,

Merawat Jiwa Pancasila pada Mahasiswa Teknik Industri UII

Pancasila bukan sekadar teori bagi civitas akademika akademika Teknik Industri, Universitas Islam Indonesia yang hanya mereka ingat setiap memperingati Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni. Momen bersejarah tersebut justru menjadi pengingat bahwa nilai-nilai luhur bangsa harus diimplementasikan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari. Sejarah UII sendiri memiliki ikatan yang sangat kuat dengan dasar negara ini. Para tokoh pendiri kampus kita merupakan bagian dari arsitek utama perumus Pancasila.

Di lingkungan Kampus Terpadu Sleman, kampus mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan agar berjalan selaras dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, kita merawat momentum sejarah ini bukan sebagai rutinitas tahunan. Pancasila hadir sebagai kompas moral bagi mahasiswa Teknik Industri dan rumpun FTI lainnya dalam menghadapi tantangan global. Di era digital saat ini, tantangan terbesar nyata terlihat dari cara kita mengelola arus data dan informasi di media sosial. Hal ini kemudian melahirkan urgensi akan pentingnya etika komunikasi digital.

Etika Komunikasi Digital Sebagai Fondasi Utama Nilai Persatuan

Proses pengimplementasian nilai-nilai Pancasila tersebut diwujudkan secara nyata melalui penerapan etika komunikasi digital yang ketat di ruang siber. Mahasiswa Teknik Industri yang akrab dengan perancangan sistem dan tata kelola data menerapkan metode penyaringan informasi (filtering process) secara berlapis sebelum menyebarkan suatu berita. Karakter intelektual Ulil Albab memandu komunitas akademik kampus ini untuk selalu menyampaikan opini secara santun. Opini tersebut harus rasional serta berbasis pada validitas fakta. Melalui sistem kendali informasi yang mandiri ini, mereka berhasil meredam potensi gangguan (noise). Sistem ini menyaring ujaran kebencian, hoaks, ataupun provokasi digital yang berisiko memicu konflik horizontal. Semangat Pancasila dalam upaya preventif masif tersebut efektif membendung misinformasi sekaligus mengoptimalkan stabilitas dan keutuhan NKRI. 

Merajut Persatuan dalam Kebinekaan Sosial Kampus 

Fakultas Teknologi Industri

Selain di ranah digital, perwujudan roh persatuan dan pengamalan nilai Pancasila juga diaplikasikan melalui kolaborasi nyata dalam ekosistem pembelajaran dan interaksi sosial harian di kampus. Mahasiswa perantauan dari berbagai penjuru wilayah nusantara hingga mahasiswa internasional saling membaur. Mereka berkumpul tanpa memandang perbedaan suku, ras, maupun latar belakang budaya.

Jihan, mahasiswa Teknik Industri UII asal Riau, membagikan pandangannya mengenai dinamika pergaulan di kampus. 

“Sebagai anak rantau, saya merasa diterima dengan baik di lingkungan kampus. Perbedaan asal daerah tidak menjadi pembatas untuk berteman maupun bekerja sama, sehingga saya bisa beradaptasi dengan nyaman dan berkembang bersama teman-teman lainnya,” ujarnya. 

Senada dengan hal tersebut, Yaser, mahasiswa internasional kelas International Program (IP) Teknik Industri UII asal Yaman, juga merasakan langsung atmosfer inklusif tersebut. Dosen maupun rekan sesama mahasiswa memperlakukannya secara setara tanpa diskriminasi di lingkungan kampus sebagai wujud toleransi Pancasila.

“Meskipun terkadang saya masih merasa sedikit kesulitan dalam situasi sosial karena adanya kendala bahasa, secara keseluruhan saya sangat menikmati pengalaman belajar di sini karena semua orang sangat terbuka dan suportif,” ungkap Yaser.

Lewat suasana kampus yang saling mendukung seperti ini, pihak fakultas berhasil menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi semua orang. Perbedaan asal daerah maupun negara justru membuat hubungan pertemanan di Teknik Industri dan rumpun FTI lainnya menjadi semakin harmonis.

 

Kaila Bilbina M.S