Tag Archive for: universitas islam indonesia

Bertahan di Tengah Arus Modern

Maintaining faith in the modern era can be challenging amid the rapid development of technology, changing lifestyles, and social media. While technological advances offer many benefits, they also present challenges for Muslims to remain committed to Islamic values. In an educational environment such as Industrial Engineering UII, students also encounter these developments as part of their academic and social lives.

Amid a constantly changing world, faith serves as a guide to help people stay on the right path. Keeping up with the times does not mean following every trend. Rather, it means choosing what brings goodness without allowing oneself to drift away from Allah.

Maintaining Faith in the Modern Era

Islam does not prohibit Muslims from embracing modern developments. Muslims can continue to learn, work, socialize, and use technology as long as these activities remain within Islamic values.

Technology can even serve as a means of learning about Islam, spreading goodness, and broadening knowledge. A study titled “Enhancing Student Religiosity Through Islamic Content and Influencer Expertise: Social Media Contribution as Mediator,” involving 180 Muslim university students, found an association between the quality of Islamic content on social media and religious practices. This suggests that the issue is not simply whether technology should be used, but how and for what purpose it is used. Social media can become a platform for learning and spreading Islamic teachings, but it can also become a space for seeking validation and attention.

Challenges to Maintaining Faith in the Modern Era

Modern life makes it increasingly easy for people to see the achievements, lifestyles, and personal lives of others through social media. Without realizing it, this can encourage people to compare themselves with others and seek recognition.

This issue is also discussed in the study “Piety, Social Pressure, and Riya’: Religious Practices of Yogyakarta Urban Muslim Youth in Digital Media,” which examines urban Muslim youth in Yogyakarta. The study shows that digital media can provide a space for young people to express their religious devotion while also creating social pressure through the pursuit of likes and followers.

This is where faith plays an important role as a reminder. Muslims should ask themselves: “Am I doing this truly for Allah, or because I want to be seen and recognized by others?”

The World Is Temporary

Allah reminds humanity about the nature of worldly life in the Qur’an:

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ەۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Know that the life of this world is only play, amusement, adornment, boasting among yourselves, and competition in wealth and children, like rain whose resulting plants please the farmers; then they dry, and you see them turn yellow, and then they become debris. And in the Hereafter there is severe punishment, as well as forgiveness and pleasure from Allah. And the life of this world is nothing but the enjoyment of delusion.” QS. Al-Ḥadīd [57]: 20

This verse reminds us that worldly life is temporary. What may seem extremely important today will eventually pass. Popularity, followers, trends, appearance, wealth, and worldly achievements are not the ultimate measures of human success.

Therefore, worldly possessions may be enjoyed and utilized, but they should not cause the heart to lose sight of its ultimate purpose. Times may change, but faith should remain our guiding principle.

5 Ways to Maintain Faith in the Modern Era

Bertahan di Tengah Arus Modern

How can Muslims remain steadfast amid the currents of modern life? Maintaining faith in the modern era requires consistency in how we worship, interact with others, and use technology.

First, maintain a strong relationship with Allah. The demands of worldly life should not become an excuse to neglect worship. Prayer, supplication, reading the Qur’an, and remembering Allah can help keep the heart grounded and directed toward Him.

Second, choose a good environment. Social relationships have a significant influence on the way people think and behave. Good friends can remind us when we become careless, strengthen us when we feel weak, and encourage us to do good.

Third, use social media wisely. Not every piece of information needs to be consumed, and not every trend needs to be followed. Muslims should learn to choose beneficial content and avoid things that may negatively affect character or disturb inner peace.

Fourth, maintain sincerity. When doing good deeds, the opinions of others should not become the primary motivation. Actions performed for Allah do not always need to receive recognition from other people.

Fifth, continue learning. A changing world requires knowledge. With sufficient religious knowledge and broader understanding, Muslims can better distinguish between progress that brings benefit and changes that may lead them away from Islamic values. Educational environments can also provide opportunities for students to develop knowledge, skills, and values that support them in navigating modern life.

Staying Faithful in a Changing World

Ultimately, maintaining faith in the modern era does not mean rejecting technology or avoiding change. Instead, Muslims should learn to embrace modern developments wisely while continuing to uphold Islamic values and maintain their sense of direction.

Times may change. Technology may continue to develop. The way people communicate may evolve. Yet, faith remains a guiding principle.

Faith does not require us to leave the modern world; it teaches us not to lose ourselves within it.

By treating worldly life as a means to worship Allah and do good, Muslims can benefit from modern developments without allowing themselves to be swept away by them.

The greatest challenge is not living in an increasingly modern world, but remaining a servant of Allah when the world offers countless things that can make us forget Allah.

 

Kaila Bilbina M.S.

Bertahan di Tengah Arus Modern

Menjaga iman di era modern menjadi tantangan di tengah perkembangan teknologi, gaya hidup, dan media sosial yang semakin memengaruhi kehidupan sehari-hari. Kemudahan teknologi dapat memberikan banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan bagi seorang Muslim untuk tetap berpegang pada nilai-nilai Islam. Dalam lingkungan pendidikan seperti Teknik Industri UII, mahasiswa juga menghadapi perkembangan tersebut sebagai bagian dari kehidupan akademik dan sosial.

