Ketika mendengar kata ergonomi, mungkin yang terlintas adalah posisi duduk yang nyaman, meja dengan ketinggian yang sesuai, atau cara mengangkat barang agar tidak menyebabkan cedera. Padahal, ergonomi memiliki cakupan yang jauh lebih luas. Lab DSKE menjadi salah satu ruang pembelajaran yang mempelajari bagaimana manusia berinteraksi dengan pekerjaan, alat, teknologi, dan lingkungan di sekitarnya agar sebuah sistem dapat berjalan dengan lebih aman, nyaman, efektif, dan efisien.
Lab DSKE, atau Laboratorium Desain Sistem Kerja dan Ergonomi, berada di lingkungan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (UII). Laboratorium ini menjadi ruang pembelajaran dan penelitian bagi mahasiswa untuk memahami hubungan antara manusia dan sistem kerja sekaligus mengembangkan solusi yang berorientasi pada kebutuhan manusia.
Pembelajaran di Lab DSKE UII: Dari Memahami Tubuh Manusia hingga Merancang Sistem Kerja

Sebelum merancang sebuah sistem kerja, mahasiswa perlu memahami terlebih dahulu siapa yang akan menggunakan sistem tersebut, yaitu manusia. Karena itu, pembelajaran dimulai dari pemahaman mengenai tubuh, kemampuan, dan keterbatasan manusia.
Melalui Biologi, mahasiswa mempelajari berbagai sistem dalam tubuh manusia, mulai dari sistem kardiovaskular, respirasi, muskuloskeletal, dan saraf hingga fisiologi serta sistem metabolisme. Pembelajaran juga mencakup pancaindra, bagaimana manusia menerima dan memproses informasi, serta konsep human error. Pemahaman ini menjadi dasar untuk melihat bagaimana kondisi tubuh dan kemampuan manusia dapat memengaruhi aktivitas kerja.
Setelah memahami karakteristik manusia, mahasiswa kemudian mempelajari Ergonomika. Pada tahap ini, pembelajaran mulai diarahkan pada hubungan antara manusia dengan pekerjaan dan lingkungan. Topiknya mencakup antropometri, fisiologi manusia, beban kerja fisik dan mental, lingkungan kerja fisik, pencegahan gangguan otot rangka, hingga ergonomika kognitif. Mahasiswa juga mempelajari display and controls, kecepatan reaksi, manual material handling, serta pengantar ergonomika makro.
Pemahaman tersebut kemudian diterapkan dalam Pengukuran dan Perancangan Sistem Kerja. Mahasiswa belajar bagaimana suatu sistem kerja dapat dianalisis dan dirancang berdasarkan data. Materinya meliputi pengukuran waktu kerja seperti time study dan work sampling, studi ekonomi gerakan, peta kerja, pengukuran kerja tidak langsung, tools design, perancangan lingkungan kerja fisik, hingga usabilitas.
Pada tahap ini, mahasiswa tidak hanya berhenti pada proses analisis. Mereka juga belajar mengimplementasikan dan mengevaluasi rancangan sistem kerja. Salah satu bentuk penerapannya dapat dilakukan melalui tugas besar yang kemudian dikembangkan dan dipresentasikan dalam kegiatan seperti expo.
Sementara itu, aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melengkapi pemahaman mahasiswa mengenai bagaimana sistem kerja dapat berjalan dengan aman. Mahasiswa mempelajari konsep dasar K3, potensi bahaya, risiko, penyebab kecelakaan kerja, hingga berbagai metode identifikasi dan analisis bahaya seperti JSA, HIRARC, HAZOP, FTA, dan FMEA. Pembelajaran juga mencakup penilaian risiko, pengendalian bahaya, sistem manajemen K3, investigasi kecelakaan, serta pentingnya komunikasi dan budaya keselamatan.
Dengan demikian, pembelajaran di bidang DSKE tidak berdiri pada satu aspek saja. Mahasiswa belajar memahami manusia, menganalisis pekerjaan, merancang sistem, sekaligus memastikan sistem tersebut aman bagi penggunanya.
Belajar melalui Praktikum, Simulasi, dan Teknologi

