Tag Archive for: Teknik Industri UII

Najma Tsakiba merupakan mahasiswi Teknik Industri angkatan 2025, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII). Selama satu tahun pertama perkuliahan, ia telah meraih berbagai prestasi pada tingkat internal maupun eksternal kampus. Salah satunya adalah Juara 1 ASTRANAUTS 2026 pada Idea Track Business Case FINATRA (FIFGROUP).

ASTRANAUTS merupakan kompetisi inovasi digital dan konferensi teknologi berskala nasional dari PT Astra International Tbk. Program tahunan ini menjadi wadah bagi peserta untuk menghadirkan ide dan solusi inovatif terhadap tantangan bisnis nyata. Pada kesempatan tersebut, Najma bergabung dalam Tim Yu Ai Ai bersama empat mahasiswa Informatika UII, yaitu Muhammad Lutfi Syarif, Rakha Dzikra Guevara, Afwan Aditya Saputra, dan Madina Nurbaiti. Dalam tim, Najma dipercaya sebagai Chief Marketing Officer (CMO), sementara anggota lainnya mengisi posisi CEO, COO, CTO, dan CFO.

Merancang FINATRA NEXUS hingga Menembus Babak Final

Tantangan yang dihadapi Tim Yu Ai Ai berasal dari FINATRA (FIFGROUP), layanan pembiayaan produktif bagi UMKM yang ingin memperluas jangkauan dan meningkatkan market share. Berangkat dari tantangan tersebut, kelima anggota tim menggagas FINATRA NEXUS, sebuah platform perangkat lunak yang dirancang untuk membantu memperluas jangkauan FINATRA kepada para pelaku UMKM. Setiap anggota menjalankan peran sesuai bidang masing-masing, termasuk Najma yang bertanggung jawab pada sisi marketing sebagai Chief Marketing Officer (CMO).

Sebagai satu-satunya anggota tim dari Teknik Industri, Najma menerapkan ilmu yang telah ia peroleh untuk mendukung proses pengembangan solusi. Ia juga berkolaborasi dengan rekan-rekan dari Informatika agar ide yang dikembangkan dapat menjawab kebutuhan business case sekaligus memiliki aspek teknis yang mendukung. Proses tersebut tidak berlangsung singkat. Tim Yu Ai Ai harus melewati serangkaian revisi dan persiapan sebelum berhasil menjadi salah satu dari 36 finalis dari lebih dari 500 proposal nasional.

Pencapaian tersebut membawa Tim Yu Ai Ai menuju babak final yang berlangsung pada Menara Astra, Jakarta. Pada kesempatan tersebut, mereka menyampaikan FINATRA NEXUS sebagai solusi atas tantangan para juri profesional. Perjalanan panjang tersebut akhirnya berbuah hasil ketika Tim Yu Ai Ai berhasil meraih Juara 1 dan membawa pulang piala kemenangan ke Yogyakarta.

Belajar Beradaptasi dari Kompetisi Pertama

Bagi Najma, perjalanan menuju kemenangan juga menjadi proses belajar yang tidak terlepas dari tantangan. ASTRANAUTS 2026 merupakan kompetisi Business Case pertama yang ia ikuti. Ia perlu beradaptasi dengan alur dan teknis kompetisi, sekaligus memahami pendekatan yang tepat dalam menyelesaikan permasalahan bisnis. Ketika menghadapi kebingungan atau kesulitan, Najma memilih untuk berani bertanya dan berdiskusi dengan rekan satu tim agar permasalahan dapat segera teratasi.

“ASTRANAUTS ini merupakan kompetisi Business Case pertama saya, jadi saya harus cepat beradaptasi dengan alur kompetisi, teknis, dan pitfall yang ada. Kalau ada yang membuat saya bingung, saya berusaha berani bertanya kepada teman-teman satu tim supaya masalahnya bisa segera terselesaikan,” ujar Najma.

Pengalaman tersebut sekaligus menjadi ruang bagi Najma untuk menerapkan ilmu Teknik Industri dalam situasi yang lebih nyata. Bagi Najma, optimisme, kemampuan adaptasi dengan cepat, dan kerja sama tim sebagai tiga hal yang paling utama dalam pencapaian tim. Di tengah persiapan kompetisi, ia juga tetap menempatkan akademik sebagai prioritas utama dan mengatur kegiatannya menggunakan Google Calendar agar seluruh agenda dapat berjalan secara teratur.

Membawa Pulang Pengalaman dan Inspirasi

Selain piala, ASTRANAUTS 2026 memberikan pengalaman berharga bagi Najma melalui kesempatan membangun koneksi dengan mahasiswa berbagai perguruan tinggi. Saat berada di Menara Astra, ia bertemu mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia. Pengalaman tersebut memperluas wawasannya sekaligus memperkuat keyakinannya bahwa setiap insan memiliki potensi besar untuk berkembang dan bersinar.

Bagi Najma, pencapaian tersebut memiliki makna yang lebih dari sekadar memenangkan kompetisi. Ia memiliki dua motivasi utama dalam mengikuti kompetisi, salah satunya adalah keinginannya untuk terus berkembang dan menuntut ilmu. 

“Terdapat dua hal yang menjadi motivasi utama saya. Pertama, motivasi untuk menjadi muslimah yang dapat mengimplementasikan konsep insan ulil albab berupa dzikrullah dan fikr dengan menggunakan kemampuan yang saya miliki untuk terus berkembang dan menuntut ilmu,” ungkap Najma.