Di tengah perubahan zaman, iman menjadi pegangan agar manusia tidak kehilangan arah. Mengikuti perkembangan zaman bukan berarti mengikuti semua tren, melainkan mampu memilih hal yang membawa kebaikan tanpa menjauhkan diri dari Allah.

Mengikuti Perkembangan Zaman Tanpa Kehilangan Iman

Islam tidak melarang umatnya untuk mengikuti perkembangan zaman. Seorang Muslim tetap dapat belajar, bekerja, bergaul, dan menggunakan teknologi selama tetap berada dalam nilai-nilai yang diridhai Allah.

Teknologi bahkan dapat menjadi sarana untuk belajar agama, menyebarkan kebaikan, dan memperluas wawasan. Penelitian “Enhancing Student Religiosity Through Islamic Content and Influencer Expertise: Social Media Contribution as Mediator” terhadap 180 mahasiswa Muslim menunjukkan adanya hubungan antara kualitas konten Islam di media sosial dan praktik religiusitas. Artinya, persoalannya bukan sekadar menggunakan teknologi atau tidak, tetapi bagaimana dan untuk apa teknologi tersebut digunakan. Media sosial dapat menjadi tempat menuntut ilmu dan berdakwah, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mencari validasi dan perhatian.

Tantangan Menjaga Iman di Era Modern

Kehidupan modern membuat seseorang semakin mudah melihat pencapaian, gaya hidup, dan kehidupan orang lain melalui media sosial. Tanpa disadari, hal tersebut dapat memicu kebiasaan membandingkan diri dan mencari pengakuan.

Hal ini juga dibahas dalam penelitian “Piety, Social Pressure, and Riya’: Religious Practices of Yogyakarta Urban Muslim Youth in Digital Media” mengenai pemuda Muslim urban di Yogyakarta. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa media digital dapat menjadi ruang untuk mengekspresikan kesalehan, tetapi juga menghadirkan tekanan sosial melalui jumlah likes dan pengikut.

Di sinilah iman berperan sebagai pengingat. Seorang Muslim perlu bertanya kepada diri sendiri: “Apakah yang aku lakukan benar-benar karena Allah, atau karena ingin dilihat dan diakui manusia?”

Dunia Hanya Sementara

Allah telah mengingatkan manusia mengenai hakikat kehidupan dunia dalam Al-Qur’an:

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ەۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lalu menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” QS. Al-Ḥadīd [57]: 20

Ayat tersebut mengingatkan bahwa kehidupan dunia pada hakikatnya bersifat sementara. Apa yang hari ini terlihat begitu penting, suatu saat akan berlalu. Popularitas, jumlah pengikut, tren, penampilan, harta, dan berbagai pencapaian duniawi bukanlah ukuran akhir dari keberhasilan seorang manusia. Karena itu, dunia boleh dimiliki dan dimanfaatkan, tetapi jangan sampai membuat hati kehilangan tujuan utama. Zaman boleh berubah, tetapi iman tetap harus menjadi pegangan.

5 Cara Menjaga Iman di Era Modern

Bertahan di Tengah Arus Modern

Lantas, bagaimana cara seorang Muslim bertahan di tengah arus modern? Menjaga iman di era modern dapat dilakukan melalui beberapa langkah sederhana yang perlu diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, menjaga hubungan dengan Allah. Kesibukan dunia tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan ibadah. Salat, doa, membaca Al-Qur’an, dan mengingat Allah merupakan cara untuk menjaga hati agar tetap memiliki arah.

Kedua, memilih lingkungan yang baik. Pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang berpikir dan bertindak. Teman yang baik dapat mengingatkan ketika lalai, menguatkan ketika lemah, dan mengajak kepada kebaikan.

Ketiga, bijak dalam menggunakan media sosial. Tidak semua informasi perlu dikonsumsi dan tidak semua tren harus diikuti. Seorang Muslim perlu belajar memilih konten yang memberikan manfaat serta menghindari hal-hal yang dapat merusak akhlak dan mengganggu ketenangan hati.

Keempat, menjaga keikhlasan. Ketika melakukan kebaikan, jangan sampai penilaian manusia menjadi tujuan utama. Apa yang dilakukan karena Allah tidak selalu harus mendapatkan pengakuan dari manusia.

Kelima, terus belajar. Perubahan zaman membutuhkan ilmu. Dengan ilmu agama dan pengetahuan yang memadai, seorang Muslim akan lebih mampu membedakan antara kemajuan yang membawa manfaat dan perubahan yang justru menjauhkan dari nilai-nilai Islam. Lingkungan pendidikan juga dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan ilmu, keterampilan, dan nilai-nilai yang mendukung kehidupan di era modern.

Zaman Boleh Berubah, Iman Jangan Sampai Hilang

Pada akhirnya, menjadi seorang Muslim di era modern bukan berarti harus menjauh dari perkembangan zaman. Justru seorang Muslim perlu mampu hidup di tengah perkembangan tersebut dengan tetap membawa nilai-nilai Islam. Menjaga iman di era modern bukan berarti menolak teknologi atau menghindari perubahan, tetapi mampu menggunakan perkembangan zaman secara bijak tanpa kehilangan arah hidup.

Zaman boleh berubah. Teknologi boleh berkembang. Cara manusia berkomunikasi boleh berganti. Namun, prinsip keimanan tetap menjadi pegangan.

