekaligus mengenali tantangan nyata di dunia kerja.

Syawarani Gayatri

Mahasiswa Industri Raih Juara 1 di LEVITASI FTI UII dengan inovasi Food Waste

Prestasi membanggakan kembali datang dari mahasiswa Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (UII). Kali ini, tim mahasiswa Teknik Industri berhasil meraih Juara 1 dalam ajang LEVITASI FTI UII 2025 (Lomba Teknologi dan Inovasi). Lembaga Mahasiswa Eksekutif FTI UII menyelenggarakan kegiatan ini sebagai lomba teknologi dan inovasi. Dengan capaian tersebut, mahasiswa Teknik Industri UII kembali menunjukkan eksistensinya dalam bidang inovasi dan teknologi.

BIOPELTER: Biomass Pellet Converter

Dalam konteks kompetisi tersebut, tim yang terdiri dari tiga mahasiswa ini memilih sub-tema Circular Economy & Waste Management. Melalui pendekatan tersebut, mereka menghadirkan inovasi bertajuk BIOPELTER. Secara sederhana, BIOPELTER berfungsi mengonversi limbah makanan menjadi pelet biomassa yang masyarakat manfaatkan sebagai pakan hewan.

Berangkat dari fakta lapangan, data menunjukkan bahwa food waste masih mendominasi sampah nasional. Oleh karena itu, tim menemukan celah besar dalam sistem pengelolaan limbah organik yang berbagai pihak belum menangani secara optimal. Kondisi inilah yang kemudian mendorong tim untuk mengembangkan inovasi BIOPELTER.

“Selama masyarakat sering membiarkan atau membakar foodwaste. Oleh karena itu, inovasi ini memberikan second life cycle bagi food waste dengan mengolahnya menjadi material pelet. Selanjutnya, masyarakat dapat menjual pelet tersebut ke Bank Sampah,” jelas Arrouf, salah satu anggota tim.

Tim merancang BIOPELTER dengan harapan mampu membantu penataan pengolahan food waste sekaligus memberi dampak ekonomi pada masyarakat.

Perjalanan di Balik BIOPELTER

Dibalik keberhasilan tersebut, Arrouf membagikan cerita di balik proses pengembangan inovasi BIOPELTER. Pada kenyataannya, perjalanan lomba tidak lepas dari berbagai tantangan teknis yang mengharuskan tim terus belajar dan beradaptasi.

“Dalam prosesnya, kami harus menyesuaikan dan mempelajari banyak hal teknis dari inovasi yang hendak dibangun. Tapi kami berhasil melewati seluruh tantangan tersebut dengan konsistensi, ketekunan, dan kerja sama tim yang solid,” ujar Arrouf.

Selain itu, tim menerapkan Agile Method untuk menyempurnakan produk. Melalui pendekatan tersebut, proses pengembangan menjadi lebih fleksibel dan adaptif. Tak hanya itu, selama proses pengerjaan, tim mendapatkan pendampingan langsung dari Dr. Dwi Adi Purnama, S.T., dosen Teknik Industri UII, yang mendampingi tim selama pengembangan inovasi.

Harapan dan Pesan

Bagi tim, kemenangan ini tidak menjadi akhir perjalanan. Sebaliknya, pencapaian tersebut menjadi langkah awal menuju tahap yang lebih besar. Melalui proses panjang yang mereka lalui, tim mempelajari pentingnya empati, keberanian, serta kepercayaan terhadap ide yang dikembangkan.

“Pada awalnya, beberapa pihak sempat meragukan ide ini. Namun pada akhirnya, kami menyadari bahwa jika bukan kami yang percaya pada produk yang kami kembangkan,  siapa lagi?” cerita Arrouf.

Sebagai penutup, tim menyampaikan pesan kepada mahasiswa lain agar tidak ragu untuk terjun dalam kompetisi dan inovasi. Secara khusus, mereka menekankan pentingnya memahami akar permasalahan sebelum merancang solusi.