Pencapaian ini juga menjadi bagian dari upayanya mewujudkan target yang telah ia susun dalam vision board 2026. Ia mempersembahkan keberhasilan tersebut untuk kedua orang tuanya sekaligus menjadikannya sebagai pengingat untuk terus berkembang dan berani mencoba hal-hal baru.

“Kesempatan akan datang kepada mereka yang siap dan berani untuk mencoba melawan segala keterbatasannya,” pesan Najma.

Nisrina Nur Masrefa

Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII), mengirimkan dua mahasiswanya untuk mengikuti Student Exchange Program 2026 Ho Chi Minh City University of Technology (HCMUT), Vietnam. Kedua mahasiswa tersebut adalah Kynan Khairan Ramadhan dari International Program (IP) Teknik Industri UII angkatan 2024 dan Najma Tsakiba dari Teknik Industri UII angkatan 2025. Program ini merupakan hasil kerja sama baru antara Teknik Industri UII dengan HCMUT, salah satu universitas teknik terkemuka di Asia Tenggara.

Menangkap Peluang, Memperluas Pengalaman

Kesempatan mengikuti student exchange di HCMUT berawal dari dorongan yang berbeda namun sama besarnya bagi Kynan dan Najma. Kynan telah merencanakan mengikuti student exchange sejak awal. Ia langsung menangkap peluang begitu Teknik Industri UII menjalin kerja sama baru dengan HCMUT. Baginya, negara tujuan bukan menjadi pertimbangan utama karena ia lebih mengejar pengalaman dan proses belajar.  

“Yang terpenting bagi saya cuma pengalaman dan belajar.” Ucap Kynan.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Kynan memandang program exchange sebagai kesempatan untuk memperkaya pengalaman sekaligus memperluas proses belajarnya. Tidak berbeda jauh dengan Najma yang justru meyakini Teknik Industri UII sejak sebelum resmi menjadi mahasiswa. Ia percaya program studi ini bisa menjembatani mimpinya hingga panggung internasional. Dengan prinsip “Kesempatan akan datang kepada mereka yang siap dan pantas memilikinya.”, ia memberanikan diri untuk menjadi pendaftar satu-satunya di angkatan 2025. Najma juga memiliki pertimbangan khusus dalam memilih Vietnam. Ia melihat negara tersebut tengah mengalami pertumbuhan ekonomi dan industri manufaktur yang pesat di Asia, sehingga pengalaman belajar di sana dapat memberikan perspektif strategis bagi calon engineer.

“Belajar di pusat dinamika industri baru ini memberikan landasan perspektif strategis yang sangat berharga bagi seorang calon engineer.” Ucap Najma.

Menanti Pengalaman, Menghadapi Tantangan

Menjelang keberangkatan, Kynan dan Najma memiliki hal berbeda tentang keinginan yang ingin mereka rasakan selama berada di HCMUT. Kynan menantikan kesempatan untuk merasakan langsung tingkat kompetitivitas pendidikan di Vietnam. Di sisi lain, Najma ingin memanfaatkan lingkungan akademik HCMUT yang berfokus pada bidang engineering untuk berdiskusi dan bertukar wawasan dengan akademisi maupun mahasiswa internasional.

Di tengah antusiasme tersebut, keduanya juga berhadapan dengan tantangan masing-masing. Salah satunya yaitu Najma, yang harus membagi fokus antara persiapan keberangkatan dan tanggung jawab akademiknya di UII. Proses pengurusan visa dan kelengkapan administrasi yang berlangsung bersamaan dengan jadwal Ujian Akhir Semester membuatnya perlu mengatur waktu dengan cermat agar kedua tanggung jawab tersebut tetap berjalan dengan baik.

Situasi tersebut menuntut Najma untuk tetap fokus dan tenang di tengah padatnya agenda yang harus dijalani. Dukungan dan doa dari kedua orang tua serta fasilitas penuh dari Program Studi Teknik Industri UII turut membantunya melewati proses persiapan hingga keberangkatan.

Melanjutkan Langkah, Membagikan Inspirasi

Melalui program ini, Kynan berharap dapat memperoleh ilmu baru, memperluas relasi pertemanan, dan merasakan pengalaman hidup di luar negeri. Ia juga ingin menemukan ide serta peluang baru selama berada di Vietnam yang nantinya dapat dibawa pulang dan diterapkan di Indonesia. Bagi Kynan, kesempatan untuk belajar di luar negeri layak dikejar meskipun selalu ada kemungkinan gagal. 

“Lebih baik gagal saat mencoba daripada larut dalam perasaan menyesal karena gak pernah mencoba,” ungkap Kynan.

Harapan serupa juga dibawa Najma dengan perspektif yang lebih luas. Ia ingin mempertahankan konsistensi pencapaiannya sekaligus membuka peluang baru melalui pengalaman di HCMUT. Pengalaman tersebut diharapkan dapat membantunya menyerap standar keilmuan manufaktur internasional dan membawa pulang global mindset serta strategic network yang dapat mendukung langkahnya ke depan. Bagi Najma, keberanian untuk mengambil kesempatan menjadi langkah penting untuk membuka pengalaman baru.

“Lebih baik melangkah dan menghadapi kemungkinan gagal daripada terdiam dalam rasa penasaran dan penyesalan karena tidak pernah mencoba sama sekali. Dream big, pray bigger,” pesan Najma.