Iman tidak mengharuskan kita meninggalkan zaman, tetapi mengajarkan kita untuk tidak kehilangan diri di dalamnya.

Dengan menjadikan dunia sebagai sarana untuk beribadah dan berbuat kebaikan, seorang Muslim dapat memanfaatkan perkembangan zaman tanpa membiarkan dirinya terseret oleh arusnya.

Sebab, tantangan terbesar bukanlah hidup di zaman yang semakin modern, melainkan tetap menjadi hamba Allah ketika dunia menawarkan begitu banyak hal yang dapat membuat kita lupa kepada-Nya.

Kaila Bilbina M.S.

For the academic community of Industrial Engineering at Universitas Islam Indonesia, Pancasila is far from a mere theory remembered only during its birth anniversary on June 1st. Instead, this historic moment reminds students to consistently implement Pancasila values in their daily activities. UII has a strong connection to the nation’s foundation. The university’s founding fathers helped formulate Pancasila.

At the Sleman Integrated Campus, the university integrates Islamic and Indonesian values throughout the learning process. Consequently, the campus community preserves this historical momentum not as a repetitive annual routine. Furthermore, Pancasila stands as a moral compass for Industrial Engineering students and the wider Faculty of Industrial Technology (FTI) family in navigating global challenges. In today’s digital era, managing information on social media has become a major challenge. Therefore, digital communication ethics are increasingly important.

Pancasila Values Among Industrial Engineering Students at UII

Students apply Pancasila values through ethical digital communication in cyberspace. Industrial Engineering students understand system design and data governance. As a result, they verify information before sharing news.

Moreover, the Ulil Albab character encourages students to express opinions politely, rationally, and based on facts. They use this filtering process to reduce hate speech, hoaxes, and digital provocations. Consequently, they help prevent social conflicts. This commitment to Pancasila helps curb misinformation. In addition, it also supports social stability and national unity.

How Industrial Engineering Students at UII Promote Unity Through Diversity

Meanwhile, students apply Pancasila values through collaboration and teamwork. This is evident within the learning ecosystem and daily social interactions on campus. Domestic migrant students from various corners of the archipelago and international students blend together seamlessly. They gather without regard for differences in ethnicity, race, or cultural background.

Jihan, an Industrial Engineering student from Riau, shared her perspective on the social dynamics on campus.

“As a student from outside the region, I feel well received in the campus environment. Students do not let regional differences hinder friendship or collaboration, allowing me to adapt comfortably and grow alongside my peers,” she said.

Echoing this sentiment, Yaser, an international student from Yemen in the International Program (IP) of Industrial Engineering at UII, also experienced this inclusive atmosphere firsthand. Both lecturers and fellow students treat him equally without discrimination within the campus environment as a reflection of Pancasila’s tolerance.

“Although I sometimes still find social situations a bit challenging due to language barriers, overall, I really enjoy my learning experience here because everyone is very open and supportive,” Yaser expressed.

Through this mutually supportive campus atmosphere, the faculty has successfully created a comfortable learning environment for everyone. Differences in regional and national origins actually make friendships within FTI UII even more harmonious.

Kaila Bilbina M.S

Pancasila bukan sekadar teori bagi civitas akademika akademika Teknik Industri, Universitas Islam Indonesia yang hanya mereka ingat setiap memperingati Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni. Momen bersejarah tersebut justru menjadi pengingat bahwa nilai-nilai luhur bangsa harus diimplementasikan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari. Sejarah UII sendiri memiliki ikatan yang sangat kuat dengan dasar negara ini. Para tokoh pendiri kampus kita merupakan bagian dari arsitek utama perumus Pancasila.

Di lingkungan Kampus Terpadu Sleman, kampus mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan agar berjalan selaras dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, kita merawat momentum sejarah ini bukan sebagai rutinitas tahunan. Pancasila hadir sebagai kompas moral bagi mahasiswa Teknik Industri dan rumpun FTI lainnya dalam menghadapi tantangan global. Di era digital saat ini, tantangan terbesar nyata terlihat dari cara kita mengelola arus data dan informasi di media sosial. Hal ini kemudian melahirkan urgensi akan pentingnya etika komunikasi digital.

Etika Komunikasi Digital Sebagai Fondasi Utama Nilai Persatuan

Proses pengimplementasian nilai-nilai Pancasila tersebut diwujudkan secara nyata melalui penerapan etika komunikasi digital yang ketat di ruang siber. Mahasiswa Teknik Industri yang akrab dengan perancangan sistem dan tata kelola data menerapkan metode penyaringan informasi (filtering process) secara berlapis sebelum menyebarkan suatu berita. Karakter intelektual Ulil Albab memandu komunitas akademik kampus ini untuk selalu menyampaikan opini secara santun. Opini tersebut harus rasional serta berbasis pada validitas fakta. Melalui sistem kendali informasi yang mandiri ini, mereka berhasil meredam potensi gangguan (noise). Sistem ini menyaring ujaran kebencian, hoaks, ataupun provokasi digital yang berisiko memicu konflik horizontal. Semangat Pancasila dalam upaya preventif masif tersebut efektif membendung misinformasi sekaligus mengoptimalkan stabilitas dan keutuhan NKRI. 