“Lakukan empatisasi masalah dengan baik. Jangan sampai solusi yang dibuat hanya jadi produk ‘gado-gado’, tapi harus benar-benar fit dengan masalah dan market yang ada. Do it with full dedication.”

Dengan demikian, prestasi ini membuktikan bahwa inovasi yang berangkat dari empati dan keberanian mampu membawa mahasiswa Teknik Industri UII melangkah lebih jauh. Tidak hanya dalam ajang kompetisi, tetapi juga dalam menjawab permasalahan nyata di masyarakat.

Syawarani Gayatri

 Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Workshop Instrumen Akreditasi & Kurikulum BKSTI 2025. Ajang akbar ini merupakan kegiatan tahunan yang digelar oleh Badan Kerja Sama Teknik Industri (BKSTI) Pusat. Pada tahun ini pelaksanaannya bekerja sama dengan BKSTI Korwil DIY dan mempercayakan TI UII sebagai tuan rumah pelaksana. Workshop berlangsung pada (01/11) di Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. M. Sardjito UII.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pembicara akademisi nasional yang menyampaikan materi terkait pembelajaran di bidang Teknik Industri. Antusiasme peserta terlihat dari kehadiran dosen-dosen Teknik Industri dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia

Workshop Instrumen Akreditasi Teknik Industri

Bertepatan dengan pelaksanaan kegiatan di ruang Teaterikal GKU UII, rangkaian pembukaan Workshop pun dimulai. Setelah itu, acara berlanjut ke sesi pertama. Pada sesi ini, hadir Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, dosen sekaligus Dekan FTI UII. Sebagai pengantar, beliau membuka sesi dengan menjelaskan perannya sebagai anggota Dewan Eksekutif LAM Teknik. Selanjutnya, beliau membawakan materi berjudul “Sinkronisasi Visi Keilmuan dengan Kurikulum, SDM, dan Tri Dharma Perguruan Tinggi”.

Dalam penyampaiannya, Prof. Hari menekankan secara aktif bahwa keselarasan visi keilmuan, strategi pengembangan dosen, dan mutu tridharma harus berjalan beriringan. Menurutnya, ketiga aspek tersebut bukan sekadar konsep, tetapi fondasi penting untuk mencapai akreditasi unggul. Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa pencapaian akreditasi tidak bergantung pada dokumen semata. Sebaliknya, institusi harus menunjukkan bukti nyata bahwa visi keilmuan, kurikulum, serta kualitas pelaksanaan tridharma benar-benar selaras dan konsisten.

“Untuk sampai pada akreditasi unggul tidak hanya ditentukan oleh dokumen, tetapi juga harus ada keselarasan nyata antara visi keilmuan, kurikulum, serta kualitas pelaksanaan tridharma yang konsisten,” tegas beliau.

Sosialisasi Revisi Kurikulum Inti BKSTI 2025

Setelah materi instrumen akreditasi, kegiatan berlanjut dengan sesi sosialisasi revisi Kurikulum Inti BKSTI 2025. Materi ini disampaikan langsung oleh Ketua Tim Kurikulum BKSTI, Dr. Andi Cakravastia Arisaputra Raja, S.T., M.T. Pada sesi pemaparannya, beliau memberikan arah baru bagi perguruan tinggi untuk menyesuaikan capaian pembelajaran, struktur kurikulum, dan penguatan kompetensi lulusan agar selaras dengan kebutuhan industri dan perkembangan keilmuan.

“Tidak berubah secara keseluruhan namun, terdapat beberapa tambahan. Harapannya susunan kurikulum ini dapat memastikan bahwa lulusan Teknik Industri tetap relevan, adaptif, dan siap menghadapi tantangan industri masa depan,” jelas beliau

Sharing Session: Capstone Design sebagai Tugas Akhir

Melengkapi diskusi kurikulum, Ir. Taufik, S.T., M.M., Ph.D., IPM, Ketua Program Studi Teknik Industri BINUS, turut menyampaikan materi terkait integrasi Capstone Design sebagai bentuk Tugas Akhir. Pada sesi sharing tersebut, beliau memaparkan langkah-langkah implementasi. Beliau juga menjelaskan berbagai tantangan yang muncul dalam proses penerapannya. Selain itu, beliau menguraikan mekanisme pelaksanaan model proyek akhir yang dapat mahasiswa jalankan.