Perjalanan Kynan dan Najma di HCMUT menjadi langkah untuk memperluas pengalaman dan wawasan internasional. Semoga keduanya dapat memperoleh ilmu, pengalaman, dan relasi yang berharga selama mengikuti program. Bekal tersebut diharapkan dapat mendukung langkah mereka serta membawa perspektif baru bagi Teknik Industri UII. 

Nisrina Nur Masrefa

Dunia akademik selalu berkaitan dengan nilai, IPK, ranking, beasiswa, kompetisi, hingga tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik. Hal ini membuat banyak pelajar dan mahasiswa hidup dalam kecemasan yang nyaris konstan. Ambisi menjadi bahan bakar untuk terus berjuang, tapi jika melewati batas, ambisi bisa berubah menjadi beban jiwa. Di tengah tekanan tersebut, tawakal dapat menjadi pegangan agar seseorang tetap berusaha tanpa larut dalam kecemasan terhadap hasil.

Pada islam sendiri tidak pernah melarang seseorang untuk berambisi, unggul, dan berprestasi. Tetapi untuk berambisi harus sesuai tempatnya, seperti mahasiswa berambisi di lingkup Teknik Industri UII. Tetap dikejar dengan sungguh-sungguh, namun hasil akhirnya diserahkan kepada Allah. Keseimbangan inilah yang dinamakan antara ikhtiar (usaha) dan tawakal (berserah diri). Kedua sisi ini haruslah tidak terpisahkan.

Ikhtiar Maksimal, Perintah bukan Pilihan

Tawakal bukan berarti hanya berserah tanpa usaha yang jelas sehingga hanya bermalas-malasan. Tawakal yang benar selalu didahului oleh usaha yang sungguh-sungguh. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW apakah ia boleh melepas untanya begitu saja sambil bertawakal kepada Allah. Nabi SAW bersabda:

حَدَّثَنَا أَبُو حَفْصٍ، عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ، حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ أَبِي قُرَّةَ السَّدُوسِيُّ، قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ قَالَ ” اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ ” . قَالَ عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ يَحْيَى وَهَذَا عِنْدِي حَدِيثٌ مُنْكَرٌ . قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ الضَّمْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحْوُ هَذَا .

“Anas bin Malik meriwayatkan bahwa seorang lelaki berkata: “Wahai Rasulullah! Haruskah aku mengikatnya dan bertawakkal (kepada Allah), atau membiarkannya longgar dan bertawakkal (kepada Allah)?” Beliau bersabda: “Ikatlah dan bertawakkallah.”” (HR. Tirmidzi, no. 2517)

Hadits ini menjadi fondasi penting bahwa tawakal tanpa usaha bukanlah tawakal, melainkan bentuk kepasrahan yang salah tempat. Allah juga menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa hasil sebuah usaha tidak datang sendiri, melainkan melalui proses yang diperjuangkan:

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ

“Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm [53]: 39)

Bagi seorang mahasiswa, ayat ini bisa menjadi sebuah peringatan serta dapat memotivasi. Belajar dengan baik, mengerjakan tugas dengan teliti, disiplin waktu, dan terus berusaha menjadi lebih baik bukan hanya untuk mendapatkan hasil yang bagus, tetapi juga termasuk ibadah. Karena Allah melihat usaha dan kesungguhan seseorang, bukan hanya hasil akhirnya.

Tawakal: Berusaha Sebaik Mungkin, Lalu Menyerahkan Hasil kepada Allah

Titik paling rawan bagi banyak pelajar adalah ketika usaha sudah maksimal, tetapi hasil tidak sesuai harapan. Justru pada titik inilah makna tawakal benar-benar teruji. Tawakal bukan berarti pasrah sebelum mencoba, melainkan menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah usaha yang sudah terlaksana secara sungguh-sungguh. Allah berfirman:

فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ۝١٥٩ …..

“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)

Ketenangan yang lahir dari tawakal membuat seorang mukmin dapat berusaha dengan lebih tenang tanpa dihantui rasa takut berlebihan terhadap kegagalan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian pada (Supriadin et al., 2024) yang menunjukkan bahwa 84,2% responden memahami tawakal sebagai perpaduan antara usaha dan berserah diri kepada Allah. Sedangkan 52,6% responden meyakini bahwa tawakal dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan solidaritas. Sehingga, tawakal mengajarkan bahwa seseorang perlu tetap berusaha sebaik mungkin, tetapi tidak membiarkan hasil menjadi sumber kecemasan karena hasil akhirnya merupakan bagian dari kehendak Allah.

Menjaga Hati dengan Ikhtiar dan Tawakal

Dalam dunia akademik, ada dua sikap berlebihan yang perlu dihindari. Terlalu berharap pada pertolongan Allah tanpa diiringi usaha dapat membuat seseorang menjadi pasif dan malas berusaha. Sebaliknya, terlalu takut terhadap kegagalan dapat membuat seseorang terus merasa cemas dan terlalu memikirkan hasil. Karena itu, diperlukan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal, yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh tanpa terlalu bergantung pada hasil, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Rasulullah SAW mengajarkan jalan tengah yang indah melalui sebuah doa yang penuh makna:

اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah].” (HR. Ibnu Hibban)

Doa ini mengajarkan bahwa usaha manusia hanyalah sarana, sementara kemudahan sejati datang dari Allah. Seorang pelajar yang memahami hal ini akan tetap berjuang habis-habisan dalam belajar, mengejar prestasi, dan memperbaiki diri tetapi tidak akan berkecil hati saat hasil belum sesuai rencana. Hal ini karena ia yakin bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya, baik hasilnya terlihat langsung maupun tidak.