Merajut Persatuan dalam Kebinekaan Sosial Kampus 

Fakultas Teknologi Industri

Selain di ranah digital, perwujudan roh persatuan dan pengamalan nilai Pancasila juga diaplikasikan melalui kolaborasi nyata dalam ekosistem pembelajaran dan interaksi sosial harian di kampus. Mahasiswa perantauan dari berbagai penjuru wilayah nusantara hingga mahasiswa internasional saling membaur. Mereka berkumpul tanpa memandang perbedaan suku, ras, maupun latar belakang budaya.

Jihan, mahasiswa Teknik Industri UII asal Riau, membagikan pandangannya mengenai dinamika pergaulan di kampus. 

“Sebagai anak rantau, saya merasa diterima dengan baik di lingkungan kampus. Perbedaan asal daerah tidak menjadi pembatas untuk berteman maupun bekerja sama, sehingga saya bisa beradaptasi dengan nyaman dan berkembang bersama teman-teman lainnya,” ujarnya. 

Senada dengan hal tersebut, Yaser, mahasiswa internasional kelas International Program (IP) Teknik Industri UII asal Yaman, juga merasakan langsung atmosfer inklusif tersebut. Dosen maupun rekan sesama mahasiswa memperlakukannya secara setara tanpa diskriminasi di lingkungan kampus sebagai wujud toleransi Pancasila.

“Meskipun terkadang saya masih merasa sedikit kesulitan dalam situasi sosial karena adanya kendala bahasa, secara keseluruhan saya sangat menikmati pengalaman belajar di sini karena semua orang sangat terbuka dan suportif,” ungkap Yaser.

Lewat suasana kampus yang saling mendukung seperti ini, pihak fakultas berhasil menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi semua orang. Perbedaan asal daerah maupun negara justru membuat hubungan pertemanan di Teknik Industri dan rumpun FTI lainnya menjadi semakin harmonis.

 

Kaila Bilbina M.S

Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menyelenggarakan webinar pada Jumat, 28 November 2025 secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan yang merupakan bagian dari webinar bulanan nasional ini mengangkat tema “On Time and On Track: Time Management for University Students” yang relevan dengan tantangan akademik mahasiswa. Webinar dipandu oleh Anindya Mayrela Ika Putri selaku moderator dan Distian Pingkan Lumi sebagai Master of Ceremony (MC), dengan menghadirkan Suci Miranda, S.T., M.Sc., sebagai narasumber utama. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai semester untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan waktu selama masa studi.

Acara dibuka dengan pembacaan susunan kegiatan, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne UII, serta sesi foto bersama. Setelah itu, moderator memperkenalkan narasumber dengan memaparkan profil akademik serta pengalaman profesionalnya di bidang Teknik Industri sebelum memasuki sesi pemaparan materi utama.

Manajemen Waktu sebagai Kunci Keberhasilan

Dalam sesi utama, Suci Miranda memaparkan strategi manajemen waktu dengan mengajak mahasiswa memandang perkuliahan sebagai sebuah proyek akademik. Ia menjelaskan bahwa studi memiliki target, tahapan, serta batas waktu yang perlu dikelola secara terencana. Menurutnya, mahasiswa perlu menyusun perencanaan studi sejak dini agar proses perkuliahan berjalan lebih terarah.

Suci juga menekankan bahwa prinsip project management dapat membantu mahasiswa mengelola tugas perkuliahan, kegiatan akademik, hingga penyusunan tugas akhir.

“Jika studi dipandang sebagai sebuah proyek, maka mahasiswa akan lebih mudah menetapkan target, mengatur tahapan, serta mengantisipasi risiko yang mungkin muncul selama perkuliahan,”

Ia menambahkan bahwa manajemen waktu tidak hanya berkaitan dengan penyusunan jadwal, tetapi juga mencakup pengelolaan risiko dan pengembangan kompetensi diri. Oleh karena itu, Suci mendorong mahasiswa untuk terus mengasah keterampilan pendukung agar tetap produktif dan mampu menyelesaikan studi tepat waktu.

Diskusi dan Tanggapan Ahli

Peserta kemudian melanjutkan kegiatan dengan sesi diskusi interaktif. Salah satu peserta mengajukan pertanyaan mengenai efektivitas pengerjaan Kuliah Praktik (KP) dan Tugas Akhir (TA) secara bersamaan. Menanggapi pertanyaan tersebut, Suci Miranda menjelaskan bahwa KP dan TA memiliki alur pengerjaan yang berbeda.

Namun, mahasiswa tetap dapat melanjutkan tema KP sebagai dasar penelitian TA. Ia menegaskan bahwa perencanaan yang matang serta komunikasi intensif dengan dosen pembimbing menjadi kunci utama dalam mengelola waktu dan beban akademik.

Ajakan Mengelola Waktu Studi Secara Efektif

Sebagai penutup, Suci mengajak mahasiswa untuk bijak mengelola waktu selama masa studi dengan perencanaan yang matang dan kedisiplinan diri.

“Manajemen waktu yang baik akan membantu mahasiswa tetap fokus, terarah, dan menyelesaikan studi sesuai target.”

Setelah sesi pemaparan dan diskusi berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan pengisian presensi oleh peserta. Acara kemudian secara resmi ditutup oleh Master of Ceremony (MC).