Beliau menambahkan bahwa mahasiswa akan menguji pemahaman mereka secara menyeluruh ketika memilih topik ini. Mahasiswa akan memulai dari tahap perancangan. Mereka kemudian akan melanjutkan hingga tahap penyelesaian permasalahan nyata.

“Ketika mahasiswa memilih Capstone Design sebagai Tugas Akhir, mereka harus membuktikan kompetensinya melalui proses perancangan hingga penyelesaian masalah nyata di lapangan,” ungkap beliau.

Workshop RPS & Assessment Mata Kuliah Paralel

Pada sesi siang hari, peserta kembali melanjutkan rangkaian acara dengan mengikuti Workshop RPS & Assessment. Dalam sesi ini, panitia mengarahkan peserta untuk fokus pada penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS), penetapan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), perumusan strategi pembelajaran aktif, serta perancangan asesmen berbasis kompetensi. Untuk memaksimalkan proses belajar, panitia kemudian membagi kegiatan menjadi dua kelas paralel.

Pada kelas pertama, kegiatan berfokus pada Mata Kuliah Ergonomi. Kelas menghadirkan Ir. Ardiayanto, S.T., M.Sc., Ph.D., AEP., IPM., Kepala Laboratorium Ergonomika FT UGM sekaligus Wakil Ketua Perhimpunan Ergonomi Indonesia, sebagai pembicara. Selama paparannya, beliau menjelaskan pendekatan-pendekatan ergonomi yang relevan untuk perancangan RPS dan asesmen berbasis kompetensi.

Sementara itu, kelas kedua membahas Mata Kuliah Pengendalian Kualitas bersama Dr. Eng. Ir. Oke Oktavianti, Ketua Departemen Teknik Industri Universitas Brawijaya sekaligus Lead Auditor ISO 9001:2015 dan ISO 21001:2018. Dalam sesi ini, beliau menguraikan strategi penyusunan RPS dan asesmen yang selaras dengan standar mutu dan kebutuhan kompetensi mahasiswa.

Teknik Industri UII untuk Peningkatan Kualitas Mutu bidang TI Indonesia

Selanjutnya, rangkaian acara ditutup dengan coffee break sore yang diwarnai cengkerama hangat antara para akademisi. Melalui perannya sebagai tuan rumah, Teknik Industri UII menegaskan kembali komitmennya untuk mendukung penguatan mutu pendidikan tinggi di bidang Teknik Industri. Kegiatan ini membuka ruang kolaborasi bagi seluruh akademisi Teknik Industri untuk bersama-sama mendorong peningkatan kualitas dan mutu bidang TI di Indonesia.

Syawarani Gayatri

Yogyakarta, 11 November 2025 – Zahid Anugrah Muzaffar Rana, a student of the Industrial Engineering Program at the Faculty of Industrial Technology (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII), has been selected as a Google Student Ambassador 2025 after passing a highly competitive selection process. Google Indonesia selected participants on November 9–11, 2025 to introduce AI technologies, including the Gemini platform, to campuses across Indonesia.

Journey Through the Google Student Ambassador Selection Process

Throughout the rigorous selection stages, Zahid completed multiple challenges. In the initial phase, he created digital content demonstrating how Gemini can support students in accomplishing academic tasks. He then submitted an interview video highlighting his communication skills, personality, and potential contributions as a Google Student Ambassador. Despite limited preparation time, he made the most of every opportunity. He produced weekly content, improved his prompt-making skills, and joined self-development bootcamps hosted by Google and Dicoding.