Mengejar Cita-Cita dengan Hati yang Tenang

Menyeimbangkan ambisi dan tawakal bukan berarti mengurangi usaha, tetapi belajar menerima bahwa hasil tidak selalu sesuai dengan yang diharapkan. Seorang pelajar tetap perlu belajar dengan sungguh-sungguh karena semua itu merupakan bagian dari usaha dan tanggung jawab. Setelah berusaha sebaik mungkin, hasil akhirnya diserahkan kepada Allah dengan hati yang tenang dan lapang.

Dengan sikap tersebut, seorang pelajar dapat terus mengejar cita-cita dan memberikan usaha terbaik tanpa terlalu cemas terhadap hasil yang akan diperoleh.

Nisrina Nur Masrefa

 

REFERENSI

Supriadin, I., Abubakar, A., & Arsyad, A. (2024). DISKURSUS TEOLOGI QADARIYAH DAN JABARIYAH : TAWAKAL DALAM TINJAUAN FILOSOFIS DAN SURVEY. Jurnal Studi Islam, 5(2).

Ahmad Arro’uf Sulfuadi merupakan mahasiswa Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII) yang berhasil meraih Juara 3 dalam International Student Symposium 2025. Kompetisi ini diselenggarakan oleh ASEAN School of Business Network (ASBN) pada Agustus 2025. Arro’uf mengikuti cabang lomba esai dengan sub-tema “Green Economy and AI: Opportunities and Challenges”. Arro’uf mengangkat gagasan tentang integrasi AI dalam manajemen energi terbarukan berskala kawasan ASEAN. Ia melakukan pendekatan benchmarking dari terobosan ASEAN Power Grid yang digagas oleh ACE (ASEAN Center for Energy). Ia juga memetakan bagaimana integrasi AI dapat membuka batas-batas antarnegara secara lebih efisien. Prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa Teknik Industri UII mampu berkontribusi pada diskusi isu global pada tingkat internasional.

Dari Riset Mendalam hingga Kompetisi Final Internasional

Kompetisi ini terdiri dari dua tahap, yakni tahap penyisihan dan babak final yang melibatkan peserta dari berbagai negara pada tingkat internasional. Kompetisi ini bersifat individu sehingga Arro’uf mengerjakan seluruh prosesnya sendiri dengan ritme pelan dan terukur. Dalam prosesnya, ia menempatkan diri selayaknya seorang konsultan pengambil kebijakan. Ia menyajikan data riil terkait potensi energi terbarukan pada setiap negara pionir ASEAN. Ia juga merancang implementasi energy exchange dapat berjalan otomatis melalui AI yang terautorisasi oleh APC.

Arro’uf mendalami topik melalui kajian literatur terkait penerapan AI pada manajemen energi skala makro. Ia juga menonton berbagai podcast dan video tentang bagaimana kegunaan AI dalam manajemen energi pada tingkat perusahaan. Dari situ, ia mulai berpikir jika teknologi tersebut dapat dikembangkan untuk digunakan dalam skala yang lebih luas.

Tantangan terbesar Arro’uf dalam kompetisi ini ialah menyajikan gagasan yang inovatif tetapi tetap rasional. Ia harus menyeimbangkan antara potensi implementasi AI dalam energy exchange dengan realita resistensi kebijakan dan perbedaan keterbukaan masing-masing negara. Dengan kegigihannya, Arro’uf berhasil lolos sebagai finalis dari 10 peserta internasional dan meraih Juara 3 pada sesi final.

Esai sebagai Ruang Bersuara dan Bertukar Gagasan

Pada babak final, Arro’uf berkesempatan menyaksikan ide-ide menarik dari peserta negara lain. Peserta dari Vietnam mengangkat jalur distribusi ekonomi di Sungai Mekong, sementara peserta dari Thailand membahas kereta listrik sebagai solusi transportasi berkelanjutan. Pengalaman ini membuka wawasannya bahwa isu ini dapat didekati dari sudut pandang yang beragam di setiap negara.

Arro’uf menilai pencapaian ini sebagai pengalaman yang sangat berharga, terutama karena idenya sempat ia ragukan sendiri saat tahap awal. Ia mendorong mahasiswa lain untuk tidak ragu menuangkan gagasan mereka melalui esai. Arro’uf menilai esai sebagai tempat yang fleksibel karena memungkinkan siapa pun menuangkan ide seluas-luasnya selama terdapat dukungan data yang riil dan rasional.

“So, essay menurutku wadah yang bagus untuk bersuara tentang idemu!” ungkap Arro’uf.

Arro’uf juga menegaskan bahwa gagasan yang terasa terlalu jauh untuk diimplementasikan bisa jadi justru dibutuhkan oleh mereka yang sudah memiliki kapasitas untuk mewujudkannya. Langkah berani Arro’uf membuktikan bahwa keberanian menyampaikan ide besar dapat membawa mahasiswa Indonesia bersuara hingga ke kancah internasional.