Albin M Wiryawan

Event Introduction and Speaker Profile

On Friday (31/10/2025), the Industrial Engineering Study Program of the Faculty of Industrial Technology (FTI), Universitas Islam Indonesia (UII), held another national webinar via Zoom Meeting. To begin with, the organizers presented the theme “Between Focus and Relaxation in the Gaming World” and invited Ratih Dianingtyas Kurnia, S.T., Ph.D. as the keynote speaker. Meanwhile, Sekar Hutami took the role of Master of Ceremony (MC), and Zahra Rafida led the discussion as the moderator. As a result, students and lecturers joined the session in order to gain deeper insights into ergonomics, mental health, and cognitive performance in gaming, including how gaming habits influence the body and one’s ability to focus.

Furthermore, The event began with the agenda reading, the singing of Indonesia Raya and the UII Hymn, followed by a group photo session. After that, the moderator introduced the speaker and shared her profile. She highlighted the speaker’s research in ergonomics and mental workload analysis. Consequently, participants were able to understand the context of the material more clearly.

Focus or Relaxation? Here’s What the Expert Says

During the main presentation, Ratih Dianingtyas Kurnia showed participants how playing games influences their focus and relaxation levels. Moreover, she emphasized the importance of understanding the physical and mental workload during gameplay. This is especially important for games that demand high concentration.

Ratih encouraged players to enjoy gaming safely, even in today’s digital world. She argued that games can train the brain in problem solving and stress management when played in moderation. Furthermore, she added that factors such as play duration, body posture, and game intensity significantly influence a gamer’s physical and mental well being. “Gaming can be a way to focus and relax at the same time, as long as we understand our limits and maintain balance,” she said.

She further explained that competitive gamers, such as Valorant or Dota players, face higher mental workloads because the games demand intense concentration and peak performance. In contrast, casual games tend to promote relaxation, although they still require a certain level of attention. Physiologically, gaming can keep brain wave activity within healthy limits when players manage their play duration and intensity properly. Ratih also reminded participants to take micro breaks every 15–20 minutes. She advised them to apply ergonomic principles when arranging seating, lighting, and devices.

Participants Engage with the Speaker

During the Q&A session, participants asked about ideal rest intervals during gaming and the use of supportive tools such as back supports. Ratih explained that such tools can improve sitting posture but cannot replace the body’s need for movement and light stretching. She emphasized that the human body has limits when staying in static positions. Therefore, dynamic movements, such as stretching or short walks, are essential.

Encouraging Wise and Balanced Gaming Habits

To conclude her presentation, Ratih encouraged participants to play games wisely. She emphasized that gaming can serve not only as entertainment but also a way to maintain physical and mental balance. She stressed that video games can enhance focus and promote relaxation when played with self awareness and proper time management.

“Video games can be a positive medium when played smartly, in moderation, and with attention to physical health.”

Finally, the event ended with attendance confirmation and closing remarks from the MC.

Albin M Wiryawan

 

Pengenalan Acara dan Profil Narasumber

Pada Jumat (31/10/2025), Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menyelenggarakan webinar nasional secara daring melalui Zoom Meeting. Acara ini mengusung tema “Antara Fokus atau Relaksasi dalam Dunia Gaming” dengan menghadirkan Ratih Dianingtyas Kurnia, S.T., Ph.D. Sebagai narasumber utama. Sekar Hutami sebagai Master of Ceremony (MC) dan Zahra Rafida memandu jalannya diskusi sebagai moderator. Mahasiswa dan dosen mengikuti kegiatan ini ya untuk memahami lebih dalam mengenai aspek ergonomi, kesehatan mental, dan performa kognitif dalam aktivitas bermain game, termasuk bagaimana kebiasaan bermain game dapat mempengaruhi tubuh dan kemampuan fokus seseorang.

Acara dibuka dengan pembacaan susunan kegiatan, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne UII, lalu sesi foto bersama. Setelah itu, moderator memperkenalkan narasumber dan memaparkan profilnya, yang mencakup pengalaman penelitian di bidang ergonomi dan analisis beban kerja mental.

Fokus atau Relaksasi? Ini Kata Ahli

Dalam sesi penyampaian materi, Ratih Dianingtyas Kurnia menjelaskan bagaimana aktivitas bermain game dapat mempengaruhi tingkat fokus dan relaksasi seseorang. Ia juga menyoroti pentingnya memahami hubungan antara beban kerja fisik dan mental yang muncul selama bermain game, terutama pada jenis permainan yang menuntut konsentrasi tinggi.

Ratih memaparkan bahwa di tengah pesatnya perkembangan digitalisasi, game tidak selalu berdampak negatif seperti stigma yang sering melekat. Ia menilai game mampu melatih kemampuan otak dalam pemecahan masalah dan pengelolaan stres, selama dilakukan secara seimbang. Ia menambahkan bahwa durasi bermain, postur tubuh, serta intensitas permainan menjadi faktor penting yang mempengaruhi kesehatan fisik maupun mental pemain. “Bermain game bisa menjadi cara untuk fokus sekaligus relaks, asalkan kita tahu batas dan tetap menjaga keseimbangan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ratih menguraikan hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa pemain game kompetitif seperti Valorant atau Dota menghadapi beban kerja mental tinggi karena tuntutan performa dan konsentrasi intens. Sebaliknya, game kasual lebih memberikan efek relaksasi meskipun tetap menuntut perhatian tertentu. Dari sisi fisiologis, aktivitas gaming dapat menjaga keseimbangan gelombang otak dalam batas wajar jika pemain mengatur durasi dan intensitas dengan baik. Ratih turut mengingatkan pentingnya melakukan micro break setiap 15–20 menit serta menerapkan prinsip ergonomi dalam pengaturan tempat duduk, pencahayaan, dan penggunaan perangkat.