The selection period coincided with his community service program (KKN), which required him to manage time efficiently and find suitable locations to record his interview video. Zahid also received continuous support from his mother, who provided learning materials, information, and motivation throughout the process.

From more than 12,000 applicants representing 750 universities, Zahid successfully earned a spot as one of the Google Student Ambassador 2025 award recipients. He expressed his gratitude for the opportunity and encouraged fellow students to pursue new challenges bravely.

“Don’t be afraid to try. No matter how many competitors you have, what matters most is the courage to start, because we never know where our opportunities will come from,” he said.

Zahid uses his Google Student Ambassador role to promote AI in engineering and industrial problem solving. He plans to organize workshops and sharing sessions on utilizing Gemini to support decision making and innovation in academic environments. Through these initiatives, he hopes to expand technological literacy within his department and inspire other students to innovate in the digital era.

Kaila Bilbina M.S

Yogyakarta, 11 November 2025 – Zahid Anugrah Muzaffar Rana merupakan mahasiswa Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII). Zahid berhasil meraih Penghargaan Google Student Ambassador Batch 2025 setelah melalui rangkaian seleksi yang sangat ketat. Dalam program yang diselenggarakan Google Indonesia pada 9-11 November 2025 tersebut, para peserta dipilih secara cermat untuk menentukan mahasiswa yang akan menjadi duta pengenalan teknologi kecerdasan buatan, terutama platform Gemini, di berbagai komunitas kampus di seluruh Indonesia.

Perjalanan Selama Seleksi Google Student Ambassador

Selama mengikuti proses seleksi yang sangat kompetitif, Zahid menyelesaikan berbagai tantangan yang diberikan. Pada tahap awal, ia membuat konten yang menunjukkan cara memanfaatkan Gemini untuk membantu menyelesaikan tugas perkuliahan. Setelah itu, ia mengirimkan video wawancara yang menjelaskan kemampuan komunikasi, kepribadian, serta kontribusi yang dapat ia tawarkan sebagai calon ambassador. Meskipun ia memulai persiapan dengan terbatas, Zahid tetap mengoptimalkan setiap peluang. Saat resmi terpilih menjadi ambassador, ia memproduksi konten mingguan, mengasah kemampuan membuat prompt yang efektif, dan mengikuti bootcamp pengembangan diri dari Google dan Dicoding.

Selama seleksi, Zahid menghadapi tantangan karena prosesnya berlangsung bersamaan dengan aktivitas KKN. Ia mencari waktu luang di tengah agenda desa dan menemukan lokasi yang layak untuk merekam video wawancara. Ia juga mendapatkan dukungan penuh dari ibunya yang aktif mengirimkan informasi, referensi belajar, serta motivasi, sehingga ia dapat menjalani proses seleksi dengan baik.

Diantara lebih dari 12 ribu pendaftar yang berasal dari 750 perguruan tinggi, Zahid berhasil menjadi salah satu mahasiswa yang terpilih sebagai Google Student Ambassador 2025. Ia menyampaikan rasa syukur atas kesempatan tersebut dan mengajak mahasiswa lain untuk berani mencoba berbagai peluang.

“Jangan takut mencoba. Tidak masalah seberapa banyak pesaingnya, yang penting berani memulai, karena kita tidak pernah tahu di mana letak rezeki kita,” ujarnya.

Sebagai mahasiswa Teknik Industri, Zahid berkomitmen untuk memanfaatkan perannya sebagai Google Student Ambassador 2025 untuk mendorong penerapan teknologi kecerdasan buatan dalam pengembangan solusi industri. Ia berencana mengadakan workshop dan sesi berbagi mengenai pemanfaatan Gemini, sehingga mahasiswa dapat memahami bagaimana AI dapat mendukung pendekatan rekayasa dan pengambilan keputusan. Melalui kontribusi tersebut, ia berharap dapat memperluas wawasan teknologi di lingkungan Prodi Teknik Industri sekaligus mendorong mahasiswa lain untuk berinovasi di era digital.