Nisrina Nur Masrefa

Rajab Bullah Anggara Nasution, Akbar Muntaqo, Nugraheni Novita Hutami, dan Fathia Aqila Zatadini merupakan mahasiswa Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII). Mereka berhasil meraih Bronze Medal pada INDES 2025. International Invention, Innovation and Design Competition (INDES) 2025 merupakan ajang kompetisi inovasi dan desain yang mempertemukan berbagai ide kreatif dalam bentuk produk atau karya inovatif. Kegiatan ini berlangsung pada 26 Juni 2025 dan berfokus pada aspek inovasi, penemuan, serta desain produk.

Dalam kompetisi ini, tim mengembangkan ECOBARA STOVE, yaitu inovasi insinerator ramah lingkungan yang dirancang untuk mendukung pengelolaan limbah secara lebih efisien. Proyek ini berperan sebagai pengelolaan sampah dengan merancang alat pembakaran sampah yang lebih ramah lingkungan dan bermanfaat. Prestasi ini membuktikan mahasiswa Teknik Industri UII mampu menghadirkan solusi permasalahan lingkungan melalui inovasi.

Dari Diskusi Tim hingga Final Presentasi 

Tahapan lomba bermulai dari penyusunan ide dan konsep produk bersama seluruh anggota tim. Persiapan mencakup pencarian referensi tentang insinerator dan pengelolaan sampah. Selain itu, tim melakukan penyusunan konsep ECOBARA STOVE serta pembuatan materi presentasi dan media pendukung. Tahapan ini terlaksana dengan pembagian tugas sesuai kemampuan masing-masing anggota tim.

Tantangan terbesar tim adalah membagi waktu, menyatukan ide antaranggota, dan menjelaskan konsep insinerator agar juri mudah memahaminya. Tim mengatasinya melalui komunikasi yang baik, pembagian tugas yang jelas, serta evaluasi bersama sebelum hari pelaksanaan. Dengan kegigihan dan kekompakkan antar anggota, tim kemudian mepresentasikan karya ini. Juri menilai karya berdasarkan aspek inovasi, kreativitas, manfaat, dan kesesuaian tema hingga akhirnya tim berhasil meraih Bronze Medal.

Pengalaman Berharga Menuju Bronze Medal

Bagi Rajab yang merupakan salah satu anggota tim, INDES 2025 menjadi pengalaman berharga dalam mengembangkan ide inovatif, membangun kerja sama tim, dan melatih kepercayaan diri saat mempresentasikan karya. Proses yang telah terlalui bersama meninggalkan pesan pentingnya saling mendengarkan pendapat dan menyelesaikan kendala secara bersama. Kebersamaan tim menjadi kunci dari pencapaian kemenangan Bronze Medal yang mereka raih.

“Jangan takut mencoba mengikuti lomba. Dari lomba seperti ini, kita bisa mendapat pengalaman, menambah wawasan, melatih kerja sama, dan meningkatkan rasa percaya diri. Yang penting berani memulai, mau belajar, dan tetap semangat selama prosesnya,” ujar Rajab.

Rajab juga menegaskan bahwa ide sederhana dapat menjadi karya yang bermanfaat jika kita mengembangkannya dengan kesungguhan. Keberanian tim ini membuktikan bahwa inovasi yang berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan mampu bersaing pada ranah internasional.

Nisrina Nur Masrefa

Ahmad Arro’uf Sulfuadi, Ferdian Anugrah Pratama, dan Muhammad Imam Baihaqi merupakan mahasiswa Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII). Mereka berhasil meraih prestasi pada Sustainable Innovations Essay Competition (SINEC) 2025. Tim ini menjadi finalis, meraih penghargaan Most Implementative Idea (Bronze Medal) hingga publikasi karya dalam jurnal IASSF. SINEC merupakan kompetisi esai ilmiah tingkat nasional yang berfokus pada inovasi dan solusi berkelanjutan. Kompetisi ini mendorong mahasiswa dan pelajar menciptakan gagasan kreatif menghadapi tantangan lingkungan, pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan teknologi. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 9 dan 10 Agustus 2025 di Yogyakarta.

Pada kegiatan SINEC, tim mengambil isu lingkungan dan keberlanjutan melalui karya berjudul Development of NARA Biodegradable Journaling Books as a Circular Economy-Based Solution for Sustainable Lifestyle Transformation and Social Empowerment. Karya tersebut membahas pengembangan jurnal biodegradable yang terbuat dari limbah kulit jagung dan kertas daur ulang. Berbasis circular economy, produk ini dirancang sebagai solusi gaya hidup berkelanjutan yang mendukung pemberdayaan sosial petani lokal.

Riset Mendalam Jadi Fondasi Karya NARA

Rangkaian SINEC 2025 diawali dengan pendaftaran dan pengiriman esai pada 7 April–31 Mei 2025. Selanjutnya terdapat tahap penjurian, hingga puncaknya pada babak final di Yogyakarta. Persiapan untuk kompetisi ini membutuhkan usaha yang cukup besar. Tim menyusun riset mendalam terkait sustainable product development, circular economy, dan Voice of Customer (VoC). Tim juga melakukan pengumpulan data melalui kuesioner yang disebarkan kepada mahasiswa di D.I.Yogyakarta. Kegiatan ini bertujuan guna memahami kebutuhan pengguna terhadap produk journaling berkelanjutan.

