Peduli Pendidikan Disabilitas, Mahasiswa UII Kembangkan Permainan Edukatif

Pendidikan bagi anak-anak penyandang disabilitas merupakan salah satu isu menarik yang terus mengemuka di dunia pendidikan tanah air. Dalam dunia pendidikan, dikenal istilah anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk menggambarkan anak-anak yang memiliki kebutuhan berbeda dari anak-anak lainnya dalam menyerap materi pelajaran di sekolah. Salah satu kategori ABK adalah penyandang disabilitas tuna rungu. Mereka seringkali menghadapi kendala dalam menangkap informasi verbal dalam bahasa wicara atau bunyi-bunyi lainnya.

Oleh karenanya, metode pendidikan bagi mereka pun lebih ditekankan untuk mendongkrak kemampuan saraf motorik dan sensorik sehingga dapat mengurangi hambatan tersebut. Melihat kondisi tersebut, sekelompok mahasiswa UII merasa tergerak untuk turut berkontribusi mengembangkan media pembelajaran yang interaktif dan edukatif bagi anak-anak difabel tuna rungu.

Mereka menggagas pembuatan suatu alat permainan edukatif dengan menggunakan konsep automata toys. Alat permainan yang diberi nama “Tomatoys” ini tidak hanya menyuguhkan keceriaan bermain bagi anak-anak difabel, namun juga menjadi media pembelajaran yang dapat mendorong berkembangnya saraf motorik dan sensorik mereka.

Sebagaimana disampaikan oleh Dian Putri Rahmawati, mahasiswa Teknik Industri UII salah satu pencetus ide pembuatan mainan edukatif tersebut. Ia mengatakan bahwa selama ini mainan edukatif yang mampu menjawab kebutuhan anak difabel tuna rungu variannya masih sangat terbatas.

“Berdasarkan studi lapangan kami ke salah satu lembaga pendidikan disabilitas, mereka mengaku mainan semacam ini belum banyak tersedia. Permainan yang ada cenderung bersifat umum bagi semua anak. Hal ini tentunya menjadi kendala tersendiri bagi guru di tempat tersebut”, ungkapnya. Untuk merealisasikan ide tersebut, ia bekerjasama dengan tiga mahasiswa UII lainnya, yaitu Annisa Riska Anugraheni, Miftahulkhair Adianto, dan Nilla 'Arusyal Khofiqoeni.

Menurut Dian, alat permainan edukatif merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pembelajaran anak tuna rungu di sekolah. Ketersediaan alat permainan tersebut sangat menunjang terselenggaranya pembelajaran anak secara efektif dan menyenangkan sehingga anak-anak dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya secara optimal.

Ditambahkan oleh Miftahulkhair Adianto, rekan setimnya, ketika dioperasikan, Tomatoys mampu menyuguhkan serangkaian gerakan otomatis yang atraktif bagi anak-anak, seperti gerakan berputar dan naik turun. “Cara memainkannya cukup sederhana, anak-anak diminta untuk mencari model mainan dan mencocokkannya dengan gambar di Tomatoys, kemudian dipasangkan di alat permainan tersebut dan diputar”, terangnya.  

Permainan ini memang sengaja dirancang untuk merangsang saraf motorik dan sensorik anak tuna rungu dalam menerima informasi yang disampaikan oleh Tomatoys. Aspek pendidikan dan pembelajaran dimasukkan secara tak langsung lewat gambar atau model di alat permainan yang berisi ilmu pengetahuan, seperti proses metamorfosis kupu-kupu, dsb.

“Anak-anak yang memiliki keterbatasan pendengaran pun dapat menerima informasi mengenai pengetahuan ini yang disampaikan oleh mainan tersebut melalui indera pengelihatan”, jelasnya. Ke depan, mereka masih ingin mengembangkan Tomatoys agar tidak hanya tampil semakin atraktif namun juga mampu menyajikan pengetahuan yang lebih informatif bagi para penggunanya.

Dimuat di Portal UII