Kaila Bilbina M.S

Event Introduction and Speaker Profile

On Friday (31/10/2025), the Industrial Engineering Study Program of the Faculty of Industrial Technology (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII), held another national webinar via Zoom Meeting. To begin with, the organizers presented the theme “Between Focus and Relaxation in the Gaming World” and invited Ratih Dianingtyas Kurnia, S.T., Ph.D. as the keynote speaker. Meanwhile, Sekar Hutami took the role of Master of Ceremony (MC), and Zahra Rafida led the discussion as the moderator. As a result, students and lecturers joined the session in order to gain deeper insights into ergonomics, mental health, and cognitive performance in gaming, including how gaming habits influence the body and one’s ability to focus.

Furthermore, The event began with the agenda reading, the singing of Indonesia Raya and the UII Hymn, followed by a group photo session. After that, the moderator introduced the speaker and shared her profile. She highlighted the speaker’s research in ergonomics and mental workload analysis. Consequently, participants were able to understand the context of the material more clearly.

Focus or Relaxation? Here’s What the Expert Says

During the main presentation, Ratih Dianingtyas Kurnia showed participants how playing games influences their focus and relaxation levels. Moreover, she emphasized the importance of understanding the physical and mental workload during gameplay. This is especially important for games that demand high concentration.

Ratih encouraged players to enjoy gaming safely, even in today’s digital world. She argued that games can train the brain in problem solving and stress management when played in moderation. Furthermore, she added that factors such as play duration, body posture, and game intensity significantly influence a gamer’s physical and mental well being. “Gaming can be a way to focus and relax at the same time, as long as we understand our limits and maintain balance,” she said.

She further explained that competitive gamers, such as Valorant or Dota players, face higher mental workloads because the games demand intense concentration and peak performance. In contrast, casual games tend to promote relaxation, although they still require a certain level of attention. Physiologically, gaming can keep brain wave activity within healthy limits when players manage their play duration and intensity properly. Ratih also reminded participants to take micro breaks every 15–20 minutes. She advised them to apply ergonomic principles when arranging seating, lighting, and devices.

Participants Engage with the Speaker

During the Q&A session, participants asked about ideal rest intervals during gaming and the use of supportive tools such as back supports. Ratih explained that such tools can improve sitting posture but cannot replace the body’s need for movement and light stretching. She emphasized that the human body has limits when staying in static positions. Therefore, dynamic movements, such as stretching or short walks, are essential.

Encouraging Wise and Balanced Gaming Habits

To conclude her presentation, Ratih encouraged participants to play games wisely. She emphasized that gaming can serve not only as entertainment but also a way to maintain physical and mental balance. She stressed that video games can enhance focus and promote relaxation when played with self awareness and proper time management.

“Video games can be a positive medium when played smartly, in moderation, and with attention to physical health.”

Finally, the event ended with attendance confirmation and closing remarks from the MC.

Albin M Wiryawan

 

Pengenalan Acara dan Profil Narasumber

Pada Jumat (31/10/2025), Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menyelenggarakan webinar nasional secara daring melalui Zoom Meeting. Acara ini mengusung tema “Antara Fokus atau Relaksasi dalam Dunia Gaming” dengan menghadirkan Ratih Dianingtyas Kurnia, S.T., Ph.D. Sebagai narasumber utama. Sekar Hutami sebagai Master of Ceremony (MC) dan Zahra Rafida memandu jalannya diskusi sebagai moderator. Mahasiswa dan dosen mengikuti kegiatan ini ya untuk memahami lebih dalam mengenai aspek ergonomi, kesehatan mental, dan performa kognitif dalam aktivitas bermain game, termasuk bagaimana kebiasaan bermain game dapat mempengaruhi tubuh dan kemampuan fokus seseorang.

Acara dibuka dengan pembacaan susunan kegiatan, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne UII, lalu sesi foto bersama. Setelah itu, moderator memperkenalkan narasumber dan memaparkan profilnya, yang mencakup pengalaman penelitian di bidang ergonomi dan analisis beban kerja mental.