Proses persiapan juga mencakup pengembangan konsep produk NARA, pembuatan poster ilmiah, penyusunan artikel ilmiah, hingga latihan presentasi. Setiap anggota tim menjalankan peran sesuai keahliannya, dari penyusunan konsep dan metodologi hingga penyampaian presentasi saat lomba berlangsung. Selama proses ini, tim mendapat arahan dan masukan dari dosen pembimbing, yaitu Dr. Dwi Adi Purnama, S.T.,.

Integrasikan Keberlanjutan dan Kebutuhan Pengguna, Tantangan Terbesar Tim

Tantangan terbesar tim terletak pada upaya mempertemukan aspek keberlanjutan lingkungan dengan kebutuhan produk bagi penggunanya. Tim mempertimbangkan aspek agar NARA tidak sekadar ramah lingkungan. Akan tetapi juga benar-benar menarik dan sesuai kebutuhan mahasiswa sebagai target pengguna. Tantangan tim lainnya ada pada proses penyusunan artikel ilmiah. Prosesnya menuntut ketelitian ekstra dalam penelusuran referensi serta pembangunan argumen akademik.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, tim melakukan berbagai solusi yang memungkinkan. Seperti melakukan komunikasi terbuka, pembagian tugas, diskusi rutin, dan revisi berkala. Selain itu, konsultasi dengan dosen pembimbing dan mentor penelitian turut membantu penyempurnaan karya. Kerja keras tim akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan tidak hanya meraih Bronze Medal, karya mereka pun lolos untuk diterbitkan pada jurnal IASSSF. Capaian tersebut menjadi pengalaman berharga bagi tim dalam mengasah kemampuan akademik dan penyusunan karya ilmiah.

Bangga Bertemu Ide-Ide Kreatif dari Berbagai Daerah

Bagi tim, SINEC 2025 bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang berkembang yang penuh pengalaman berharga. Bertemu dengan peserta dari berbagai daerah yang membawa ide baru menjadi salah satu momen paling berkesan selama kompetisi. Kompetisi ini juga memperluas wawasan akademik dan memperkuat kepercayaan diri mereka dalam menyampaikan gagasan ilmiah. Salah satu anggota tim, Ferdian, memberikan pesan yang mengalir dari pengalaman pribadinya.

“Jangan takut untuk mencoba ikut lomba, karena setiap proses yang dijalani akan selalu membawa pengalaman dan pelajaran baru. Tidak harus langsung hebat untuk memulai, tetapi harus berani memulai untuk bisa berkembang,” ungkap Ferdian.

Langkah berani tim ini menjadi bukti bahwa keberanian mencoba dapat membuka peluang yang sebelumnya tidak terpikirkan. Harapannya, perjalanan mereka di SINEC 2025 dapat menjadi penyemangat bagi mahasiswa lain untuk tidak pernah ragu mengambil kesempatan.

Nisrina Nur Masrefa

Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan kuliah praktisi untuk mata kuliah Perancangan Fasilitas. Acara ini mengangkat topik “Kaizen and Layout Optimization: Practical Industrial Engineering Approach” dan berlangsung secara luring pada Sabtu (20/12). Kuliah praktisi terlaksana dalam dua sesi, yaitu pada pukul 09.00–12.00 WIB serta pukul 13.00–16.00 WIB yang bertempat di Auditorium FTI Lantai 3. Materi perkuliahan ini memiliki tujuan memberikan peserta pemahaman mengenai praktik terbaik dalam penerapan Kaizen dan optimasi tata letak.

Rahmalia Yunita selaku Master of Ceremony membuka acara tepat pada waktunya di kedua sesi. Kemudian Rahmalia melanjutkan acara dengan memperkenalkan narasumber kuliah praktisi, Ori Rabowo. Beliau merupakan Senior Operational Excellence Manager at Kimberly-Clark dan memiliki pengetahuan mendalam terkait Kaizen dan Layout Optimization.

Perbaikan Lokal yang Berpengaruh Kompleks

Ori membuka sesi pemaparan dengan menekankan bahwa perbaikan dalam dunia Teknik Industri tidak dapat dilakukan secara parsial atau berfokus pada satu proses. Dalam konteks Kaizen dan layout optimization, ia menjelaskan bahwa setiap keputusan perbaikan harus dilihat secara menyeluruh. Hal ini dikarenakan sistem industri saling terhubung antara proses, kapasitas, layout, dan demand. Perbaikan lokal yang tidak didukung oleh analisis end-to-end justru berpotensi menciptakan permasalahan baru pada sistem.

Ori juga mencontohkan studi kasus pengurangan jumlah mesin sebagai bentuk efisiensi operasional. Secara lokal, keputusan tersebut bernilai tepat karena meningkatkan utilisasi mesin dan menurunkan biaya. Akan tetapi terdapat efek samping adanya tekanan pada sumber daya manusia. Hal ini dikarenakan data belum terstandarisasi dan analisis demand tidak dilakukan secara matang.

“Artinya 3 mesin itu bakal dibuang atau dijual. Ternyata data miningnya belum standar. Pas bulan ini demand nya naik, mesin udah dikurangin, orang juga udah dipotong. Kewalahan jadinya. Efeknya? Malah butuh tambahan overtime.” Jelasnya.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa optimasi proses yang hanya berfokus pada efisiensi lokal dapat berisiko di bagian lain, seperti peningkatan beban kerja dan overtime. Ori menegaskan bahwa Kaizen dan Optimisasi Layout bukan sekadar melakukan improvement, tetapi memastikan bahwa perbaikan tersebut selaras dengan aliran proses, supply chain, serta kebutuhan sistem secara menyeluruh.