Diskusi Interaktif dengan Peserta

Dalam sesi tanya jawab, peserta berdiskusi tentang durasi istirahat ideal saat bermain game dan penggunaan alat bantu seperti back support. Ratih menjelaskan bahwa alat bantu dapat membantu posisi duduk, tetapi tidak menggantikan kebutuhan tubuh untuk bergerak dan melakukan peregangan ringan. Ia menegaskan bahwa tubuh memiliki batas adaptasi terhadap posisi statis, sehingga gerakan dinamis seperti peregangan dan berjalan singkat sangat dibutuhkan.

Ajakan Bermain Game Secara Bijak

Sebagai penutup, Ratih mengajak peserta untuk bermain game secara bijak, tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai sarana menjaga keseimbangan fisik dan mental. Ia menekankan bahwa game dapat meningkatkan fokus dan membantu relaksasi jika dilakukan dengan kesadaran diri dan pengaturan waktu yang tepat.

“Video game bisa menjadi sarana positif bila dimainkan dengan cerdas, tidak berlebihan, dan tetap menjaga kesehatan tubuh.”

Kegiatan kemudian diakhiri dengan pengisian presensi serta penutupan oleh MC.

Albin M Wiryawan

Alumni TI berfoto bersama dalam malam puncak Reuni Akbar

Yogyakarta, June 26–28, 2025 — The Industrial Engineering Alumni Association (IKATI) of the Islamic University of Indonesia (UII) is once again holding the 2025 UII Industrial Engineering Grand Reunion with the theme “From Us (Alumni) for Us (Alumni and Students)”. The three-day event, held at the K.H. Mas Mansur Building, Faculty of Industrial Technology (FTI) UII, serves as a gathering for alumni, students, and the academic community of UII Industrial Engineering across generations.

IKATI, established in 2000, was pioneered by Muhammad Syaifudin Zuhry (class of 1982) along with fellow UII Industrial Engineering alumni from various regions. Since its inception, IKATI has been actively strengthening its network through professional forums, social activities, and intergenerational collaboration.

Day One: Alumni Talk Show and Graduation Briefing

Pemaparan narasumber sesi pertama Talkshow

The first day consisted of a talk show and graduation briefing featuring alumni from various batches as guest speakers. This activity was divided into two sessions.

The first session carried the theme “Career Opportunities: Take Off & Landing in Conquering Opportunities in the Industry 5.0 Era” with guest speaker Ir. Ilham Bashirudin, S.T., IPM. (alumnus of the class of 2003) presenting a paper titled “The Need for Now: Thriving in a Human Tech Workplace,” together with Aditya Cahya Ramdani, S.T. (alumnus of the class of 2013).

The second session, themed “Successful Work: Young People at Work,” featured Galih Febianto, S.T. (class of 2008) and Akbar Daffa Raharja, S.T. (class of 2017) as speakers. In closing the session, Akbar passionately advised,

“Take the risk, because the idea you postpone today might be taken by someone else tomorrow.”

The first day’s activities concluded at 12:00 PM with the presentation of souvenirs.

Day Two: Campus Nostalgia and Pilgrimage

The second day, Friday (6/27), was filled with the Journey Through the Lab activity, where UII Industrial Engineering alumni explored the campus laboratories, which are now more modern and representative.

Then, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN.Eng., Dean of FTI and alumnus, expressed his hope that alumni meetings would be held regularly. He emphasized that alumni are important assets who can help develop study programs, share experiences, and open up job opportunities for students.

“Many of our alumni have become entrepreneurs or founded companies, so this network is very valuable,” he said.

Next, alumni and lecturers walked to Embung Pelangi to visit the graves of campus heroes. Joint prayers, flower offerings, and water sprinkling became symbols of respect. The orange evening sky added to the solemn atmosphere, leaving a deep impression and strengthening solidarity across generations.

Day Three: IKATI Meeting and Reunion Gala Night

The final day marked the culmination of the entire IKATI 2025 Grand Reunion event series. In the morning, the IKATI National Meeting was held at the K.H. Mas Mansur Auditorium, discussing plans for future work programs and alumni collaboration.

In the evening, activities continued with a lively Reunion Gala Dinner along Jl. Islamika. Each Industrial Engineering laboratory opened exhibition booths, showcasing student work and documentation of activities. The main stage featured various entertainment performances by alumni and students, creating a warm and nostalgic atmosphere. Then, the Chairman of IKATI, Ir. Ilham Bashirudin, S.T., IPM., expressed his gratitude for the success of the event.

“Alhamdulillah, this Grand Reunion series went smoothly. This is a remarkable moment because alumni from S1, S2, to S3 can gather and share the same vision to advance the Industrial Engineering department,” he said.

He emphasized that alumni play a vital role in strengthening the connection between academia and the professional world. He hopes that young alumni will become more active in IKATI activities. According to him, IKATI is a platform for all alumni to participate, help, and share information, including job opportunities. In the future, activities such as seminars and job fairs are expected to be held regularly to strengthen networking and collaboration among alumni.