Salah satu hal yang membuat pembelajaran di laboratorium menjadi menarik adalah kesempatan untuk menghubungkan teori dengan pengalaman secara langsung. Lab DSKE memiliki berbagai fasilitas yang mendukung kegiatan pembelajaran, praktikum, maupun penelitian mahasiswa.
Selain ruang kelas dan ruang asisten, tersedia ruang alat yang dapat digunakan untuk mempelajari dan mengembangkan berbagai kegiatan akademik. Lab DSKE juga memiliki Driving Simulator yang dapat digunakan untuk melakukan simulasi aktivitas berkendara.
Ada pula ruang iklim yang memungkinkan mahasiswa mempelajari kondisi lingkungan kerja fisik dalam situasi yang dapat dikendalikan. Berbagai kondisi seperti pencahayaan, suhu, kebisingan, dan getaran dapat menjadi bagian dari kegiatan pembelajaran maupun eksperimen. Dengan adanya fasilitas tersebut, mahasiswa dapat melihat secara lebih nyata bagaimana lingkungan dapat memengaruhi manusia ketika melakukan suatu aktivitas.

Teknologi juga menjadi bagian dari kegiatan pembelajaran dan penelitian. Lab DSKE memiliki berbagai perangkat seperti eye tracker, Galvanic Skin Response (GSR), Muse Headband EEG, 5 in 1 environmental meter, spirometer, dan virtual reality Oculus.
Peralatan tersebut dapat membantu mahasiswa mengumpulkan data dari berbagai aspek manusia dan lingkungan. Misalnya, eye tracker dapat digunakan untuk mempelajari perhatian visual, sedangkan perangkat seperti GSR dan EEG dapat mendukung penelitian yang berkaitan dengan respons fisiologis maupun aktivitas manusia.
Pemanfaatan teknologi tersebut menunjukkan bahwa ergonomi tidak hanya berbicara tentang pengamatan secara langsung. Perkembangan teknologi memungkinkan proses pengukuran dan penelitian mengenai manusia dilakukan dengan pendekatan yang semakin beragam.
Dari Laboratorium untuk Menjawab Permasalahan Nyata

Ilmu yang dipelajari di Lab DSKE sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari ketidaknyamanan menggunakan kursi, kelelahan akibat pekerjaan berulang, kesulitan memahami aplikasi, hingga kondisi lingkungan kerja yang bising, panas, atau kurang terang. Melalui perspektif ergonomi, mahasiswa belajar mengidentifikasi masalah, memahami penyebabnya, melakukan pengukuran, dan merancang solusi yang sesuai dengan kebutuhan manusia.
Hal ini penting bagi mahasiswa Teknik Industri karena sistem yang baik tidak hanya harus efektif dan efisien, tetapi juga mempertimbangkan kemampuan, keterbatasan, keamanan, dan kenyamanan manusia. Terlebih di era Society 5.0, teknologi semakin banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga perlu dirancang agar dapat bekerja selaras dengan manusia.
Pengalaman tersebut juga dirasakan langsung oleh salah satu alumni Lab DSKE, Devoni, yang kini berkarier sebagai QHSE di PT Samudera Indonesia Tbk.
“Sebagai alumni yang kini bekerja sebagai QHSE, saya merasakan langsung bagaimana pengalaman di Lab DSKE memberi kontribusi besar bagi karier saya. Pembelajaran dan pengalaman menjadi asisten laboratorium sangat berikatan erat dengan posisi saya saat ini, karena keilmuannya berada di dalam satu rumpun yang sama.”
Melalui pembelajaran dan penelitian, Lab DSKE menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami bahwa manusia merupakan bagian penting dalam setiap sistem. Pada akhirnya, tujuan ergonomi adalah menciptakan sistem yang tidak hanya efektif dan efisien, tetapi juga aman, sehat, nyaman, dan optimal bagi manusia.
Kaila Bilbina M.S