Penyelesaian Studi Kasus

Setelah pemaparan materi, peserta terbagi dalam kelompok besar untuk memecahkan dua studi kasus. Studi kasus pertama membahas optimasi layout pabrik Global Print Solution Indonesia. Peserta menganalisis Operation Process Chart (OPC) dan merancang ulang tata letak produksi melalui Activity Relationship Chart (ARC). Studi kasus kedua berfokus pada optimasi distribusi PT. Cetak Kreatif. Peserta menghitung occupancy rate, clustering stores, dan biaya transportasi dengan kapasitas truk tertentu. Setiap anggota kelompok bekerja sama untuk mengidentifikasi masalah dan menemukan solusi sesuai dengan tekniknya.

Setelah semua kelompok selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasil dan solusi yang mereka dapatkan. Presentasi ini memuat adanya berbagai perspektif karena setiap kelompok memiliki pendekatan berbeda. Dengan ini, memungkinkan peserta belajar dari metode optimasi yang beragam. Sesi ini memperkaya pemahaman peserta tentang aplikasi nyata Kaizen dan layout optimization di industri.

Dengan demikian, kuliah praktisi ini memberikan pengetahuan tersendiri bagi mahasiswa Teknik Industri UII. Peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengintegrasikan dan mengaplikasikan pada kasus industri. Acara kuliah praktisi berakhir dengan sesi foto bersama narasumber dan seluruh peserta dan dengan harapan ilmu dapat diterapkan dalam jenjang akademik atau karir berikutnya.

Nisrina Nur Masrefa

Pancasila bukan sekadar teori bagi civitas akademika akademika Teknik Industri, Universitas Islam Indonesia yang hanya mereka ingat setiap memperingati Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni. Momen bersejarah tersebut justru menjadi pengingat bahwa nilai-nilai luhur bangsa harus diimplementasikan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari. Sejarah UII sendiri memiliki ikatan yang sangat kuat dengan dasar negara ini. Para tokoh pendiri kampus kita merupakan bagian dari arsitek utama perumus Pancasila.

Di lingkungan Kampus Terpadu Sleman, kampus mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan agar berjalan selaras dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, kita merawat momentum sejarah ini bukan sebagai rutinitas tahunan. Pancasila hadir sebagai kompas moral bagi mahasiswa Teknik Industri dan rumpun FTI lainnya dalam menghadapi tantangan global. Di era digital saat ini, tantangan terbesar nyata terlihat dari cara kita mengelola arus data dan informasi di media sosial. Hal ini kemudian melahirkan urgensi akan pentingnya etika komunikasi digital.

Etika Komunikasi Digital Sebagai Fondasi Utama Nilai Persatuan

Proses pengimplementasian nilai-nilai Pancasila tersebut diwujudkan secara nyata melalui penerapan etika komunikasi digital yang ketat di ruang siber. Mahasiswa Teknik Industri yang akrab dengan perancangan sistem dan tata kelola data menerapkan metode penyaringan informasi (filtering process) secara berlapis sebelum menyebarkan suatu berita. Karakter intelektual Ulil Albab memandu komunitas akademik kampus ini untuk selalu menyampaikan opini secara santun. Opini tersebut harus rasional serta berbasis pada validitas fakta. Melalui sistem kendali informasi yang mandiri ini, mereka berhasil meredam potensi gangguan (noise). Sistem ini menyaring ujaran kebencian, hoaks, ataupun provokasi digital yang berisiko memicu konflik horizontal. Semangat Pancasila dalam upaya preventif masif tersebut efektif membendung misinformasi sekaligus mengoptimalkan stabilitas dan keutuhan NKRI. 

Merajut Persatuan dalam Kebinekaan Sosial Kampus 

Fakultas Teknologi Industri

Selain di ranah digital, perwujudan roh persatuan dan pengamalan nilai Pancasila juga diaplikasikan melalui kolaborasi nyata dalam ekosistem pembelajaran dan interaksi sosial harian di kampus. Mahasiswa perantauan dari berbagai penjuru wilayah nusantara hingga mahasiswa internasional saling membaur. Mereka berkumpul tanpa memandang perbedaan suku, ras, maupun latar belakang budaya.

Jihan, mahasiswa Teknik Industri UII asal Riau, membagikan pandangannya mengenai dinamika pergaulan di kampus. 

“Sebagai anak rantau, saya merasa diterima dengan baik di lingkungan kampus. Perbedaan asal daerah tidak menjadi pembatas untuk berteman maupun bekerja sama, sehingga saya bisa beradaptasi dengan nyaman dan berkembang bersama teman-teman lainnya,” ujarnya. 

Senada dengan hal tersebut, Yaser, mahasiswa internasional kelas International Program (IP) Teknik Industri UII asal Yaman, juga merasakan langsung atmosfer inklusif tersebut. Dosen maupun rekan sesama mahasiswa memperlakukannya secara setara tanpa diskriminasi di lingkungan kampus sebagai wujud toleransi Pancasila.

“Meskipun terkadang saya masih merasa sedikit kesulitan dalam situasi sosial karena adanya kendala bahasa, secara keseluruhan saya sangat menikmati pengalaman belajar di sini karena semua orang sangat terbuka dan suportif,” ungkap Yaser.