The atmosphere became even more lively when Muhammad Syaifudin Zuhry, S.T., one of the senior alumni, was present to enjoy the performances. He considered this reunion event to be very memorable and inspiring.

“Overall, this event was excellent, very good, creative, and touching. Moments like this are extraordinary and must continue,” he said.

He also gave a message to students to continue completing their studies and carry on the spirit of previous alumni.

Closing

After the entire series of events ended, Digdoyo Oktapriandi, S.T, M.T, CIPM, as the chairperson of the 2025 Grand Reunion, expressed his pride in the solidarity of the committee and all participants. He hoped that young alumni would become more active in IKATI.

“IKATI is a forum for all of us. Let’s be active, help each other, and share information, including job opportunities. In the future, we want to continue holding activities such as seminars and job fairs,” he said.

In closing, the 2025 IKATI Grand Reunion became a strong symbol of togetherness and cross-generational collaboration. Through the spirit of “From Us for Us,” UII Industrial Engineering alumni demonstrated their commitment to continue contributing to the development of science, professional networks, and the value of togetherness in their beloved alma mater.

Rani Novalentina

Alumni TI berfoto bersama dalam malam puncak Reuni Akbar

Yogyakarta, 26–28 Juni 2025 — Ikatan Alumni Teknik Industri (IKATI), Universitas Islam Indonesia (UII), kembali menggelar Reuni Akbar Teknik Industri UII 2025 bertema “Dari Kita (Alumni) untuk Kita (Alumni dan Mahasiswa)”. Kegiatan tiga hari yang berlangsung di Gedung K.H. Mas Mansur, Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII, menjadi ajang silaturahmi lintas generasi antara alumni, mahasiswa, dan civitas akademika Teknik Industri UII.

IKATI yang berdiri sejak tahun 2000 dipelopori oleh Muhammad Syaifudin Zuhry (angkatan 1982) bersama rekan-rekan alumni Teknik Industri UII dari berbagai daerah. Sejak awal, IKATI aktif mempererat jaringan melalui forum profesional, kegiatan sosial, dan kolaborasi antar generasi.

Hari Pertama: Talkshow Alumni dan Pembekalan Wisuda

Rangkaian hari pertama merupakan talkshow dan pembekalan wisuda yang menghadirkan alumni lintas angkatan sebagai narasumber. Kegiatan ini terbagi menjadi dua sesi.

Sesi pertama mengusung tema “Peluang Karir: Take Off & Landing dalam Menaklukkan Peluang di Era Industri 5.0” dengan narasumber Ir. Ilham Bashirudin, S.T., IPM. (alumni angkatan 2003) yang membawakan materi berjudul “The Need for Now: Thriving in a Human Tech Workplace”, bersama Aditya Cahya Ramdani, S.T. (alumni angkatan 2013).

Sesi kedua bertema “Sukses Berkarya: Yang Muda untuk Berkarya” menghadirkan Galih Febianto, S.T. (alumni angkatan 2008) dan Akbar Daffa Raharja, S.T. (alumni angkatan 2017) sebagai narasumber. Dalam penutup sesi, Akbar berpesan dengan penuh semangat, 

Take the risk, karena bisa jadi ide yang kamu tunda, besok sudah diambil orang lain.”

Rangkaian kegiatan hari pertama berakhir pada pukul 12.00 WIB dengan penyerahan cinderamata.

Hari Kedua: Nostalgia Kampus dan Ziarah

Hari kedua, Jumat (27/6), diisi dengan kegiatan Journey Through the Lab, di mana alumni Teknik Industri UII menjelajahi laboratorium kampus yang kini lebih modern dan representatif.

Kemudian, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN.Eng., Dekan FTI sekaligus alumni, menyampaikan harapan agar rutin menggelar pertemuan alumni. Ia menekankan bahwa alumni adalah aset penting yang dapat membantu pengembangan program studi, berbagi pengalaman, dan membuka peluang kerja bagi mahasiswa. 

“Banyak alumni kita yang sudah menjadi pengusaha atau mendirikan perusahaan, sehingga jaringan ini sangat bernilai,” ujarnya.

Selanjutnya, alumni dan dosen berjalan menuju Embung Pelangi untuk ziarah makam pahlawan kampus. Doa bersama, tabur bunga, dan siraman air menjadi simbol penghormatan. Langit sore yang jingga menambah khidmat suasana, meninggalkan kesan mendalam sekaligus memperkuat solidaritas lintas generasi.

Hari Ketiga: Rapat IKATI dan Malam Puncak Reuni

Hari terakhir menjadi puncak dari seluruh rangkaian acara Reuni Akbar IKATI 2025. Pagi harinya, berlangsung Rapat IKATI Nasional di Auditorium K.H. Mas Mansur yang membahas rencana program kerja dan arah kolaborasi alumni ke depan.

Malam harinya, kegiatan berlanjut dengan Gala Dinner Reuni yang berlangsung meriah di sepanjang Jl. Islamika. Setiap laboratorium Teknik Industri membuka stand pameran, menampilkan karya dan dokumentasi kegiatan mahasiswa. Panggung utama menampilkan berbagai hiburan dari alumni dan mahasiswa, menciptakan suasana hangat dan penuh nostalgia.