Fokus atau Relaksasi? Ini Kata Ahli

Dalam sesi penyampaian materi, Ratih Dianingtyas Kurnia menjelaskan bagaimana aktivitas bermain game dapat mempengaruhi tingkat fokus dan relaksasi seseorang. Ia juga menyoroti pentingnya memahami hubungan antara beban kerja fisik dan mental yang muncul selama bermain game, terutama pada jenis permainan yang menuntut konsentrasi tinggi.

Ratih memaparkan bahwa di tengah pesatnya perkembangan digitalisasi, game tidak selalu berdampak negatif seperti stigma yang sering melekat. Ia menilai game mampu melatih kemampuan otak dalam pemecahan masalah dan pengelolaan stres, selama dilakukan secara seimbang. Ia menambahkan bahwa durasi bermain, postur tubuh, serta intensitas permainan menjadi faktor penting yang mempengaruhi kesehatan fisik maupun mental pemain. “Bermain game bisa menjadi cara untuk fokus sekaligus relaks, asalkan kita tahu batas dan tetap menjaga keseimbangan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ratih menguraikan hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa pemain game kompetitif seperti Valorant atau Dota menghadapi beban kerja mental tinggi karena tuntutan performa dan konsentrasi intens. Sebaliknya, game kasual lebih memberikan efek relaksasi meskipun tetap menuntut perhatian tertentu. Dari sisi fisiologis, aktivitas gaming dapat menjaga keseimbangan gelombang otak dalam batas wajar jika pemain mengatur durasi dan intensitas dengan baik. Ratih turut mengingatkan pentingnya melakukan micro break setiap 15–20 menit serta menerapkan prinsip ergonomi dalam pengaturan tempat duduk, pencahayaan, dan penggunaan perangkat.

Diskusi Interaktif dengan Peserta

Dalam sesi tanya jawab, peserta berdiskusi tentang durasi istirahat ideal saat bermain game dan penggunaan alat bantu seperti back support. Ratih menjelaskan bahwa alat bantu dapat membantu posisi duduk, tetapi tidak menggantikan kebutuhan tubuh untuk bergerak dan melakukan peregangan ringan. Ia menegaskan bahwa tubuh memiliki batas adaptasi terhadap posisi statis, sehingga gerakan dinamis seperti peregangan dan berjalan singkat sangat dibutuhkan.

Ajakan Bermain Game Secara Bijak

Sebagai penutup, Ratih mengajak peserta untuk bermain game secara bijak, tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai sarana menjaga keseimbangan fisik dan mental. Ia menekankan bahwa game dapat meningkatkan fokus dan membantu relaksasi jika dilakukan dengan kesadaran diri dan pengaturan waktu yang tepat.

“Video game bisa menjadi sarana positif bila dimainkan dengan cerdas, tidak berlebihan, dan tetap menjaga kesehatan tubuh.”

Kegiatan kemudian diakhiri dengan pengisian presensi serta penutupan oleh MC.

Albin M Wiryawan

Alumni TI berfoto bersama dalam malam puncak Reuni Akbar

Yogyakarta, June 26–28, 2025 — The Industrial Engineering Alumni Association (IKATI) of the Islamic University of Indonesia (UII) is once again holding the 2025 UII Industrial Engineering Grand Reunion with the theme “From Us (Alumni) for Us (Alumni and Students)”. The three-day event, held at the K.H. Mas Mansur Building, Faculty of Industrial Technology (FTI) UII, serves as a gathering for alumni, students, and the academic community of UII Industrial Engineering across generations.

IKATI, established in 2000, was pioneered by Muhammad Syaifudin Zuhry (class of 1982) along with fellow UII Industrial Engineering alumni from various regions. Since its inception, IKATI has been actively strengthening its network through professional forums, social activities, and intergenerational collaboration.

Day One: Alumni Talk Show and Graduation Briefing

Pemaparan narasumber sesi pertama Talkshow

The first day consisted of a talk show and graduation briefing featuring alumni from various batches as guest speakers. This activity was divided into two sessions.