Lewat suasana kampus yang saling mendukung seperti ini, pihak fakultas berhasil menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi semua orang. Perbedaan asal daerah maupun negara justru membuat hubungan pertemanan di Teknik Industri dan rumpun FTI lainnya menjadi semakin harmonis.

 

Kaila Bilbina M.S

Yogyakarta, April 6-12, 2026 – The Department of Industrial Engineering, Faculty of Industrial Technology, Universitas Islam Indonesia (UII) successfully held the EXPO FTI 2026. Located at Pakuwon Mall Yogyakarta, this week-long event served as a major academic promotion platform for the general public. Various study programs participated in the exhibition, with Industrial Engineering EXPO FTI contributors actively introducing their academic curriculum and practical learning methods. The event successfully engaged students, youths, and general visitors through an interactive concept. Ultimately, this exhibition aimed to provide a comprehensive understanding of the major while attracting prospective students through an applicable approach.

Engaging Visitors Through the Industrial Engineering EXPO FTI Booth

At the booth area, students took an active role in sharing information with visitors. They shared deep insights regarding academic disciplines, campus facilities, and future career prospects. Visitors also explored various informative media and interacted directly with current students to understand real-world applications. This direct interaction effectively helped visitors realize that the Industrial Engineering EXPO FTI presentation covers a broad spectrum and remains highly relevant to modern industrial needs.

Insightful Academic Talk Shows by Industrial Engineering UII

As part of the talk show series, UII presented student representatives from various backgrounds, including laboratory assistants and International Program students. They introduced academic activities, laboratory practicums, and various programs designed to support student competence development. In addition to sharing their student experiences, the laboratory assistants actively introduced scientific concepts and the practical benefits of their facilities.

Gerren Satrio Hariyudho explained the Design of Work Systems and Ergonomics (DSKE) Laboratory. He covered everything from practicum activities and facilities to the application of ergonomics in the workplace. Furthermore, he demonstrated the use of a handgrip dynamometer, which serves as an instrument to analyze human physical capabilities.

“Through the introduction of the DSKE Laboratory and ergonomics, we want to show that Industrial Engineering is not just theoretical. It is highly applicable and relevant to workforce needs,” Gerren stated.

He also added that the role of lab assistants is a key advantage in supporting student competency.

On the other hand, Bimi Wirabumi explained the crucial role of the Manufacturing Systems Laboratory in supporting practical learning for students. He emphasized that the available facilities provide real-world experience for students to grasp production processes and industrial systems.

“Our main goal at this EXPO is to introduce Industrial Engineering UII to the wider community, especially through our complete laboratory facilities that fully support hands-on learning,” Bimi explained.

Overall, the Industrial Engineering EXPO FTI activities proved to be an effective medium to showcase academic excellence. At the same time, it successfully boosted prospective students’ interest in joining the university.

Kaila Bilbina M.S

The Industrial Engineering Study Program, Faculty of Industrial Technology (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII), once again organized a webinar on Friday, 28 November 2025. As part of its academic activities, the committee conducted a national monthly webinar via Zoom Meeting. The webinar carried the theme “On Time and On Track: Time Management for University Students.” It addressed common academic challenges faced by university students.

Anindya Mayrela Ika Putri moderated the webinar. Distian Pingkan Lumi served as the Master of Ceremony (MC). Meanhwile, The organizing committee appointed Suci Miranda, S.T., M.Sc. as the main speaker. Overall, students from various semesters joined the webinar to improve their awareness of effective time management throughout their academic journey.

The event began with the reading of the agenda, followed by the singing of the Indonesian national anthem Indonesia Raya and the UII Hymn, as well as a group photo session. Afterward, the moderator introduced the speaker by presenting her academic background and professional experience in the field of Industrial Engineering before proceeding to the main presentation session.

Time Management as the Key to Success

During the main session, Suci Miranda delivered time management strategies. She encouraged students to view their academic journey as an academic project. She explained that university studies involve clear targets, structured stages, and specific deadlines. According to her, students need early academic planning to ensure a more focused and effective learning process.

Suci also highlighted the use of project management principles in managing coursework, academic activities, and final projects or theses.

“If students view their studies as a project, they will find it easier to set goals, organize stages, and anticipate potential risks that may arise during their academic journey,” 

She further stated that time management goes beyond scheduling and includes risk management and self-competency development. Therefore, Suci encouraged students to continuously develop supporting skills to remain productive and complete their studies on time.

Discussion and Expert Responses

Meanwhile, the session continued with an interactive discussion. One participant asked about the effectiveness of working on the Internship Program (Kuliah Praktik/KP) and the Final Project or Thesis (Tugas Akhir/TA) simultaneously. In response, Suci Miranda explained that KP and TA generally follow different workflows.

However, students may continue the topic of their KP as the basis for their TA research. She emphasized that careful planning and intensive communication with academic supervisors are key factors in managing time and academic workload effectively.

Encouraging Effective Study Time Management

As a closing remarks, Suci encouraged students to manage their study time wisely through careful planning and self-discipline.

“Good time management helps students stay focused, organized, and complete their studies according to their targets,”

After the presentation and discussion sessions concluded, participants were asked to complete the attendance form. The event was then officially closed by the Master of Ceremony (MC).

Albin M Wiryawan