Kemudian, Ketua IKATI, Ir. Ilham Bashirudin, S.T., IPM., mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan penyelenggaraan acara. 

“Alhamdulillah, rangkaian Reuni Akbar ini berjalan lancar. Ini menjadi momentum luar biasa karena alumni S1, S2, hingga S3 bisa bersilaturahmi dan punya visi yang sama untuk memajukan jurusan Teknik Industri,” ujarnya. 

Ia menekankan bahwa peran alumni sangat penting dalam memperkuat koneksi antara dunia akademik dan dunia kerja. Harapannya, para alumni muda semakin aktif dalam kegiatan IKATI. Menurutnya, IKATI merupakan wadah bagi seluruh alumni untuk saling berpartisipasi, membantu, dan berbagi informasi, termasuk peluang kerja. Ke depan, kegiatan seperti seminar dan job fair diharapkan terus digelar secara rutin untuk memperkuat jaringan dan kolaborasi antar alumni.

Suasana semakin semarak ketika Muhammad Syaifudin Zuhry, S.T, salah satu alumni senior, turut hadir menikmati penampilan pentas. Ia menilai acara reuni kali ini sangat berkesan dan inspiratif. 

“Secara keseluruhan acara ini ekselen, sangat bagus, kreatif, dan menyentuh. Momentum seperti ini luar biasa dan harus berlanjut,” tuturnya. 

Ia juga memberi pesan kepada mahasiswa untuk terus menyelesaikan studi dan meneruskan semangat alumni sebelumnya.

Penutup

Setelah seluruh rangkaian acara berakhir, Digdoyo Oktapriandi, S.T, M.T, CIPM, selaku ketua pelaksana Reuni Akbar 2025, menyampaikan rasa bangga atas kekompakan panitia dan seluruh peserta. Ia berharap para alumni muda semakin aktif di IKATI.

“IKATI ini wadah kita semua. Ayo aktif, saling membantu, dan berbagi informasi, termasuk peluang kerja. Ke depan kami ingin terus mengadakan kegiatan seperti seminar dan job fair,” ujarnya.

Sebagai penutup, Reuni Akbar IKATI 2025 menjadi simbol kuat kebersamaan dan kolaborasi lintas generasi. Melalui semangat “Dari Kita untuk Kita”, alumni Teknik Industri UII menunjukkan komitmen untuk terus berkontribusi dalam pengembangan keilmuan, jaringan profesional, dan nilai kebersamaan di lingkungan almamater tercinta.

Rani Novalentina

On Friday (June 13), the Industrial Engineering Study Program, Faculty of Industrial Technology (FIT), Universitas Islam Indonesia (UII) held a monthly national webinar titled “Adapting Ergonomics and Occupational Safety and Health (OSH) in Modern Digital-Based Work Systems.” The event aimed to highlight the importance of ergonomics and occupational safety and health (OSH). The objective is to address the significant changes brought about by the 4th Industrial Revolution and Society 5.0.

Syawarani Gayatri, as the Master of Ceremony, welcomed participants at 9:30 AM WIB via online platform. Distian Pingkan Lumi, an Industrial Engineering student at UII, facilitated the session and subsequent discussions.

Experience of the Speaker

This webinar featured speaker Atyanti Dyah Prabaswari, S.T., M.Sc. She is a lecturer in the Industrial Engineering program specializing in Ergonomics and Human Factor Engineering. Given her expertise, the webinar topic on Occupational Safety and Health is highly relevant for her to present.

With her exceptional experience, Atyanti completed her undergraduate and master’s degrees in the Industrial Engineering Program at Gadjah Mada University. From 2018 to 2022, she served as Head of the Work System Design and Ergonomics Laboratory (DSK&E). Additionally, since 2019 until now, she has been entrusted as the Executive Editor of the Journal of Appropriate Technology for Community Services.

Furthermore, Atyanti Dyah Prabaswari, S.T., M.Sc., explained that Industry 5.0 does not only focus on technology but also places humans at the center of attention.

“We cannot avoid technological advancements. The challenge is not about the loss of jobs but how we master technology to create new, more meaningful, and safer jobs,” she stated.

She presented various case studies of workplace accidents in Indonesia caused by weak implementation of occupational safety and health (OSH) culture. She then provided examples of cases in Morowali and the cargo port as concrete illustrations of weak workplace safety systems. According to her, to reduce accident rates, it is necessary to design integrated AI, IoT, and automation systems ergonomically.

Q&A Session

The session then moved into an interactive discussion. One participant expressed concerns about the “illusion of control”—a condition where humans become overly reliant on technology, potentially reducing vigilance and leading to accidents. In response, Atyanti emphasized the importance of continuous improvement and management reviews within every organization.

“We must ensure that technological systems are consistently evaluated and improved through regular management reviews,” she stressed.

At the end of the session, Atyanti highlighted the importance of enhancing human resource capacity through higher education that is adaptive to technology. She encouraged participants not only to be users of technology but also creators of solutions through data analysis and improved human-computer interaction design.

In conclusion, adaptation to technology must occur without eliminating the human role, but by shifting the focus of work from operational to managerial tasks. With high participant enthusiasm, the organizing committee announced that the next webinar will be held in July 2025, featuring other expert speakers from the field of management science.

Rani Novalentina