The first session carried the theme “Career Opportunities: Take Off & Landing in Conquering Opportunities in the Industry 5.0 Era” with guest speaker Ir. Ilham Bashirudin, S.T., IPM. (alumnus of the class of 2003) presenting a paper titled “The Need for Now: Thriving in a Human Tech Workplace,” together with Aditya Cahya Ramdani, S.T. (alumnus of the class of 2013).

The second session, themed “Successful Work: Young People at Work,” featured Galih Febianto, S.T. (class of 2008) and Akbar Daffa Raharja, S.T. (class of 2017) as speakers. In closing the session, Akbar passionately advised,

“Take the risk, because the idea you postpone today might be taken by someone else tomorrow.”

The first day’s activities concluded at 12:00 PM with the presentation of souvenirs.

Day Two: Campus Nostalgia and Pilgrimage

The second day, Friday (6/27), was filled with the Journey Through the Lab activity, where UII Industrial Engineering alumni explored the campus laboratories, which are now more modern and representative.

Then, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN.Eng., Dean of FTI and alumnus, expressed his hope that alumni meetings would be held regularly. He emphasized that alumni are important assets who can help develop study programs, share experiences, and open up job opportunities for students.

“Many of our alumni have become entrepreneurs or founded companies, so this network is very valuable,” he said.

Next, alumni and lecturers walked to Embung Pelangi to visit the graves of campus heroes. Joint prayers, flower offerings, and water sprinkling became symbols of respect. The orange evening sky added to the solemn atmosphere, leaving a deep impression and strengthening solidarity across generations.

Day Three: IKATI Meeting and Reunion Gala Night

The final day marked the culmination of the entire IKATI 2025 Grand Reunion event series. In the morning, the IKATI National Meeting was held at the K.H. Mas Mansur Auditorium, discussing plans for future work programs and alumni collaboration.

In the evening, activities continued with a lively Reunion Gala Dinner along Jl. Islamika. Each Industrial Engineering laboratory opened exhibition booths, showcasing student work and documentation of activities. The main stage featured various entertainment performances by alumni and students, creating a warm and nostalgic atmosphere. Then, the Chairman of IKATI, Ir. Ilham Bashirudin, S.T., IPM., expressed his gratitude for the success of the event.

“Alhamdulillah, this Grand Reunion series went smoothly. This is a remarkable moment because alumni from S1, S2, to S3 can gather and share the same vision to advance the Industrial Engineering department,” he said.

He emphasized that alumni play a vital role in strengthening the connection between academia and the professional world. He hopes that young alumni will become more active in IKATI activities. According to him, IKATI is a platform for all alumni to participate, help, and share information, including job opportunities. In the future, activities such as seminars and job fairs are expected to be held regularly to strengthen networking and collaboration among alumni.

The atmosphere became even more lively when Muhammad Syaifudin Zuhry, S.T., one of the senior alumni, was present to enjoy the performances. He considered this reunion event to be very memorable and inspiring.

“Overall, this event was excellent, very good, creative, and touching. Moments like this are extraordinary and must continue,” he said.

He also gave a message to students to continue completing their studies and carry on the spirit of previous alumni.

Closing

After the entire series of events ended, Digdoyo Oktapriandi, S.T, M.T, CIPM, as the chairperson of the 2025 Grand Reunion, expressed his pride in the solidarity of the committee and all participants. He hoped that young alumni would become more active in IKATI.

“IKATI is a forum for all of us. Let’s be active, help each other, and share information, including job opportunities. In the future, we want to continue holding activities such as seminars and job fairs,” he said.

In closing, the 2025 IKATI Grand Reunion became a strong symbol of togetherness and cross-generational collaboration. Through the spirit of “From Us for Us,” UII Industrial Engineering alumni demonstrated their commitment to continue contributing to the development of science, professional networks, and the value of togetherness in their beloved alma mater.

Rani Novalentina